
Dinniar dan Jonathan bersiap untuk kembali ke Jakarta. Dinniar dan Jonathan mempersingkat bulan madu mereka. Dinniar tidak mau mamanya dan mama mertuanya kesusahan menjaga kedua putrinya.
Tasya juga sering kali menghubunginya karena rindu. itu juga yang membuat Dinniar dan Jonathan tidak bisa meneruskan bulan madu mereka.
Rindu di hati mereka berdua kepada kedua putrinya juga sudah akan membuncah. Anak-anak yang menggemaskan itu memang paling bisa membuat orang merindu.
"Sudah siap semua sayang?" tanya Jonathan kepada Dinniar yang sedang sibuk mengemas barang-barang bawaan mereka berdua.
"Sudah semua sayang. Tinggal kita belanja oleh-oleh untuk orang di rumah dan teman-teman." Dinniar mengingatkan suaminya untuk mampir ke pusat oleh-oleh.
Selesai mengemas barang. mereka langsung mendorong koper dan meninggalkan hotel.
Mereka memanggil taksi untuk mengantar ke pusat perbelanjaan oleh-oleh di kota Palembang. Dinniar dan Jonathan juga sudah janjian dengan Noni dan Karel di bandara. pasangan suami istri itu berjanji akan memberikan buah tangan kepada mereka untuk dibawa ke Jakarta.
"Sayang, beli ini juga kali ya." Dinniar menunjuk beberapa macam oleh-oleh.
"Ya sudah kamu ambil yang perlu dan jangan lupa di hitung jumlah orangnya. biar nanti tidak ada yang terlewat saat pembagian oleh-oleh." Seru Jonathan.
Dinniar dan Jonathan kembali berbelanja. Mereka karus mengejar waktu karena Jonathan mendapat kabar kalau Karel dan Noni sudah jalan ke bandara.
...****************...
Di Jakarta keluarga Jonathan dan Dinniar sedang sibuk mempersiapkan pesta penyambutan pasangan pengantin baru itu. Alesya memiliki ide membuat pesta ini seperti pesta penyambutan kedatangan keluarga baru saat Dinniar dan Jonathan resmi menikah.
"Oma, bagus tidak kalau dekorasi bunga ini di letakkan di sini?" tanya Alesya kepada mama Juwita.
"Bagus sayang. kamu sangat pintar membuat hiasan dan menata letaknya." Mama Juwita memuji Alesya.
Kamelia merasa senang sebab sahabatnya juga menyayangi cucunya seperti dia menyayangi Tasya juga.
"Nenek, apa papa dan Mami akan segera tiba di Jakarta?" tanya Tasya kepada Kamelia.
"Kita doakan saja perjalanannya lancar dan mereka tiba di Jakarta dengan selamat dan sehat." Kamelia menyentuh kecil dagu Tasya.
...****************...
Darius tiba di kantor polisi. Dia sebenarnya masih menyimpan rasa kesal kepada Cornelia. Namun, karena Cornelia sudah membantunya dan berjanji kedepannya akan membantunya juga. jadi Darius memutuskan untuk mengabulkan permintaan Cornelia.
Darius selangkah demi selangkah menginjakkan kakinya masuk ke dalam ruangan kepolisian.
"Selamat datang pak Darius." sosok seorang polisi menyambut kedatangan Darius.
"Apa kabar pak?" tanya Darius.
"Baik pak. silahkan duduk." polisi itu mempersilahkan Darius untuk duduk.
"Apa benar, bapak mau menarik kembali gugatan atas kasus penculikan anak bapak?" tanya polisi itu.
"Saya yakin. saya pikir sebaiknya istri saya tidak di penjara. Masih bisa kan pak?" tanya Darius.
Pihak kepolisian dan Darius bicara dengan sangat serius. Darius di antar ke suatu tempat oleh polisi tersebut untuk menemui seseorang.
"Pak Darius silahkan masuk ke dalam ruangan ini. Saya akan menunggu di luar."
Darius pergi ke tempat itu dengan pengacaranya juga. mereka berdua janjian di tempat tujuan itu.
Perbincangan mereka sangat tertutup. Sampai di jaga oleh dua orang satpam di luar pintu agar tidak ada yang bisa masuk ke dalam.
...****************...
Di balik jeruji besi. Cornelia sedang harap-harap cemas. dia khawatir kalau Darius tidak bisa mengeluarkan dirinya. Cornelia sudah sangat ingin menghirup udara bebas secepatnya. Dia ingin membalaskan sakit hatinya kepada Dinniar yang telah membuatnya mendekam dipenjara. dia juga akan membalaskan dendam lanjutan kepada Jonathan yang sudah membantu Dinniar menemukan Tasya.
"Kenapa lama sekali? bukannya mereka suda pergi sejak tadi pagi? apa gagal?" Cornelia *******-***** jemarinya.
Cornelia tidak ingin lebih lama lagi mendekam di balik jeruji besi. Dia bagaikan burung dalam sangkar. Dia tidak bisa mengembangkan sayapnya lebar dan tidak bisa terbang jauh karena pergerakannya terlalu terbatas di dalam sana.
Dalam kegelisahannya Cornelia bahkan sampai tidak memperhatikan sekitarnya. Dia hanya fokus dengan apa yang ada di dalam pemikirannya saja.
"Bu Cornelia. Anda bisa bebas hari ini. orang tua anak itu telah mencabut tuntutannya kepada anda." Seorang polisi wanita membuka gembok sel tahanan.
Cornelia langsung mengembangkan senyumannya. dia tidak menyangka kalau hari ini juga dia bisa bebas.
Cornelia segera keluar dari dalam sel tahanan, dia di temani oleh dua orang polisi wanita.
Cornelia diberikan sepasang pakaian untuk dikenakannya. Dengan cepat dia mengganti pakaiannya dan bersiap untuk menghirup udara kebebasan.
Selama Cornelia mengganti pakaiannya. Darius menunggu istrinya di depan ruangan tempat melepaskan tahanan.
Dia sudah memutuskan untuk bekerja sama dengan Cornelia. Dia ingin merebut gak asuh putrinya. dan hanya Cornelia yang bisa membantunya saat ini. Itu lah yang sedang dipikirkan Darius sekarang.
Di kala manusia mengalami kebimbangan dalam hidupnya. maka akan banyak bisikan-bisikan yang melintas dan juga dorongan dari pihak luar yang mempengaruhi.
Darius termasuk pria yang mudah sekali dibujuk dan terpengaruh. Dia merasa ini adalah tindakan yang benar.
Cornelia keluar dari ruang ganti dan dia kini sudah berada di depan suaminya. Mereka saling berdiri berhadapan. Cornelia sangat senang akhirnya suaminya ada di pihaknya kini.
"Terima kasih sayang. kamu sudah mau membebaskan aku. aku akan membuatmu bahagia mulai sekarang. bersama calon anak kita nanti." Cornelia mengelus perutnya yang rata.
Darius melihat cara Cornelia mengelus perutnya. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Apa harus senang atau harus sedih. Karena jujur dia belum siap memiliki anak lagi.
Darius hanya ingin fokus bagaimana mendapatkan hak asuh Tasya. Dia tidak mau kalau putrinya lebih menyayangi pria lain yang sekarang menjadi ayah sambungnya.
"Kamu berjanji akan membantuku mendapatkan hak asuh Tasya. Aku sudah menepati janjiku untuk mengeluarkan dirimu dari sel tahanan. jadi kamu bersiap untuk menepati janjimu kepadaku." Tegas Darius.
Cornelia kini bergelayut manja kepada suaminya. "Tenang sayang. semua sudah aku pikirkan. kita tinggal eksekusi saja rencana itu."
Mereka berdua keluar dari kantor ke polisian dan menuju ke dalam mobil. Di mobil Cornelia menyalakan radio dan mencari siaran kesukaannya. sudah lama sekali dia tidak mendengarkan radio. setelah menemukan. siaran radio favoritnya. dan kebetulan sedang memutar lagu kesukaannya.
Cornelia lantas segera bernyanyi dan menggerakkan badannya membentuk sebuah tarian kecil sambil duduk di kursi penumpang di samping kursi pengemudi.
Darius melihat kelakuan Cornelia yang semakin menjadi setelah keluar dari sel tahanan. Sebenarnya dia tidak suka, tapi mau bagaimana lagi wanita itu adalah istrinya.