
Cornelia selesai dengan proses kuret. Janin yang belum terlalu terlihat bentuknya itu sudah dikeluarkan oleh dokter. Cornelia masih dalam proses observasi setelah operasi.
"Hubungi suaminya atau keluarganya." dokter meminta suster untuk menghubungi keluarga Cornelia.
Cornelia berbaring tidak sadarkan diri karena dibius total oleh dokter anastesi. Dia berada di ruangan observasi sendirian dan hanya ada dokter jaga yang mengawasinya beberapa menit sekali.
bagian administrasi mencoba mencari data keluarga Cornelia. dan tidak ada satupun yang di isi olehnya.
"Cepat beritahukan dokter kalau tidak ada catatan tentang keluarganya. jadi kita tidak bisa menghubungi siapapun." kata bagian administrasi kepada salah satu suster.
"Baik aku akan memberitahukan dokter." suster itu pergi untuk memberitahukan apa yang di bicarakan oleh bagian staff administrasi.
Cornelia memang sengaja tidak mencantumkan siapapun di data identitasnya. dia tidak juga mencantumkan nama suami dan juga nomor telepon Darius. ada sesuatu hal yang harus Cornelia sembunyikan dari suaminya. darius juga tidak terlalu memperdulikan dirinya. jadi Cornelia tidak berniat untuk berbagi tentang dirinya dan janinnya kepada Darius.
...****************...
Dinniar tiba di rumahnya dan dia melihat suaminya sudah sampai di rumah.
"sayang kamu sudah pulang?"tanya kepada Jonathan.
"kamu baru pulang dari dokter kandungan?"tanya Jonathan kepada istrinya.
"maafkan Aku tidak memberitahumu tentang jadwal kandungan ku hari ini. Aku tidak mau mengganggu kamu yang sedang sibuk mencari jejak Siapa yang berusaha menjatuhkan perusahaan." Dinniar menjadi merasa bersalah.
"tidak apa-apa aku mengerti. tapi untuk lain kali jangan ragu untuk memberitahuku. aku pasti akan menempatkan dan memprioritaskan dirimu dan juga anak kita." kata Jonathan sambil memeluk istrinya.
"kamu tahu dari mana Kalau aku hari ini ke dokter kandungan?"tanya Dinniar.
"Bi Imah yang memberitahukan kepadaku. BI Imah adalah seorang asisten rumah tangga yang sangat amanah. dia tidak akan berbohong kepadaku. dia bahkan merekam dirimu yang bertemu dengan Cornelia secara tidak sengaja demi keamanan dirimu." jelas jonathan setelah dirinya berhenti memeluk istrinya.
"Untuk apa bi Imah melakukan hal itu?" Dinniar mempertanyakan sikap bi Imah yang merekam mereka berdua.
"Dia sangat khawatir terhadapmu. dia tidak mau kamu menjadi bahan untuk dipersalahkan jika ada sesuatu yang terjadi. BI Imah juga sudah menyelidiki semuanya. jadi saat ini kamu dinyatakan aman." Jonathan menempelkan dahinya di dahi istrinya.
Dinniar masih tidak mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya. dia tidak terpikirkan apapun saat itu karena sibuk untuk memberikan pertolongan kepada Cornelia yang mengeluh kesakitan.
"Kamu sebaiknya masuk ke dalam kamar. Alesya dan juga Tasya sudah menunggumu. Tasya bahkan merengek karena kamu sangat lama pergi keluar rumah. Alesya juga sangat khawatir." Jonathan membawa istrinya masuk ke dalam kamar.
di dalam kamar Tasya dan juga Alesya sudah menunggunya. ruangan khusus yang sudah menjadi kamar Dinniar dan Jonathan. mungkin akan selalu dikunjungi oleh kedua putri mereka.
"Mamih, kenapa perginya begitu lama? apa ada sesuatu yang terjadi kepada Dede bayi?" Tasya bertanya dengan sangat polosnya.
"maafkan mami yang pergi cukup lama. karena tadi banyak sekali pasiennya. dan mami ke sana untuk memeriksakan kondisi adik bayi. biar semakin sehat dan kuat seperti kakak-kakaknya yang cantik jelita." Dinniar menggelitik dagu putrinya.
"Mih, Alesya buatkan susu untuk mami. tadi saat bi Imah bilang sudah dekat komplek. aku langsung membuatnya." Alesya menyodorkan segelas susu untuk Dinniar.
kehamilan kedua ini sangat ringan untuknya. karena saat hamil Tasya dia bahkan sangat sulit untuk menerima makanan atau apapun yang masuk melewati bibirnya.
"Kak Alesya sangat hebat mih. dia bisa tahu susu kesukaan mami. dan dia juga bilang kalau akan membuatkan mami susu setiap hari agar adik bayi sehat." Tasya kembali menuju kakaknya.
memiliki kakak adalah hal yang sangat diinginkan oleh Tasya sejak dulu. dia dulu sering sekali bertanya kenapa dirinya tidak memiliki kakak seperti teman-temannya yang lain. dinniar tidak tahu lagi harus bicara apa. karena semua penjelasan dari dirinya di tolak oleh Tasya.
Kini dia sudah memiliki seorang kakak. yang pastinya dia sangat senang. makanya dia selalu menempel dengan Alesya sepanjang hari jika mereka sedang berada di rumah.
...****************...
Cornelia sudah mulai sadar. dia lalu mencari keberadaan telepon genggam miliknya.
"anda sudah bangun?" tanya suster kepada Cornelia
"ya saya sudah bangun. suster apa anda melihat telepon genggam saya" tanya Cornelia.
"teleponnya ada di dalam laci. apa mau saya ambilkan?" tanya suster.
"Boleh. saya minta tolong diambilkan. saya mau menghubungi suami saya."
suster membuka laci dan mengambil telepon genggam berwarna ungu milik Cornelia. ungu adalah warna kesukaan dirinya.
"maaf, tadi kami sudah mencari data suami atau kerabat terdekat ibu di data komputer. namun, kami tidak menemukan catatan tentang kerabat anda. jadi kami belum bisa menghubungi suami anda sebab tidak mengetahui nomornya." kata suster.
"tidak apa-apa, saya yang akan menghubungi dirinya." Cornelia membuka ponsel miliknya dan mencari nama suaminya di kotak buku telepon.
sebenarnya dia enggan untuk menghubungi suaminya. dia yakin Darius sedang sibuk saat ini dan mungkin tidak perduli. tapi dia ingin memberikan kabar buruk ini. dia ingin memberitahukan siapa orang yang membuat dirinya kehilangan janinnya.
Cornelia berhasil menyambungkan telepon kepada Darius. Darius merespon panggilan telepon darinya.
"mas, aku di rumah sakit. kamu bisa tolong kemari. ada yang ingin aku bicarakan dan ini sangatlah penting." kata Cornelia memaksa.
"baik aku akan ke rumah sakit. kirimkan saja alamat lengkapnya. aku akan segera ke sana." ujar Darius dan menutup teleponnya.
Cornelia sangat kesal sebab tanggapan suaminya sangatlah datar meski dia menyatakan akan pergi ke rumah sakit dan menemuinya.
Darius memang sangat dingin terhadapnya. padahal Cornelia sudah banyak membantu untuk memulihkan kembali perusahaannya dan bahkan dia sudah menyuntikkan dana yang cukup besar untuk bisnis Darius yang hampir bangkrut.
"Lihat saja kamu Dinniar. aku akan menjadikan dirimu kambing hitam atas kepergian janin ini. aku akan membuat kamu menjadi tersangka atas tiadanya anakku dan mas Darius. kita lihat bagaimana reaksi mas Darius. aku pastikan juga kamu akan kehilangan Tasya. aku akan meminta dia sebagai ganti dari janin yang sudah kamu hilangkan nyawanya."
Cornelia ingin membuat Dinniar menjadi tersangka dalam kasus kegugurannya. dia tidak mau disalahkan oleh Darius. sudah pasti Darius akan kecewa ketika mengetahui dirinya tidak bisa menjaga kandungan dengan sangat baik. Cornelia tidak mau kehilangan Darius. dia akan membuat Dinniar menyerahkan Tasya sebagai gantinya. otak licik Cornelia tetap bekerja meskipun dia dalam kondisi tidak stabil.