
POV Alesya
.
.
.
Musim sudah berganti. Di Singapura sekarang sedang musim dingin dengan udara yang sejuk dan hujan yang sering turun membasahi bumi. Aku yang hidup sendirian di Singapura tanpa keluarga. berusaha tidak takut dengan hujan. Sejak kecil aku selalu takut jika hujan datang disertai dengan gemuruhnya. Namun, sekarang apa daya. Aku harus terbiasa serba mengendalikan diri sendiri tanpa bantuan dari keluarga yang tinggal jauh di negara asalku Indonesia.
"Sebaiknya aku segera mencuci pakaian. Aku takut nanti hujan dan pakaianku tidak kering."
Aku mengambil pakaian di keranjang dan mengelompokkannya sebelum dimasukkan ke dalam mesin cuci.
Aku memang meminta agar dibelikan mesin cuci agar bisa menghemat biaya. Aku sadar keluargaku memang memiliki segalanya, tapi apa salahnya aku mengerjakan semuanya sendiri. Aku sudah terbiasa selama menjadi housekeeping mengerjakan pekerjaan rumah. Menurutku itu bisa menghilangkan rasa bosan dan ketika kesal membersihkan rumah adalah salah satu obat terbaik daripada marah-marah.
Mesin cuci terdengar suara menggiling pakaian yang tercampur dengan air. Mami dan papa memberikanku apartemen yang cukup luas. Ada dapur, ruang cuci baju, ruang tamu dan kamar. Aku juga mulai belajar untuk memasak sendiri agar tidak sering keluar apartemen dan makanannya juga dijamin halal.
Meski kami bukan keluarga yang terlalu agamis. namun, makan makanan halal adalah suatu keharusan sebagai umat muslim. Selesai mencuci aku langsung menjemurnya di balkon yang cukup luas. Di sana aku juga meletakkan kursi dan meja untuk menikmati malam yang bertaburan bintang.
Suara ponselku berbunyi. Dengan cepat kulihat siapa yang menghubungi.
"Assalamualaikum, mami." aku langsung menyapa mami Dinniar yang selalu ada untukku.
Seorang wanita yang tanpa pamrih menyayangi dan membesarkanku. hingga aku menjadi gadis yang kuat dan memiliki etika.
"Waalaikumsalam, sayang. sedang apa?" tanya mama Dinniar yang selalu menghubungiku di waktu senggangnya setiap hari.
Bagaimana aku tidak sangat bersyukur mendapatkan seorang ibu yang sangat perhatian melebihi orang tua kandungku sendiri semasa mereka masih hidup. Aku mendapatkan kasih sayang dan cinta yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Masakan seorang ibu yang diolah dengan sangat hati-hati dan penuh cita rasa cinta di dalamnya.
Duniaku telah berubah ketika dia menjadikanku anaknya. Hari-hari semakin berwarna dengan canda tawa. Meski pernah ada kesalah pahaman diantara aku dan dia. Lebih tepatnya aku yang salah paham dengannya karena hasutan wanita licik. Tidak menyurutkan kasih sayangnya. Dia malah menjadi semakin berusaha keras untuk melindungiku.
"Aku sedang mencuci baju. Karena di sini sudah mulai musim dingin. Jadi pasti hujan akan lebih sering turun," jawabku kepada wanita yang selalu tersenyum lembut.
"Kamu sudah makan?"
"Aku sudah makan, Mih. Mami dan papa sehat-sehat ya. Nanti saat liburan kuliah. Aku akan pulang ke Indonesia. I Miss you."
Tanyanya kemudian. Dia tak pernah lupa menanyakan apa aku sudah makan. Bagaimana tidurku apakah nyenyak. Apa di sini aku merasa tidak nyaman. Dan dia selalu mengucapkan.
"I Miss you too. Mami sayang kakak Alesya. Selalu semangat sayang. Kamu yang terbaik."
Kata itulah yang akan menjadi penutup percakapan kami. Dia selalu mengucapkannya dan itu adalah mood booster untukku.
"Sebaiknya aku jemur di ruang tamu saja. kalau hujan dan ada anginnya, bisa-bisa bajuku nanti terbang."
Aku menggotong jemuran kecil untuk di masukkan ke dalam ruang tamu. selesai menjemur aku kembali berteman dengan laptopku.
Semenjak tidak bisa lagi bersama dengan kedua sahabatku. Aku menjadi terbiasa sendirian. Aku belum punya banyak teman di kampus. Jikalau ada, tapi belum akrab. Jadi aku belum berani sering-sering menghabiskan waktu dengan mereka.
"Sendirian adalah hal yang tepat untuk saat ini." aku menggulung lengan sweater hingga ke siku dan kuregangkan tubuhku agar bisa fokus mengerjakan tugas dan belajar untuk mata kuliah besok.
. . .
"Perkuliahan di National University of Singapore berfokus pada perkembangan pendidikan individu dan mendukung kemampuan entrepreneur mahasiswanya. National University of Singapore juga memfasilitasi penuh kegiatan penelitian yang dilakukan akademisinya, sehingga menjadikan universitas ini unggul secara akademik."
Dosen dari mata kuliah makro ekonomi sedang berbicara di depan kelas. Aku menyimak dengan seksama penjelasannya tentang kampusku. Aku memilih jurusan manajemen bisnis karena untuk mempersiapkan diri agar bisa bersaing dengan para pembisnis lain di dunia yang sudah semakin canggih dan modern. Jika kita tertinggal sedikit saja informasi dan malas dalam mencari ilmu. Maka kita akan semakin kesulitan. Maka dari itu aku tidak pernah membolos dan selalu fokus disetiap mata kuliah.
Bel jam mata kuliah telah usai terdengar. Dosen menutup pelajaran hari ini dan kami bersiap untuk masuk pelajaran berikutnya lima belas menit kemudian.
Sebelum mata kuliah kedua berlangsung. Aku pergi ke kantin untuk mencari minuman segar.
"Hai, gimana kuliahnya?"
Raka ternyata sudah ada di depan kelasku. Entah kenapa dia selalu menungguku keluar kelas saat jam mata kuah selesai atau saat jam pulang kuliah. Dia sudah sangat persis satpam saja selama kami kuliah di Singapura.
"Kenapa sih, selalu ajah nungguin di depan kelas. Malu tahu sama orang. Nanti di sangka kita pacaran lagi." Aku mengoceh sambil berjalan.
Aku lirik Raka yang ternyata sedang tersenyum ke arahku. Lalu aku membuang mukaku karena muak melihat senyuman sok manisnya itu.
"Biarin ajah. Kalo satu kampus nyangkanya kita pacaran. berarti aman dong. Enggak ada cowok rese yang deketin." Raka terus saja membuat alasan.
"Cowok rese? Bukannya itu Lo ya?" aku menghentikan langkahku dan sedikit mundur sambil satu kaki aku biarkan terbuka lebar.
Raka yang tidak bisa mengerem langsung terjatuh ke lantai karena tersandung kakiku. Aku terkekeh dan berjalan cepat menuju kantin agar tidak diawasi olehnya terus menerus.
Terlepas dari Raka, tapi ternyata aku bertemu orang yang begitu menyebalkan. Gita ternyata juga ada di kantin bersama dengan teman-teman barunya. Dia terus cekikikan sambil melihat ke arahku.
"Wah kasian ya. ternyata hidup di negeri orang itu membuatnya tidak memiliki teman." sindir Gita.
Aku sadar sindiran itu tertuju untukku. dia memang selalu mencari cara agar aku marah. Namun, sayangnya aku masih sangat punya banyak stok sabar di dalam diriku. Aku membeli satu botol minuman dingin lalu kembali ke kelas untuk pelajaran selanjutnya.
Bagiku selama dia masih menyindir dalam batas normal. Maka aku tidak akan pernah meladeninya, tapi kalau dia sudah kelewatan. Jangan harap ada ampun dariku untuknya. aku tidak suka ribut dengan orang jika tidak diperlukan. Aku ingat kata-kata Icha yang selalu mengajariku sabar selama di sekolah menengah atas.