Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 218 - Curhat



Alvi dan Ica pergi ke rumah Alesya. mereka akan meminta izin mengajak Alesya untuk membeli bahan praktek.


"Assalamualaikum, Alesya." Alvi memanggil nama sahabatnya dari pintu pagar sambil memencet bel rumah.


"Kenapa sih dia. lama banget." Ica menggerutu.


"Sabar kali. lu baru nungguin dia belum ada lima menit. gue sama Alesya tiap mau istirahat nungguin lu sepuluh menit kadang lebih enggak gerutu begitu." Alvi menoyor kepala sahabatnya yang berdiri tepat di sampingnya.


"Iih! kok Lo malah noyor kepala gue sih!" Ica jadi marah.


kedua sahabat itu kemudian saling membalas dan menimbulkan keributan kecil di depan rumah keluarga Jonathan.


"Woy! kalian lagi pada ngapain sih. rame banget berdua doang ajah!" Alesya berjalan menghampiri pagar rumah.


"Terima kasih, Pak." Alesya bicara kepada satpam yang membuka pintu pagar untuk kedua sahabatnya.


"Nungguin Lo lama!" Cetus mereka berdua dengan kompaknya.


"Tuh, kan! Lo juga bete nungguin Alesya di sini. sok-sokan kesel dengerin gerutuan gue." Ica melipat kedua tangannya di dada.


"Udah sih jangan ribut lagi. maaf deh tadi gue lagi bantuin mami bikin sandwich dulu buat kalian berdua." Cerita Alesya.


Baru saja gadis remaja itu menberitahukan alasan kenapa dia lama menemui Alvi dan ica. tanpa sepatah katapun kedua sahabatnya langsung menyerbu masuk ke dalam rumah dan membuka pintu depan rumah dengan sangat bersemangat. Alesya hanya bisa menggeleng melihat kelakuan mereka berdua.


"Dasar, kalo udah urusan makanan ajah pada semangat empat lima. apalagi kalo tau mami yang bikinnya." Alesya menurunkan kedua tangannya dan ikut masuk ke dalam rumahnya.


Alvi dan Ica sedang asik melihat apa yang sedang di buat oleh maminya Alesya. mereka memandang takjub melihat kepiawaian mami Alesya alias Dinniar membuat hiasan.


"Wah. Mih, ini sih bisa bikin tiap hari aku makan gembul. bisa tembem ini pipi kita." Tegas Ica yang terus memelototi sandwich yang sedang di siapkan oleh Dinniar.


"Udah jangan ribut. katanya kalian mau pergi cari bahan untuk praktek besok. Alesya kamu siap-siap kasian Alvi dan Ica udah nungguin. dan untuk kalian berdua. sambil menunggu tuan putri cantik Alesya siap-siap. ini cobain sandwich buatan mami." Dinniar menyodorkan dua piring kecil yang sudah terdapat sandwich yang cantik di atasnya.


Alvi dan Ica langsung menyambar piring. mereka sudah seperti orang yang takut makanannya diambil. Sedangkan Dinniar hanya menggeleng melihat tingkah dua sahabat putrinya itu.


Alvi dan Ica bukan sembarang remaja. mereka adalah anak dari keluarga yang sangat sukses dalam bisnis dan juga pendidikan. hanya saja, semua itu menyita waktu kedua orang tua mereka sehingga jarang memberikan perhatian kepada anak-anaknya. Alvi adalah seorang anak dari pengusaha batu bara. sedangkan Ica seorang anak yang memiliki usaha kelapa sawit. kedua bisnis itu adalah pekerjaan yang sangat menjanjikan dan sumber uang mendatangi mereka.


Alvi dan Ica terkadang lebih senang berada di rumah Dinniar yang selalu memberikan perhatian kepada mereka kayaknya seorang anak. mereka berdua begitu mengagumi Dinniar yang selalu menomor satukan keluarga dan kebahagiaan anak-anaknya.


"Andai bundaku lebih sering masak di rumah dibandingkan di konten kreatornya. pasti aku seneng banget." Alvi menyeletuk sambil pikirannya menerawang.


"Yeeh, dia malahan curhat." Ica menatap Alvi.


"Udah pernah tanya ke bunda soal itu?" tanya Dinniar sambil duduk di depan kedua remaja yang kurang kasih sayang orang tua.


"Belum pernah sih mih, tapi pernah karyawan mami usul untuk bikin konten masak dan aku yang cicipi. Bunda malahan menolak. katanya ribet kalo ada orang lain didekatnya." cerita Alvi yang lalu menggigit kembali sandwich yang tinggal sedikit lagi.


"Mungkin bunda kamu bukan tipe orang yang suka kerja tim. karena banyak orang yang tidak suka kalau saat bekerja ada yang mengalihkan fokusnya." Dinniar memberi penjelasan.


"Mih, nanti jangan lupa bilang papa kalau aku minta di jemput di mall ya." Alesya mendekati Dinniar.


"Siap tuan putri. ya sudah kalian jalan sana. ingat hati-hati, jangan berpencar dan selalu akur." Dinniar mengingatkan ketiga remaja yang siap pergi.


"Tengah ajah, Mih. aku pastikan Alesya baik-baik saja." janji Alvi dengan menghabiskan satu kali gigitan lagi.


Mereka bertiga menyalami punggung tangan Dinniar dan berpamitan untuk pergi ke mall.