
"Terima kasih ya. udah cariin kost buat gue tinggal." Raka berterima kasih kepada sahabatnya.
"Santai ja kali bro. kayak sama siapa jah Lo." Nico menepuk bahu sahabatnya.
"Lo mau bantuin gue sekali lagi kan?" tanya Raka.
"Udah ayok masuk. gue tau mau minta bantuan gue buat bantuin beres-bereskan?" Nico lalu menggandeng sahabatnya itu masuk ke dalam sebuah kost yang cukup sederhana.
Raka satu Minggu lalu meminta sahabatnya untuk mencarikan tempat tinggal. dia sudah muak hidup di rumah besar yang isinya hanya pekerja saja. bukan rumah yang dulu begitu ramai dengan canda tawa keluarganya. dulu bahkan paman dan bibinya sering berkunjung ke sana dengan anak-anaknya yang merupakan sepupu dari Raka.
flashback on
"buka pintunya." seru Raka kepada penjaga keamanan rumahnya.
"baik, tuan muda."
pintu terbuka dan mobil box masuk ke dalam pekarangan rumahnya.
"Tuan muda mau mengganti barang?" tanya asisten kepala rumah tangga.
"Iyah pak pono. sepertinya sudah tidak cocok dengan gayaku. aku sudah memberikan alamat kepada supir box untuk mengirim barang ini ketempat yang sudah aku pilih." jelas Raka tanpa menatap pak pono sang kepala asisten rumah tangga.
Pak pono merupakan orang kepercayaan kedua orang tua Raka. pak pono sudah bekerja dengan keluarga Raka sejak nenek dan kakeknya masih muda.
Sejak hari itu Raka sudah mulai mencicil membawa barang-barang yang diperlukan olehnya. dan setelah barang-barang keluar dari rumah itu. maka pak pono akan mengurus barang-barang baru untuk dipakai oleh Raka.
Flashback off.
"bro Lo emang sohib gue yang paling top banget. gue enggak nyangka ajah sopir bokap Lo bisa juga diajak kerjasama." tutur Raka.
"Udah biasa kali. gue kalo kabur ya ke tempat dia. dia udah kayak kakak ajah buat gue. orangnya baik dan seru ajah kalo diajak ngobrol. wawasan dia luas meski hanya lulusan SMA." cerita Nico.
"Mungkin udah kayak gue sama pak pono ya. dia itu udah kayak kakek gue sendiri ajah. sebenernya liat dia harus terus jadi kepala asisten rumah tangga itu bikin gue ngerasa kasian liat dia. di usia yang udah tidak lagi muda. dia harus mengurus banyak hal. apalagi selama kedua orang tua gue sibuk bolak balik ke luar negeri. semakin banyak tugasnya dia." cerita Raka sambil pikirannya menerawang jauh.
"Eh, Rak. nanti malem kita jadi balapankan? Lo pastiin gank kita menang lagi. karena gua mau mereka semua kapok udah trak-trakan di jalanan." pinta Nico.
"tenang ajah. gua pastiin mereka akan kalah lagi malam ini." Raka bicara dengan penuh keyakinan.
Selama ini Raka selalu menang melawan gank motor. Raka memang anak gank motor, tapi dia cukup sopan sebagai pengendara. banyak hal yang dia dapat pelajari dari hidup langsung turun ke jalan. sejak kedua orang tuanya sibuk. dia mengisi kesepiannya dengan ikut balapan dengan teman-temannya.
Raka yang sibuk dengan beres-beres kostnya sengaja tidak menyalakan ponsel. dia tidak mau ada yang mengganggunya. dia juga yakin kalau orang-orang di rumahnya sudah menyadari kalau dirinya tidak ada di rumah. jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam sudah waktunya makan malam. jadi sudah pasti mereka saat ini sedang mencari Raka.
"Bi kemana tuan muda?" tanya Pak pono.
Bi Sari adalah asisten rumah tangga yang bertugas untuk menyiapkan makan dengan tiga rekan lainnya. di rumah besar milik keluarga Raka banyak sekali pekerja dan memiliki tugasnya masing-masing. pak pono langsung berlari ke depan dan meminta salah satu pekerja untuk melihat rekaman CCTV.
"Kalian amati dengan seksama setiap sudut yang ada cctvnya. setelah itu beri laporan kepada saya." seru pak pono.
Pak pono sangat takut sekali jika sampai anak majikannya hilang. karena memang saat ini sedang tidak baik-baik saja. sejak kepergian nenek Raka. banyak hal yang harus di benahi dan harus diurus segera.
"Kalian dimana saja!" marah pak pono.
"maaf, pak. tadi kami sedang istirahat. kami tidak melihat tuan muda keluar dari pintu pagar depan." seru salah satu penjaga pintu depan.
"Haaah! kalian cepat cari tuan muda Raka. jika kalian tidak segera mendapatkannya. kalian bersiap untuk meninggalkan pekerjaan ini." ancam pak pono dengan raut wajah penuh putus asa.
siapa yang tidak khawatir seorang anak remaja kabur dari rumah dan tidak pernah sekalipun Raka melakukan hal itu. meski pulang larut malam dia akan tetap pulang ke rumah. apapun yang terjadi Raka selalu pulang ke rumah.
"Pak, saya mau memberikan laporan." ujar seorang petugas ruangan CCTV.
dengan cepat pak pono mengikuti langkah petugas ruangan CCTV. dia ingin melihat apa yang tertangkap oleh kamera cctv. dengan perasaan cemas dia masuk ke dalam ruangan itu berharap anak majikannya bukan menjadi korban penculikan.
"Ini pak. tuan muda ternyata lewat pintu gerbang samping. dia pergi dengan ransel gunungnya. sepertinya dia berencana meninggalkan rumah." jelas petugas itu.
"Kalian semua. benar-benar tidak bisa diandalkan!" pak pono merasa sangat marah.
Pak pono langsung keluar dari ruangan dan dia langsung mengumpulkan beberapa anak buahnya.
"Kalian cari setiap tempat yang kemungkinan besar biasa dia kunjungi. dua kali dia puluh empat jam kalian harus segera mendapatkannya. tuan dan nyonya besar akan segera pulang tiga hari lagi. sebelum mereka pulang kalian harus sudah membawanya ke rumah ini." perintah Pono sangat jelas.
Mendapat perintah dari atasannya mereka langsung berpencar sedangkan Pono berusaha terus menghubungi Raka.
.
.
.
"Gua balik dulu ya. nanti malem gua jemput." Nico pulang dari kost Raka.
Raka yang masih punya waktu satu jam untuk meluruskan tubuhnya dia pakai dengan sebaik mungkin untuk waktu itu. dia memejamkan matanya agar bisa memiliki stamina yang cukup untuk bertanding.
Raka benar-benar sudah memutuskan untuk keluar dari rumah milik keluarganya. dia tidak ingin lagi menetap di sana karena akan merasa kesepian.