Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
308 - Manager promosi



Aktivitas seorang istri atau seorang ibu selalu seperti itu setiap harinya yaitu memasak, menjaga anak dan juga membuat rumah menjadi ceria. Memiliki Istri seperti Dinniar membuat kehidupan Jonathan semakin hidup dan dipenuhi dengan hal yang menarik.


"good morning, sayangku. pagi ini kamu semakin cantik ajah." Jonathan memulai gombal paginya ketika sang istri sedang menata bekal untuk ketiga anaknya.


"Papa, setiap hari kerjaannya gombal ajah." tiba-tiba Devano muncul dari kolong meja.


Jonathan terkejut melihat putranya muncul dari sana.


"Devano. sejak kapan kamu ada di sana? Dan sedang apa kamu?" dua pertanyaan terlontar dari Jonathan.


"Aku sejak tadi di sini bersama mami. Papa, kalau cinta itu harusnya membantu mami. cinta itu harus dibuktikan dengan perbuatan. Aku saja yang masih kecil mengerti." tuturnya dengan sok dewasa.


"Papa selalu membantu mami. Papa juga menjaga mami." Jonathan mulai membela diri.


"Papa tidak pernah membantu mami menyiapkan masakan. Aku saja membantu mami menyiapkan sendok untuk kita semua makan." terang Jonathan junior yang sangat menggemaskan.


"Sayang, sebenarnya dia ini anakku atau bukan sih? kenapa dia itu sering menyerang orang dengan ucapannya?" tanya Jonathan dengan wajah memelas.


"Tentu saja dia anakmu. Sifatnya saja persis sepertimu. Dia adalah duplikat mu. Jadi terima saja semua tingkahnya." tutu Dinniar sambil tersenyum jahil.


"Baiklah. papa akan membantu mama mulai saat ini. Lihat papa akan menyusun makanan diatas piring." Jonathan membuka satu piring.


"Hem, mana boleh makanan di ruang sebelum orang-orang datang. Nanti akan lebih cepat dingin." ketus Devano


Jonathan jadi garuk-garuk kepalanya karena bingung cara menghadapi sikap putranya yang sudah sangat pintar dan tanggap situasi.


"Baiklah. papa akan memanggil kedua kakakmu saja." Jonathan berbalik dan kedua putrinya sudah melambaikan tangan ketika melangkah di tangga terakhir.


"Kita sudah siap kok, pah." Alesya menarik bangku dan duduk.


"nah, kan. Kak Alesya dan kak Tasya ternyata sudah siap dan datang."


Jonathan lalu menghampiri Devano sangking kesalnya. Devano digendongnya lalu diletakkan di meja makan. Jonathan mulai menggelitik pinggang Devano hingga putranya tertawa terbahak-bahak.


"Kamu ya. Sudah mulai pintar membuat papa kesal. Sekarang terima jurus sepuluh jari." teriak jonathan.


Mereka semua kemudian tertawa terbahak-bahak. Kelakuan Devano pagi ini membuat mereka menjadi semakin semangat menjalani hari baru.


"Hah, anak kita memang sangat pintar-pintar dan mandiri. Aku tidak pernah bisa membayangkannya jika aku menjadi dirimu sayang. Kamu adalah ibu yang hebat. Di tengah kesibukanmu mengurus rumah dan pekerjaan. Kamu tetap bisa menjadi seorang ibu yang baik demi mereka dan menjadi seorang istri istimewa untukku." Jonathan merangkul istrinya dan menyenderkan kepala Dinniar dibahu.


Ketiga anaknya sudah berangkat ke sekolah dengan diantar oleh supir. Sedangkan Dinniar dan Jonathan masih di rumah.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Dinniar.


"tentu saja aku yakin sayang. kenapa aku tidak yakin? Ide mama sangat bagus dan itu adalah hal yang benar." Jonathan mengecup kening Dinniar.


"Baiklah. Aku akan bersiap dulu. Aku harap bisa melakukan hal yang terbaik. Semoga aku bisa diterima oleh mereka semua." harap Dinniar.


Dinniar masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamarnya. Dinniar mengganti pakaiannya dan merias diri.


.


.


.


Melinda bersiap pergi ke hotel. Dia memakai pakaian kantor dengan warna biru pastel. Hari ini akan ada meeting dadakan yang digelar oleh para direksi. Jadi dia akan berusaha tampil menarik agar bisa menarik perhatian.


"Kamu sudah mau berangkat?" tanya mamanya.


"Ada rapat direksi. Jadi aku harus datang lebih pagi." cerita Melinda.


"Selama bekerja di hotel. Kamu jarang sekali makan malam di rumah. Mama rindu makan malam bersamamu, sayang."


"Aku janji akan berusaha pulang lebih awal sebelum waktu makan malam tiba. Aku juga sudah rindu dengan masakan mama." Melinda tersenyum.


Melinda sangat menyayangi Mama angkatnya. baginya hanya Kamelia wanita yang dia anggap dan akui sebagai seorang ibu. Karena memang ibu kandungnya telah meninggal dunia.


.


.


.


Dinniar dan Jonathan menginjakkan kakinya di hotel. Dinniar diundang ke hotel oleh para dewan direksi. Mereka berdua masuk ke dalam ruang rapat. Di sana bahkan om syam ikut dalam rapat. Rapat sudah dimulai sejak tiga puluh menit lalu.


"Sebelum kita akhiri rapat ini. Saya ingin memberitahukan bahwa kita kedatangan tamu yaitu ibu Dinniar. Ibu Dinniar akan membantu kita di bidang promosi. Karena ada posisi kosong untuk manager promosi. Maka kamu menunjuk ibu Dinniar untuk mengisi jabatan ini. Tepuk tangan semuanya."ujar asisten pribadi mendiang ayah Jonathan.


"apa? Dia menjadi manager promosi. Berarti dia memiliki posisi di atasku. Kenapa hal ini terjadi? Ada apa sebenarnya?" Melinda bergumam di dalam hatinya.


rapat selesai dan ditutup dengan mengucapkan selamat kepada Dinniar. Begitu juga om syam dan Melinda. Mereka saling berjabat tangan dan mengucapkan selamat untuk Dinniar.


"Kenapa dia bisa menjabat posisi itu?" tanya Melinda kepada papanya.


"mana papa tahu. Papa saja terkejut melihatnya." tutur Syam dengan berbisik.


mama mertua Jonathan datang saat rapat sudah bubar. Suaminya adalah salah satu pemegang saham lima belas persen di hotel karena papa Dinniar membantu Alex papanya jonathan untuk menstabilkan hotel saat banyaknya hotel yang didirikan.


"Syam. Kamu datang juga." sapa mama Juwita.


"hai, mba Juwita. Iyah, aku diundang untuk hadir dalam rapat. Oh, ya gimana kabar mba?" Syam berusaha ramah meski dihatinya sangat kesal.


"kabarku sangat baik." Juwita lalu pergi dari hadapan Syam.


"dia sangat angkuh sebagai seorang wanita paruh baya." racau Melinda.


"Sudah tidak usah pedulikan dia. Papa ada yang harus dibicarakan denganmu."


"kita ke ruangan Melinda saja pah." ajak Melinda.


Juwita berjalan ke arah Dinniar yang sedang berbincang dengan beberapa direksi. Juwita sudah memasang senyuman diwajahnya untuk menyambut sang putri yang telah menerima sarannya. Juwita dan besannya tidak rela jika sampai Melinda dan Syam merencanakan hal buruk.


"mama." Dinniar memeluk mamanya.


"Selamat sayang. Kamu akhirnya bisa bekerja di hotel. Nanti saat Alesya besar. Kita baru bisa tenang. Mama harap dia menjadi wanita yang kuat dan bijaksana." doa mama Juwita.


"Aku juga berharap demikian mah. Aku sangat ingin segera melihat Alesya menjadi pewaris sah dan mengelola hotel dengan baik." harapnya.


mereka akhirnya kembali berbincang dengan beberapa direksi yang menjadi investor hotel. Mereka membicarakan tentang pengembangan bisnis ke luar negeri agar lebih difokuskan lagi. dibeberapa negara mereka sudah mendirikan hotel. Namun, mereka ingin ada promosi juga untuk hotel yang ada di luar negeri.


"Kami akan memikirkannya. Aku akan berusaha yang terbaik dan lebih fokus lagi dalam mengelola hotel." janji Jonathan.