Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
BAB 2



Silla meletakan buku - buku tebal di meja depan kelasnya. Ia menghembuskan poninya kesal. Tangannya bersedekap ke depan, ia begitu kesal sekarang. Lalu wanita itu berjalan ke kursinya. Sementara Dimas disamping nya tertawa terbahak - bahak.


Silla yang sedang kesal memukul kepala Dimas.


Pletak!


"Diem lo!"


"Aww, santai dong!" Dimas mengelus kepalanya yang dipukul Silla.


"Ini semua gara - gara lo!"


Dimas mengerutkan alisnya menahan ketawa.


"Pftt.. hahahaa kenapa jadi gue?"


"Kalau lo nggak bikin gue kesel, gue nggak akan dihukum dosen sialan itu!" Wanita itu menunjuk wajah Dimas.


"Iyaa iyaa, gue yang salah. Gue minta maaf."


Silla memalingkan muka kesamping. Dimas yang melihatnya menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.


"Yah malah ngambek. Maafin gue deh kalau gitu."


"Moon maap gue nggak semudah itu lo rayu."


"Gue beliin es krim deh.."


Silla menggelengkan kepalanya angkuh.


"Tambah mie ayam deh."


Silla masih diam tak mau menatap Dimas.


"Dua porsi deh."


"Tiga!" Jawab Silla jutek.


"Buset, lo ngrampok gue?"


"Lo niat nggak sih minta maaf sama gue?!"


"Yaudah iyaa tiga, tapi nyicil yaa besok lagi."


"Nggak, sekarang. SE-KA-RANG!"


"Yaudah ayo."


Silla menatap Dimas dengan berbinar. Mereka langsung menuju kantin kampus.


Silla sudah lebih dahulu duduk. Dimas mengikutinya duduk disamping wanita itu.


"Bu, mie ayam bakso tiga!" Teriak Silla.


"Buset laper apa doyan lo."


"Nggak ikhlas ni?"


"Ikhlas, tapi kasian lambung lo."


"Bacod dah, makan tinggal makan napa."


"Serah lah, dasar nenek lampir!"


"Gue denger ya Dimas Ardiansyah..."


Pesanan mereka datang. Silla langsung mengambil saos dan kecap untuk menambah kan rasa di mie ayam tersebut. Satu suapan membuat ekspresi Silla berubah menjadi memuja. Mie ayam adalah makanan favorit wanita itu. Bahkan dia sanggup menghabiskan 5 porsi sekaligus.


Dimas hanya meminum es teh. Dia sudah kenyang menatap wanita itu makan dengan lahap. Tanpa sadar laki - laki itu tersenyum melihatnya.


"Kalau makan nggak usah bar - bar bisa?"


"Ngghwak." Ucap wanita itu dengan mulut penuh dengan makanan.


Dimas berdecih melihat nya. Sudut bibir wanita itu penuh dengan saos.


"Tuh kotor bibir lo."


"Mana?"


Silla memegang sudut bibir kirinya. Menatap Dimas dengan bingung.


"Bukan."


"Yang mana! Aduh Dimas bikin gue naik darah aja deh."


"Ini."


Dimas mendekat ke arah Silla. Posisi mereka bahkan bisa dikatakan terlalu dekat, hanya berjarak 30cm. Tangan laki - laki itu bergerak menyapu kotoran yang ada dibibir Silla. Pandangan keduanya bertemu, keduanya jatuh dalam pada irish mata masing - masing.


Atmosfer sekeliling nya menjadi berbeda dan canggung. Akhirnya Dimas memutuskan memundurkan wajahnya.


"Ehem, tuh! Makanya kalau makan yang bener. Makan jangan kesetanan kaya gitu."


"Bodo!" Jawab Silla dan melanjutkan makan.


Setelah kenyang, Silla dan Dimas kembali ke kelas. Mood Silla sudah membaik memakan 3 porsi mie ayam yang membuat perut nya tak berdemo lagi.


"Eh, kayak nya lo balik ke kelas dulu deh Dim. Gue ada urusan lain."


"Ngapain?"


"Kemana lagi selain ke ruangan dosen killer itu. Ini semua juga karena lo."


"Yaudah gue balik ke kelas."


"Yoi,"


Silla berbelok kan arah menuju ruangan Louis. Diketuknya pintu kemudian wanita itu langsung masuk begitu saja.


Sayup - sayup mendengar percakapan seseorang. Setelah didengar lebih jelas, itu bukan merupakan percakapan melainkan pertengkaran mengingat intonasinya yang meninggi.


"Kamu harus tanggung jawab Lou. Aku hamil anak kamu!"


"Ini anak kamu.. kenapa kamu tega sama aku?!"


"For your information, saya selalu menggunakan pengaman. Dan jangan terlalu munafik, bukan hanya saya yang menggunakan tubuh kamu!"


"Bi-bisa saja bo-bocor."


Wanita seperti tante - tante itu membantah perkataan dosen menyebalkan itu. Lagi pula tak ada gunanya juga jika dia mendengarkan percakapan tidak penting itu. Akhirnya Silla berbalik badan untuk keluar ruangan.


"Sisillia, berhenti!" Teriakan Louis menghentikan langkah Silla.


"Mati kau Silla!"


Silla meneguk saliva nya dengan susah payah dan dengan berat hati berbalik menghadap mereka. Tatapan wanita dihadapan dosen menyebalkan itu seakan ingin mencakar Silla yang mengganggu percakap mereka.


"Kemari!"


Langkah nya yang berat membuat Silla berjalan ke arah Louis. Setelah berada di satu meter dari Louis, laki - laki itu menarik Silla dan memeluk lengannya. Silla terkejut dan menatap Louis tak suka. Wanita itu menggerakan bahunya sebagai tanda memberontak. Saat ia ingin mengeluarkan suara, tiba - tiba Louis berbisik ditelinganya.


"Ikuti saja."


Silla hendak protes, namun Louis berbisik membuat wanita itu mau tak mau menyetujuinya.


"Saya anggap hukuman hari ini selesai."


"Okei." Dengan malas Silla akhirnya menyetujui drama konyol ini. Sungguh dia tak ingin berada di posisi ini. Namun Tuhan selalu menguji keimanannya.


"Ini adalah tunangan saya Claire." Louis mengatakannya sambil tersenyum.


Sementara Silla yang melihatnya ingin muntah! Garis bawahi, bukan terpesona tetapi ingin muntahhh...


Louis mengeratkan pelukannya, dengan berat hati Silla tersenyum ke arah wanita tua seperti tante - tante itu.


"Saya tunangan dari Pak- eh Louis."


Setelah mengucapkan hal konyol itu, wanita yang bernama Claire itu geram dan menampar pipi Silla.


Plak.


Silla merasakan panas di pipinya. Ia tak menyangka tamparan wanita yang sedang marah sangat lah sakit.


"Dasar jablai. Saya sedang mengandung anak Louis. Seenaknya kamu muncul dengan mengaku tunangannya. Kamu kira saya percaya?!"


Silla yang di panggil 'Jablai' merasa emosi. Dia menggulung jacket denim nya hingga sebatas lutut dan menepis tangan Louis yang berada dibahu nya. Wanita itu meniup kencang poninya dan bersedekap didepan dada.


"Mon maap tante, maksud tante tampar saya apa?"


Silla melotot tajam ke arah Claire. Claire yang dipanggil tante tak terima begitu saja.


"Dasar kurang ajar!"


Claire mencoba menampar Silla sekali lagi, namun Silla menangkap tangan Claire tepat dan memuntir kebelakang. Satu tangan Silla menjambak rambut milik Claire.


"Dikira nggak sakit apa main tampar! Nggak usah macem - macem ya tante! Udah tua mau lawan saya. Cuih!"


Silla meludahi tepat di wajah Claire. Claire menahan sakit ditangan dan rambutnya.


"Dasar jablai lepasin saya!"


Silla melepaskan Claire dengan kasar. Claire merapikan rambutnya yang berantakan karena ulah Silla. Dan pergi begitu saja karena malu.


"Dasar.. lawan gue kalah lo!"


Louis yang melihat nya terkekeh, baru kali ini ada wanita se bar- bar Silla. Biasanya, wanita yang ia temui sangat centil bahkan suka menggoda nya. Namun tidak, Silla begitu menatap dirinya dengan penuh kebencian.


"Ngapain Pak Louis ketawa?!"


"Apa iya saya ketawa?"


"Mata nenek gue aja tau kalau itu ketawa!" Dengan judes nya Silla menjawab.


"Saya tidak merasa tertawa."


"Iya dah suka suka lo, dosen maha benar."


Silla hendak keluar dari ruangan Louis. Namun Louis menghentikannya.


"Saya tunggu besok jam 7 pagi."


"Loh?" Silla mengerutkan alisnya bingung.


"Hukuman kamu masih berjalan."


"Bukannya tadi?"


"Saya membebaskan kamu hanya untuk hari ini saja. Masih ada 30 hari hukuman untuk kamu." Louis tersenyum licik sambil membaca buku tebal miliknya.


"Nggak adil dong!"


"Baiklah, kamu bisa berbicara dengan pengacara saya."


"Eh, kok bapak main laporin aja! Nggak boleh gitu dong.."


"See? Disini sekarang yang nggak bertanggung jawab adalah kamu."


"Iya iya.. bawel."


"Saya dengar.."


"Nggak usah didengerin lah."


"Saya punya dua telinga. Semua masih berfungsi."


"Terserah!"


Silla bodo amat kemudian keluar dari ruangan Louis. Ia kesal bukan main, hari pertama sudah acara tampar - tamparan. Gimana seminggu? Dua minggu? Bisa mati dia..


"I want kill you Pakk!!" Teriak Silla.


Tbc