
Dinniar dan Jonathan menghampiri kedua penculik yang sudah diringkus oleh Jonathan.
Dinniar kini sudah saling bertatapan dengan dua pria yang menculik putrinya.
"Apa benar kalian adalah penculik putriku?" tanya Dinniar.
"benar kami berdua adalah penculik putrimu." Salah satu penculik menjawab pertanyaan Dinniar.
"punya nyali juga kalian untuk mengakui kesalahan kalian!"
Dinniar maju lebih dekat lagi dengan kedua pria tersebut.
"apa dia yang telah menyuruh kalian menculik putriku?"
Dinniar menunjukkan sebuah foto perempuan yang ciri-cirinya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh para penculik kepada Jonathan.
"kalau aku memberitahumu. apa kamu akan melepaskan kami?" salah satu penculik seakan sedang tawar-menawar dengan Dinniar.
"jadi kalian takut untuk masuk penjara?" tanya Dinniar seraya berjalan mengelilingi pria yang tadi menawar.
"seharusnya kalau kalian tidak mau masuk penjara. kalian tidak melakukan hal keji seperti ini." Dinniar mengangkat satu alis matanya.
"kalau kamu tidak mau membebaskan kami. maka kami tidak akan menjawab pertanyaan mu."
pria bertubuh besar itu kembali membuat penawaran kepada Dinniar.
"baiklah kalau memang kamu ingin aku membebaskan kalian. tapi ada satu syarat!" kembali berdiri di hadapan kedua pria itu.
"Apa syaratnya? katakan saja kalau memang kamu benar-benar ingin melepaskan kami!"
Dinniar menatap pria yang sejak tadi mengajaknya bicara.
"syaratnya adalah, kalian mengakui di depan semua orang siapa dalang dari penculikan ini." Dinniar menatap tajam ke arah kedua penculik itu.
...****************...
Tiga puluh menit sudah. Dinniar dan Jonathan pergi meninggalkan ruang unit gawat darurat.
"ke mana sebenarnya mereka berdua?" tanya Darius.
"mungkin mereka sedang bermesraan."celetuk Cornelia.
mendengar perkataan Cornelia Sonia kembali panas. Dia sangat kesal dengan wanita pelakor itu.
"dengar sahabatku tidak murahan seperti dirimu! Dia memiliki harga diri tinggi dan tidak akan pernah melakukan hal kotor seperti kamu. P-E-L-A-K-O-R!" Sonia seperti sedang mengeluarkan seluruh unek-unek di dalam hatinya.
"Itu Dinniar." Pekik Violin.
Cornelia hampir melayangkan tangannya untuk menyentuh kasar pipi Sonia. Namun, dia melihat Dinniar bersama seseorang yang cukup dia kenal wajahnya.
"dengan siapa Dinniar? banyak sekali pria yang berjalan di belakangnya?" Violin bertanya-tanya.
"sudah kamu tidak perlu banyak bertanya. tonton saja sampai habis pertunjukan hari ini." saya menatap tajam ke arah wanita yang matanya terbelalak.
"kamu pasti sangat terkejut. melihat kedua pria itu berjalan kemarin." Samuel menatap ke arah beberapa pria yang berjalan di belakang sahabat istrinya.
Dinniar berhenti tepat di hadapan beberapa sahabatnya, mantan suami dan juga si pembuat onar.
"Dinniar, Apa maksudmu membawa banyak pria kemari?" Darius terlihat bingung.
"begini mas. pria-pria yang di belakangku ini mereka adalah anak buah dari Pak Jonathan. mereka yang telah menangkap dua orang pria yang telah menculik Putri kita." Dinniar bicara dengan penuh penekanan.
Dinniar lalu tersenyum menerima ke arah seorang wanita yang wajahnya sudah pucat. bagaikan memakai alas bedak yang sangat tebal.
"maksud kamu dia adalah penculik Tasya? Kenapa kamu tidak membawanya ke kantor polisi? malah membawanya ke rumah sakit." Darius menggelengkan kepalanya karena tidak mengerti maksud dari mantan istrinya.
Dinniar menghampiri Cornelia.
Suara tamparan keras terdengar. Dinniar menampar wajah wanita yang telah berani-beraninya menyakiti buah hatinya.
"Dinniar! Apa maksudmu telah menampar Cornelia?" Darius berdecak kesal.
"dia memang pantas mendapatkan tamparan keras itu. Namun, tidak hanya tamparan keras. dia juga harus merasakan dinginnya di balik jeruji besi." Dinniar menatap nanar kearah Cornelia.
tubuh Cornelia gemetar. Dia sangat ketakutan dengan kata-kata dari seorang wanita yang anaknya telah dia sakiti.
"Apa maksud perkataan mu? kenapa aku harus masuk ke dalam penjara?"tanya Cornelia yang pura-pura tidak mengerti.
"jangan pura-pura polos dan tidak mengerti!" Dinniar mencengkram kuat tangan wanita itu.
"Aww, sakit Dinniar. Lepaskan." Cornelia memberontak ketika tangannya dicengkram kuat.
"Dinniar lepaskan. kamu sudah sungguh keterlaluan!" Darius masih saja membela wanita yang sekarang berstatus menjadi istrinya.
"dengar wanita yang kamu sayangi, cintai, dan kamu rela meninggalkan aku dan Tasya hanya demi dia. sebenarnya adalah wanita yang sangat busuk. dia adalah penculik tas yang sebenarnya!"
benar perkataan dari mantan istrinya sungguh dia tidak percaya. dia tahu Cornelia berperangkai lembut dan penyayang.
dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ibu dari anaknya itu.
"jangan mengada-ngada kamu. Cornelia sangat menyayangi Tasya. tidak mungkin dia ingin mencelakai Tasya." Darius masih menutup matanya untuk melihat sosok asli dari istrinya itu.
"saya berdua bicaralah. katakan yang sebenarnya." Jonathan sudah lelah melihat akting Cornelia.
Jonatan memerintahkan kedua pria yang menculik Tasya buka suara.
"cepat kan katakan atau anak buahku akan menghajar kalian!" Jonathan sudah semakin geram.
"ba-baik." kedua penculik itu menjadi ketakutan.
"hari itu dia menghubungi kami. Dia meminta kami untuk menculik seorang anak kecil saat berada di sebuah restoran."
Darius yang mendengar pengakuan dari salah satu penculik itu kaget.
"kami akhirnya menculik anak kecil yang bernama Tasya. Dia meminta kami untuk menjaga selama beberapa hari." salah satu pria lainnya.
terius menatap lurus ke arah Cornelia. tatapannya penuh tanya. Cornelia yang mendapat tatapan dari suaminya menjadi semakin ketakutan.
"Apa benar semua yang dikatakan kedua pria itu Cornelia?"tanya Darius sambil menatap mata istrinya.
"tidak Mas. Aku bahkan tidak mengenal kedua pria ini!" pengelak adalah salah satu cara Cornelia untuk meyakinkan suaminya.
"tapi kenapa kedua pria itu bisa mengenal dirimu?" Darius kembali bertanya.
"Aku tidak tahu Mas. mungkin ini adalah jebakan yang dibuat oleh mantan istrimu. agar dia bisa mendapatkan dirimu lagi."
Cornelia malah memutar balikkan cerita. lihat wanita yang licin seperti ular. membuat Dinniar semakin jijik dan iba kepada suaminya. sebab ternyata Darius memiliki istri seorang ular berbisa.
"Dinniar apa kamu ingin menjebak Cornelia?" Darius malah berbalik marah kepada mantan istrinya itu.
mendengar Darius malah memarahi dirinya. wanita yang hatinya pernah disakiti pria itu, tersenyum menyeringai. dia tidak percaya kalau Darius malah berbalik mencurigainya.
"Mas, kamu sungguh kenal aku seperti apa. tidak mungkin melakukan hal licik seperti ini. Apalagi itu menyangkut keselamatan putriku." Dinniar menatap Darius dengan tatapan tidak percaya.
Dinniar tidak habis pikir ternyata Darius lebih mempercayai perkataan istrinya. dibandingkan dengan dia yang sudah lama hidup bersama.
"kalau memang dia tidak mau mengakuinya. aku akan membawa kedua pria ini ke kantor polisi. mereka akan mengungkapkan semuanya. dan aku sudah menyimpan beberapa bukti. itu sangat memudahkanku, untuk menjebloskan wanita kesayanganmu ini ke dalam penjara!"
Dinniar tidak pernah main-main dengan kata-katanya.