Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 214 - Kisah anak remaja



Namaku alesya umur ku 14 tahun sebentar lagi aku akan memasuki SMA, tidak mudah bagiku melewati banyak hal yang aku lalui selama masa SMP aku yang lebih suka menyendiri dan tidak suka keramaian karena bagiku sendiri itu sangat damai membuat hati terasa tenang, memang terkadang aku merasa kesepian jika aku terlalu sering untuk memilih sendiri tetapi biarlah ini duniaku ini hidupku dan aku yang menentukan bagaimana seharusnya aku dan biar tuhan yang merancang semuanya dengan baik aku hanya mengikuti alur duniaku saja.


Alesya memang senang sekali di rumah. dia jarang sekali pergi bersama dengan teman-temannya apalagi semenjak kejadian dia di culik oleh Cornelia.


Alesya menjadi lebih sering di rumah lagi. dia yang biasanya pergi untuk belajar kelompok dengan teman-temannya malah sekarang lebih senang di rumah.


Dinniar hari ini pergi bersama keluarganya untuk menginap di sebuah villa di bandung. Alesya ikut kemanapun Dinniar dan Jonathan pergi. anak remaja itu malah sibuk membacakan beberapa buku cerita saat di mobil untuk adiknya tersayang.


"kak, kamu pasti lelah membaca terus sejak kemarin untuk Tasya." ujar Dinniar.


"tidak kok mih. aku malahan sangat suka karena adikku yang satu ini juga sangat suka kalau aku bacakan buku cerita. sekalian aku juga mencari hiburan." balas Alesya.


"biarkan saja sayang. itu salah satu bentuk cinta Alesya kepada adiknya." kata jonathan sambil terus menyetir mobil dengan fokus.


Jonathan beserta keluarganya sampai di sebuah desa dan dia kini pergi ke tempat Bi Imah berada. di Imah tinggal di sebuah desa dan alesya membutuhkan sebuah riset tentang bagaimana cara beternak kambing.


Tasya melihat beberapa orang sedang memberi makan kambing-kambing milik mereka.


"Papa apakah aku boleh ikut dengan kakak melihat seperti apa kandang kambing itu?"tanya tasya kepada Jonathan


"Kamu tanya saja kepada kakakmu boleh tidak kamu ikut."


"tentu saja boleh kok kakak malah akan senang."


"oh iya ini adalah keponakan bibi. namanya Jamal. Jamal ini sering sekali membantu ayahnya mencari rumput untuk kambing mereka. Ayah Jamal memiliki 5 ekor kambing yang sudah agak besar. Ayah Jamal sebenarnya adalah seorang guru sekolah dasar tetapi setiap sore ayah Jamal pasti menyempatkan diri mencari rumput."tutur Bi Imah yang ikut dengan mereka semua ke desanya yang tidak jauh dari Jakarta.


"ayahku memang sangat rajin dengan motornya dia selalu berkeliling kampung untuk mencari makanan bagi hewan ternaknya. aku sebenarnya tidak sering membantu Ayah untuk mencari makanan kambing. tetapi kali ini Ibu dan Ayah mengizinkan aku untuk menemani kalian ke kandang kambing dan mencari rumput untuk mereka makan." jelas sama kepada mereka semua.


mereka semua mencari rumput harus menggunakan motor karena jika menggunakan mobil akan sulit.


Tasya melompat kegirangan ketika kakaknya memberikan izin untuk ikut ke kandang kambing dan mencari rumput. dia sudah tidak sabar lagi. namun sebelum mereka pergi. maminya meminta agar mereka semua memakai helm sebelum berangkat.


"helm untuk melindungi kepala kalian semua. kalian akan diantar oleh suami Bi Imah dan juga oleh papa. kalian di sana jangan nakal dan jangan pernah jauh-jauh dari suami Bi Imah dan juga Papa."nasehat dinniar kepada kedua anaknya.


di perjalanan ayahnya jama bilang kalau sekarang sudah agak sulit mencari rumput untuk peternakan. tempat yang tadinya sumber rumput segar kini sudah berubah menjadi rumah mewah atau gedung perkantoran. jadi kali ini mereka akan pergi jauh untuk mencari sumber rumput baru.


Tasya memeluk pinggang papanya dengan erat. dia tidak ingin terjatuh dari motor karena dia mendengar Minggu lalu ada temannya terjatuh dari boncengan motor ketika melewati jalanan yang berbeda.


apalagi jalanan di desa memang banyak yang rusak sudah pernah diperbaiki tahun lalu tapi kini katanya sudah berubah lagi.


Mereka pun tiba di sebuah lapangan luas suasana yang sepi banyak sekali rumput dan ilalang di sana Ayah Jamal dan juga Jonathan memasukkan rumput-rumput segar itu ke dalam karung goni karung itu sengaja dibawa dari rumah sebagai wadah rumput.


"Ayah pasti kami di rumah senang sekali memakan ini"ujar Jamal kepada ayahnya dan ayahnya langsung mengangguk.


Tasya melihat Jamal dan ayahnya bekerja sangat giat membuat dirinya menjadi tertarik untuk memelihara seekor kambing.


"papa bolehkah aku memelihara kambing di rumah?"ayat Tasya kepada papanya.


"ya sudah kalau begitu kita cari dulu sebanyak-banyaknya rumput untuk persediaan beberapa hari. setelah itu baru kita mencari kambing untuk aku kakak dan Devano pelihara."


Tasya dan Alesya semakin giat mencari rerumputan begitu juga dengan Jamal dia senang mendapatkan teman baru dari kota.


"hati-hati alesya, Tasya. jangan sampai tanganmu terluka ilalang itu tajam."teriak ayahnya Jamal memperingati kedua anak yang berasal dari kota.


Jonathan senang karena ayahnya Jamal memperhatikan kedua putrinya.


"ayah hari ini rumputnya banyak sekali." kata Jamal sambil menyeringai.


"Iya kamu benar Jamal jadi besok ayah bisa beristirahat." ujar Ayah Jamal dengan sangat senang.


"papa nanti aku minta rumputnya sedikit ya." ujar Tasya kepada Jonathan.


"untuk apa sayang?" yang heran.


"untuk mami."


Jonathan dan Alesya terbelalak. "untuk mami?" tanya mereka serentak.


"Mami kan suka makan lalapan Pasti mami senang dibawakan lalapan segar." seru Tasya sambil tertawa.


Jonathan tergelak dan Jamal bengong mendengar temannya dari kota bicara demikian.


"mana bisa rumput dijadikan lalapan kamu ada-ada saja."ujar Jamal sambil tertawa geli.


"Mami memang suka makan sayuran mentah tapi bukan rumput seperti ini Tasya. lalapan itu biasanya berisi mentimun kol kemangi dan selada semua itu berkhasiat untuk kulit dan menyehatkan tubuh juga." jelas Alesya masih sambil tertawa geli karena ucapan adiknya.


"hahaha aku hanya bercanda kakak. tak mungkin aku memberikan Mami rumput. bukannya kambing." Saya tertawa sambil membekap mulutnya dengan tangannya.


mereka semua akhirnya tertawa lepas.


orang pada umumnya memang suka makan lalapan karena berhasil untuk menyehatkan tubuh. balapan juga membuat kulit lebih halus.


setelah mereka semua berhasil membawa banyak rumput. mereka kembali pulang ke rumah BI Imah. Tasya, Alesya dan juga jonathan sangat lelah sekali karena setengah hari mencari rerumputan.


"Bu, ayo makan dulu. ajak yang lain makan juga. tapi makannya hanya sederhana saja." ajak bi Imah.


mereka makan siang bersama dan semakin akrab. begitu juga dengan Tasya, Alesya dan juga Jamal. ketiga anak itu menjadi teman sekarang. meskipun Alesya adalah yang paling tua diantara mereka.


Jonathan dan Dinniar senang sekali mereka bisa memperluas ikatan tali silaturahmi dengan keluarga besar BI Imah. Dinniar dan jonathan akan lebih sering berkunjung ke desa tempat tinggal BI Imah. karena Jonathan berjanji akan membeli hak ketiga anak mereka masing-masing seekor kambing untuk diternak dan di titipkan di tempat saudaranya bi Imah.


BI Imah pun senang mendengarnya. mereka bisa menjadi saudara sekarang bukan hanya BI Imah tetapi juga keluarganya.