
Dinniar mulai mengencangkan kembali ikat pinggangnya. dia mulai menyusun rencananya sendiri demi melindungi ketiga buah hatinya yang sangat berharga.
Dinniar meminta bantuan orang-orang terdekatnya untuk memantau anak-anaknya selama di sekolah dan selama mereka sedang tidak bersama. Dia meminta Adrian orang yang sangat dipercaya untuk membantu mengawasi Tasya selama di lingkungan sekolah begitu juga untuk Devano. dia meminta temannya yang merupakan seorang guru di sekolah taman kanak-kanak harapan.
Dinniar ingin memastikan kalau anak-anaknya tidak akan pernah mengalami hal yang berbahaya secara fisik maupun mental. Saat dia sedang banyak memikirkan keselamatan keluarganya. terdengar suara ketukan pintu.
muncul seorang wanita dari balik pintu dan masuk ke dalam ruangannya.
"Permisi, Bu. di luar ada tamu yang ingin bertemu. saya sudah sampaikan kalau ibu sedang tidak bisa diganggu. namun, dia tetap memaksa untuk bertemu." jelasnya.
"Biar saya temui saja." Dinniar beranjak dari bangku kerjanya dan berjalan keluar ruangan.
Saat dia sudah berada di titik tengah di dalam butiknya. seorang wanita muda dengan rambut tergerai sebahu sedang sibuk menjelajahi setiap sudut butik dengan sepasang matanya. saat pandangan mereka saling bertemu. Dinniar menatapnya dan wajah itu sangatlah asing baginya. Lama tatapan mereka bertemu. wanita muda itu lalu mengembangkan senyumnya sambil melambaikan tangannya seakan sedang menyapa.
Dinniar membalas senyuman itu meski dia masih mengingat-ingat siapa pemilik wajah cantik itu.
"Dinniar." teriaknya dengan suara yang begitu khas.
"Jelina? benarkan kalau kamu jelina?" Dinniar mulai mengenali ketika wanita itu bersuara.
Suara khas serak-serak basah itu jarang sekali dimiliki oleh orang. dan kebetulan sekali wanita itu memiliki memberikan ciri tersendiri untuk mudah diingat.
"Benar sekali. duuh aku kangen banget sama kamu." jelina berjalan menuju Dinniar.
Dinniar bahkan menangis tersedu-sedu saat mengetahui jelina sudah pergi ke Jerman. Dinniar berusaha menghubungi jelina, tapi tidak berhasil. itu membuat dirinya semakin kesal karena tidak sempat membuat pesta perpisahan.
"Gimana kabarmu, Din?" tanya jelina yang masih sangat rindu.
Mata Dinniar dan jelina saling berbinar. Dinniar sangat tidak menyangka kalau sahabatnya itu akan kembali ke Indonesia.
"Kapan sampai di Indonesia?" tanya Dinniar
"baru dua hari lalu. terus papa itu udah ngoceh terus buat aku terusin usahanya yang saat ini masih dibantu kelola sama Adrian."
"Kenapa tidak memberitahu kalau kamu mau pulang? Kalau tahu kau akan kembali ke Indonesia dan menetap di sini. aku akan memberikan membuat pesta penyambutan.
Dinniar dan jelita sibuk menceritakan setiap masa lalu yang mereka jalani selama hidup terpisah. Jelina dan Dinniar nampak sangat bahagia sekali. banyak hal yang di ceritakan dan banyak sekali hal yang menakjubkan bagi Dinniar.
"Benarkah? kamu suka mendaki gunung?" tanya Dinniar yang merasa takjub.
Obrolan yang panjang, dengan diselingi celotehan karena mereka jarang menyingkat-nyingkat kata pada masa itu. berbeda dengan anak sekarang banyak menyingkat kata.
"Aku saja kadang kalau bicara dengan Alesya, anak sulungku yang suka sekali bicara sambil menyingkatnya." jelas Dinniar.
"Bukannya anakmu hanya dua? Tasya dan adiknya? apa ada yang sudah remaja?" tanya jelina yang penasaran.