
Dinniar dan Darius kembali ke aktivitas mereka masing-masing.
Dinniar yang biasanya mengendarai motor pergi ke sekolah. Hari ini dia membawa mobil miliknya. Dinniar juga membawa peralatan yang dia perlukan hari ini.
"Selamat pagi. Bu Dinniar," sapa penjaga sekolah.
"Pagi, Pak." Dinniar kemudian kembali menapaki jalan menuju ruang kepala sekolah.
Beberapa guru melihat ada perubahan pada kepala sekolah mereka.
"Bu Dinniar tumben bawa mobil ke sekolah," bisik salah satu guru.
"Mungkin lagi kepengen atau setelah pulang kerja, dia mau ada urusan sehingga butuh mobil."
Mereka mulai menduga-duga apa yang sedang terjadi.
Manusia memang sering kali ingin tahu urusan orang lain. Bahkan mereka rela tidak beranjak dari tempatnya hanya untuk bergosip ria.
Dinniar masuk ke dalam ruangannya dan mengerjakan semua pekerjaannya dengan cepat.
Dinniar memiliki rencananya sendiri hari ini. Dia akan membuat seseorang menyadari kesalahannya.
.
.
Darius juga kembali ke kantornya, dia hari ini harus memeriksa semua catatan keuangan dan beberapa penawaran yang masuk. Setiap model yang bekerjasama dengannya akan mendapatkan bagian 70% dari penghasilan mereka, sisanya untuk biaya operasional kantor dan masuk ke dalam kantong Darius sendiri.
Darius sendiri bisa meraup keuntungan milyaran setiap bulannya yang masuk ke dalam kantongnya sendiri. Banyak model sukses yang bekerjasama dengannya sekarang.
"Untuk jadwal Cornelia sudah kamu atur ulang kembali, dia akan menjadi Branch Ambassador dari perusahaan Lancer Group," papar seorang pria yang menjadi asistennya.
"Kamu atur saja semuanya. Kirimkan jadwal Cornelia yang kosong juga kepadaku." Darius kembali berkutat dengan beberapa dokumen penting.
Darius ingin menyelesaikan semua pekerjaannya dengan cepat, dia sudah berjanji akan melihat pemotretan Cornelia hari ini yang di kantor.
.
.
Adrian masuk ke dalam ruang kerja Dinniar, dia melihat sahabatnya tengah sibuk dengan pekerjaannya.
"Ada masalah?" tanya Adrian yang membuat kaget Dinniar.
"Hei, ah tidak ada masalah. Aku hanya sedang merapihkan beberapa file saja." Dinniar menatap Adrian.
Dinniar sudah mengerti kenapa sahabatnya itu menemui dirinya saat ini.
"Kamu ...,"
"Aku tidak ada masalah apapun. Tenanglah, aku bisa menjaga diriku." Dinniar langsung memotong perkataan sahabatnya.
Adrian memang ingin menanyakan tentang Dinniar yang murung beberapa hari lalu di saat mereka makan malam bersama.
"Syukurlah. Jika ada sesuatu yang bisa aku bantu, bicaralah. Kamu punya teman bicara yang super keren." Adrian bergaya.
Dinniar terkekeh saat melihat tingkah sahabatnya dan mendengar perkataannya yang berusaha menghibur dirinya.
"Kamu memang yang paling ganteng diantara kita berempat." Celetuk Dinniar sambil terkekeh.
"Jelas, hanya aku cowok diantara kalian para wanita rusuh." Adrian tersenyum.
"Hah ... Rasanya persahabatan kita baru terjalin kemarin, tapi ternyata sudah sangat lama. Sudah sepuluh tahun. Dan rasanya kita masih dalam suasana yang sama," kata Dinniar.
"Ya, diantara kita berempat yang berubah kehidupannya cuma kamu dan violin." Adrian menyenderkan tubuhnya di bahu kursi.
"Berubah? Apanya?" tanya Dinniar.
"Berubah, menjadi wonder woman dalam rumah tangga kalian." Adrian tertawa lagi.
Dinniar menggelengkan kepalanya, sahabatnya ini selalu bisa membuatnya tertawa dikala hatinya sulit meski Dinniar jarang bercerita.
"Kamu masih ajah kayak dulu. Bisa banget menghibur, dan selalu tahun kondisi orang meski enggak cerita," ucap Dinniar.
"Mungkin di kehidupan terdahulu, aku mantan cenayang." Celetuknya lagi.
Dinniar kali ini benar-benar tak bisa menahan tawanya, dia tertawa lepas mendengar celotehan Adrian.
"Tumben bawa mobil. Mau kemana?" tanya Adrian yang menjadi pria kepo hari ini.
"Mau ke kantor suami. Ada urusan sedikit di sana." Jelas Dinniar.
"Kunjungan atau sidak?" tanya Adrian yang kembali membuat Dinniar tertawa.
"Sidak? Apaan sih? Ngaco deh. Ini cuma main ajah, sekalian bawain makan siang buat dia. Lagi sibuk banget soalnya kerjaannya." Dinniar tersenyum tapi dipaksakan.
Adrian melihat ekspresi itu, ekspresi wajah dan pandangan yang kosong meski membicarakan suaminya.
"Biasanya saat ada pembicaraan yang menyebutkan nama Darius, kamu selalu terlihat berbinar. Hari ini rasanya tidak terlihat sedikitpun, yang ada hanya pandangan kosong dan rasa tidak percaya diri. Ada denganmu?" Adrian terus melihat ke arah Dinniar.
Menyadari sahabatnya memperhatikan dirinya. Dinniar langsung menyentuh wajahnya.
"Kenapa kamu melihatku begitu? Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Dinniar.
"Tentu ada sesuatu di wajahmu, mata, hidung, alis, mulut." Adrian kembali bercanda.
Dering bel sekolah telah usai terdengar, salah seorang guru masuk ke dalam ruangan kerja kepala sekolah.
"Bu, sudah waktunya pulang. Kami para guru izin pamit pulang lebih dulu." Izin salah satu guru.
Dinniar juga segera bersiap.
"Aku harus pergi juga. Nanti kapan-kapan kita ngobrol lagi. Oh ya, kamu masih punya hutang cerita tentang wanita yang kamu sukai." Dinniar menutup tasnya dan beranjak dari tempatnya.
Adrian yang melihat Dinniar semakin menjauh terus memandangi punggung sahabatnya.
"Wanita yang ingin aku ceritakan, baru saja pergi meninggalkan ku sendiri di sini," gumamnya sambil bangkit dari duduknya.
Entah sejak kapan dirinya menyukai sosok Dinniar, yang jelas Adrian selalu menyembunyikan perasaan itu sehingga tidak terlihat sedikitpun.
.
.
Dinniar berkendara menuju kantor suaminya, dia tidak mau terlambat.
"Aku harus lebih cepat." Dinniar meningkatkan laju mobilnya.
Setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan yang lancar, akhirnya Dinniar sampai di kantor yang tidak terlalu besar milik suaminya.
"Ada Pak Darius?" tanya Dinniar kepada resepsionis.
"Ada Bu, beliau sedang melihat proses syuting iklan di ruang sebelah sana." Tunjuk wanita muda itu.
Dinniar langsung berjalan kearah jalan yang tadi di tunjukkan. Cara jalan Dinniar sungguh elegan, suara hentakan sepatunya seakan beirama. Semangat membara bersemayam di tubuhnya.
Dinniar masuk ke dalam ruangan itu, dia melihat suaminya sedang bermain mata dengan seorang model yang saat dibandung dia lihat juga.
"Mas." Dinniar menghampiri.
"Sa-sayang." Kaget Darius.
"Kenapa Mas kaget?" tanya Dinniar sambil mengulas senyuman penuh makna.
"Enggak, hanya saja aku sedikit terkejut. Biasanya kan kamu kalau kesini lagi ada acara ajah," pungkasnya.
"Hem ... Kamu benar juga, sepertinya aku harus sering-sering kemari setelah pulang kerja. Biar bisa kasih semangat terus sama kamu. Oh ya aku bawain makan siang. Kita makan siang bareng ya." Dinniar memperlihatkan kantong yang dibawanya.
Melihat kekasihnya bicara dengan istri sah, Cornelia merasa dadanya panas.
"Kenapa dia di sini?" gumam Cornelia.
"Siapa wanita itu?" tanya manager Cornelia.
"Istrinya Mas Darius. Ngeselin banget sih dia, ngapain juga pake dateng ke kantor dan sok mesra gitu sama Mas Darius." Kesal Cornelia.
Terlihat jelas, sangat jelas kalau kecemburuan kini menguasai Cornelia.
"Sudah jangan marah, minum dulu airnya."
Cornelia meneguk air minumnya tanpa melepas pandangannya kepada dua sosok yang sedang pamer kemesraan.