
selesai rapat dengan dewan direksi Dinniar teringat bahwa dia harus membeli beberapa barang untuk Devano besok acara cooking fun.
"sayang, Aku harus pergi dulu. aku berjanji pada Devano akan memberikan beberapa bahan untuk acara cooking fun besok."
"aku akan membereskan dulu di sini. baru nanti aku akan menjemputmu. hubungi aku kalau kamu sudah selesai berbelanja." Jonathan mengizinkan Dinniar untuk pergi karena memang hari ini belum waktunya Dinniar mulai bekerja.
"Aku pergi dulu. nanti aku hubungi." Dinniar melambaikan tangannya.
Dinniar berlari hingga sampai ke parkiran mobil. dia menyetir mobilnya sendiri. karena memang hari ini dia baru hari resmi menjadi seorang manajer promosi. jadi dia belum ada tugas atau pekerjaannya yang harus di handle olehnya.
Dinniar sampai di sebuah mall tak jauh dari hotel milik keluarga suaminya. mencari toko yang menjual bahan masakan mentah di dalam mall.
Dinniar mengambil beberapa bahan masakan seperti, bayam, ikan fillet, bawang bombay, bawang merah, bawang putih dan sampai ke bumbu dapur lainnya serta beberapa bahan lauk serta sayuran.
"semuanya sudah aku beli, sekarang aku tinggal membayarnya."
Dinniar pergi menuju ke kasir untuk membayar beberapa bahan makanan yang telah ia kumpulkan. Kasir lalu menghitung jumlah belanjaan.
"totalnya 400.000." ujar seorang kasir sambil memberikan struk kepada Dinniar.
setelah membayar belanjaannya. Dia langsung keluar dari toko dan dia berencana untuk membeli beberapa kopi untuk staf yang akan bekerja dengannya.
Ketika dia memesan kopi. Dinniar bertemu dengan Evelin yang juga masuk ke dalam toko kopi.
"Kamu di sini juga?" sapa Evelin.
"Ya. Aku membeli beberapa kopi untuk tim promosi." Dinniar menjawab pertanyaan Evelin.
Setelah dia menjawabnya. Dinniar mendengar telepon genggamnya berdering.
"Halo sayang." Dinniar mengangkat telepon dan sedikit menjauh dari Evelin.
"aku sudah selesai berbelanja. Aku juga membelikan kopi sebagai tanda perkenalan kepada tim promosi." Dinniar bicara sambil tersenyum.
"Baiklah, aku akan menunggumu. I love you." ucap Dinniar diakhir pembicaraan.
Evelin mendengar samar-samar percakapan Dinniar ditelepon. Namun, dia mendengar jelas ucapan terakhir wanita yang menjadi istri mantan pacarnya. Evelin lalu menyunggingkan senyuman.
"Hai. Evelin. maaf menunggu lama. Dinniar kamu juga ada di sini?" tanya Selvia ketika Dinniar berbalik badan.
"Selvia. oh ini. Aku sedang beli kopi." Dinniar menatap keheranan.
Selvia datang dan Dinniar terkejut sahabatnya juga mengenal Evelin. Mereka bertiga akhirnya duduk bersama. Dinniar masih diam tidak banyak bertanya. Dia yakin sahabatnya akan menjelaskan bagaimana dia bisa mengenal sosok Evelin.
"Selvia sudah menceritakan semuanya kepadaku Dinniar. Aku benar-benar tidak tahu kalau kalian ternyata kalian benar-benar saling mencintai dan bahkan hal itu diperkuat dengan bagaimana caramu serta Jonathan tadi saling berbicara di telepon." ujar Evelyn.
"maafkan Aku dan suamiku memang selalu bicara seperti itu setiap kami mengakhiri pembicaraan." ucap Dinniar sampai tertunduk malu.
"sekarang kamu sudah percaya bukan Evelyn. bahwa Dinniar dan juga Jonathan memang benar-benar saling mencintai. kamu benar-benar sudah diperdaya oleh Melinda dan juga manajer sendiri."
"Melinda apa maksudnya?" Dinniar bertanya sambil mengurutkan dahinya karena perkataan Selvia barusan.
"ternyata Melinda dan juga manajer dari Evelyn mengatakan bahwa hubunganmu dan Jonathan adalah sebuah kepura-puraan saja. Jonathan menikahimu karena rasa kasihannya kepadamu. Namun, pada kenyataannya Jonatan benar-benar mencintaimu. Melinda sepertinya ini sengaja menghasut dan mempengaruhi Evelyn seperti dia mempengaruhi Alesya beberapa waktu lalu." sungut Silvia yang geram dengan sikap Melinda jika mengingatnya.
"dia benar-benar tidak tahu malu. dia hampir saja merusak hubunganku dengan anakku dan sekarang dia berusaha untuk menghancurkan hubunganku dengan Jonathan melalui Evelyn. ini tidak bisa diamkan saja. aku harus bertindak tegas kepada Melinda."
"aku juga tidak tahu kenapa dia bisa seperti itu kepadaku. terlebih lagi aku sudah cukup mempercayainya, karena dia memang terlihat seperti orang yang tulus baik kepadaku." pikir Evelyn.
"sebenarnya aku tahu alasan mengapa dia berusaha mengacaukan hubunganku melaluimu Evelyn. karena sebenarnya Melinda menyukai Jonathan. sayangnya Jonathan tidak pernah sekalipun meliriknya dan hanya menganggapnya sebagai saudara sepupu saja." terang Dinniar
"aku baru tahu itu sekarang. dulu sejak aku berpacaran dengan Jonathan kami sering berpapasan, bahkan kami beberapa kali berbicara bersama maka dari itu aku juga tidak pernah mencurigainya sebagaimana sebagai wanita."
Evelin memang cukup akrab dengan Melinda sejak dia menjalin kasih dengan Jonathan. Tak pernah dia curiga dengan sikap Melinda yang terkadang suka ikut pergi dengannya atau dekedang numpang ikut ke depan saat mereka akan pergi berpacaran.
"dia memang benar-benar pandai sekali membuat suasana menjadi nyaman untuk orang lain. sedangkan dia menikam di belakang. kamu harus hati-hati karena jangan sampai terperangkap dan jangan sampai kamu kembali diperdaya olehnya. Dia adalah wanita licik. sampaikan kepada managermu untuk tidak mudah di hasut lagi. Oh, ya. Kamu juga berpura-purlah tidak tahu kalau dia sedang memanfaatkan mu." Pinta Selvia.
"Aku tidak tahu apakah bisa seperti itu tapi jujur aku sebenarnya sangat senang ketika tahu hubungan pernikahan kalian hanyalah kepura-puraan saja. Aku benar-benar ingin kembali mendekati Jonathan dan berharap dia mau menerimaku, tapi ternyata aku salah. hubungan kalian bahkan sangat dalam." Evelin berkata sambil beberapa buliran air mata terjatuh membasahi pipinya.
"Suatu hari nanti akan ada seorang pria yang mencintaimu dengan tulus. aku yakin orang itu sedang dipersiapkan oleh Tuhan untuk mu." Dinniar menggenggam tangan Evelyn agar wanita yang pernah mengisi kehidupan suaminya tidak menangis lagi.
Evelyn mengetahui bahwa ternyata hubungan Jonathan dengan istrinya tidak bisa dirusak begitu saja. mereka berdua saling mencintai bahkan saling melindungi. Dia benar-benar tidak bisa menahan air mata yang berjatuhan. hatinya seperti remuk dan hancur menerima kenyataan bahwa ia tidak akan pernah bisa lagi hadir di dalam kehidupan Jonathan sebagai orang yang dicintai dan disayangi.
"aku akan mengantarmu pulang. jangan menangis lagi. jika kau butuh teman untuk bicara kamu bisa menghubungi aku." Selvia menawarkan diri untuk mengantar Evelin pulang.
"tidak usah Selvia. aku bisa pulang dengan taksi online. terima kasih sudah menyadarkan aku bahwa, aku tidak bisa lagi bersama dengan Jonathan. aku juga memohon kepadamu Dinniar jagalah Jonathan dan mencintainya sampai kapan pun." pinta Evelin dengan menggenggam balik tangan Dinniar.
"aku pamit dulu. sekali lagi terima kasih dan berbahagialah." Evelin mengambil tasnya dan dia berpisah dengan Dinniar serta Selvia.
Dinniar dan Selvia lalu berpelukan. "Terima kasih banyak Selvia. bagaimana jadinya kalau kamu bukanlah teman dari Evelyn. Mungkin dia tetap berpikir kalau Jonathan masih mencintainya."
"aku juga awalnya tidak tahu kalau Evelyn mencintai pria bernama Nathan dan itu adalah Jonathan. aku baru mengetahuinya tadi malam saat bertemu dengan manajer pribadinya. aku benar-benar terkejut Dinniar ketika manajernya bilang dan menunjuk hotel milik keluarga Jonathan." Selvia menghela napas.
"kau tahu jantungku hampir copot. ternyata kenalanku mencintai suami sahabatku."