
Alesya kembali tiba di sekolah bersama dengan kedua sahabatnya. hari ini dia menggunakan sepeda motornya untuk pergi ke sekolah.
"Asik, udah bebas banget nih kayaknya bawa motor sendiri kemana-mana." Alvi yang juga membawa sepeda motor langsung menghampiri sahabatnya usai parkir.
"Udah dong. papa gue dan Mamih udah bebasin gue pake motor asal tetap aman." Alesya tersenyum lebar.
"Seru kayaknya nih kalo Lo belajar naik motor sport." celetuk Alvi sambil mereka berdua keluar area parkiran sekolah.
"Ah, jangan ngaco deh. kalo ketahuan sama papa. bisa-bisa izin bawa sepeda motor dicabut selama-lamanya." Alesya bicara sambil cekikikan.
"Secara Sya. bokap sama nyokab lu tuh sayang banget. makanya mereka sedikit overprotektif. lu juga jangan cari masalah terus di sekolah." Ica mengingatkan Alesya.
"Awh." Alesya menjerit kesakitan ketika bahunya disenggol kasar.
"Woy! kalo jalan liat-liat kenapa sih." Alesya berteriak sambil berjalan menghampiri siswa yang menabraknya tadi.
Dengan cepat Alesya meraih tas ransel yang menggantung di punggung siswa itu dan menariknya.
"Oh, ternyata Lo lagi biang keroknya. udah kemaren Lo hampir nabrak gue. terus pas praktek Lo juga ninggalin tim lu. bikin jelek nilai kita tau enggak sih?" Alesya sangat marah ketika tahu ternyata Raka yang menyenggolnya.
"Eh, apaan sih lu. main tarik-tarik tas orang ajah." Raka menjadi kesal.
"Denger ya. mungkin masalah Lo kemaren hampir nabrak gue pake motor Lo dan tadi Lo nyenggol gue sampe sakit banget nih bahu. gue bisa toleransi, tapi enggak dengan nilai gue yang dapet B karena Lo bikin gue dan temen-temen telat ngumpulin tugas!" Teriak Alesya dengan keras sambil berkacak pinggang.
"Eh, denger ya cewek aneh. kerjaan kalian itu pantes buat dihancurin. karena emang semuanya salah. dan kalian seharusnya bersyukur kali gue hancurkan dan kalian bangun ulang. kalo enggak gue yakin Lo dan temen-temen bukan lagi dapet C atau D, tapi dapet nilai E." Raka membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Alesya yang masih menganga karena menahan rasa kesal.
"Woy! Lo tuh yang anak aneh bukannya gue!" teriak Alesya hingga beberapa siswa dan siswi yang sudah datang ke sekolah menoleh ke arahnya.
Tak lama terdengar suara tepukan tangan yang begitu menggema dan sudah di kenal oleh Alesya. dengan sigap dia menoleh ke arah suara.
Gita selalu terkenal rajin mencari-cari masalah dengan Alesya. kehidupan mereka yang sama-sama anak sultan membuat Gita merasa tersaingi oleh Alesya.
mendengar ucapan Gita membuat kedua tanduk Alesya keluar dan membuat wajah remaja itu merah padam.
"Eh, kalo ngomong itu bisa enggak sih di saring dulu. mulutnya bisa enggak sih di jaga. siapa bilang gue enggak punya orang tua? gue punya kok. ada papa dan Mamih gue. denger ya mungkin Dimata Lo. mereka cuma sekedar orang tua angkat gue, tapi kasih sayang mereka tulus dan satu hal yang perlu Lo ingat mereka melalu memprioritaskan gue dari apapun itu. apa orang tua Lo juga melakukan hal yang sama? secara mereka orang tua kandung kan?" Alesya lalu mengibaskan rambutnya dan pergi meninggalkan Gita yang sudah kebakaran jenggot dan tak tahu harus membalas apa.
Alesya paling tidak suka keluarganya di usik apalagi ada orang yang mengatakan kalau dia anak angkat.
Gita benar-benar kesal sampai dia *******-***** tangannya sendiri. Ingin sepertinya Gita mengumpat Alesya lagi. namun, sayangnya Alesya sudah diluar jangkauan.
"Makanya kalo ngomong itu jangan asal. ke tembak sendirikan akhirnya." Alvi ikut mengolok-olok Gita.
Alvi dan Ica tidak akan pernah tinggal diam kalau sampai ada orang yang membuat Alesya bersedih. pertemanan yang sudah terjalin begitu lama dan sangat terjaga membuat mereka sangat perduli satu sama lain.
"Udah, sya. jangan di pikirin omongan tuh nenek. dia kena batunya sendiri tuh. secara orang tuanya'kan selalu sibuk kerja dan bolak-balik ke luar negeri. jadi wajar kalo dia suka cari perhatian sama orang sekitarnya." Alvi menepuk pundak Alesya.
"Ish, siapa juga yang mikirin omongannya dia. omongan orang enggak penting buat gue. yang penting gue tahu orang tua gue yang sekarang sayang sama gue lebih dari apapun. Ngomong-ngomong Lo itu sekarang lagi menghibur gue atau lagi belain si nenek itu sih?" Alesya malah jadi sewot.
"Yee, bukan belain si nenek. gue jelas lagi menghibur Lo kok." Alvi mulai salah tingkah.
"Ya udah yok. masuk kelas. sebentar lagi bel masuk." ujar Ica yang mempercepat langkahnya menuju kelas.
Alesya memang tidak pernah memikirkan apa kata orang atau pendapat orang mengenai siapa dirinya dan masalah statusnya sebagai anak angkat. jelas dia memang bagian dari keluarga itu karena statusnya adalah keponakan dari Jonathan. Alesya juga calon pewaris sah kerajaan bisnis perhotelan milik keluarganya yang masih di kelola oleh Jonathan.
Alesya hanya akan ingat kata Dinniar kalau apapun kata orang dia tetap anak Dinniar dan Jonathan. Alesya juga merupakan kebanggan mereka karena selalu menjadi juara kelas dan selalu mengukur prestasi membawa nama sekolah harapan sejak duduk di bangku sekolah dasar. kasih sayang dan perhatian yang begitu kuat akan membuat ikatan semakin kokoh dan takkan pernah tergoyahkan.