Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
226-Tolong sembunyikan aku



Raka sampai di tempat yang sudah ditentukan untuk mereka balapan motor. Raka, Nico, Maxim dan teman satu gank lainnya sudah siap untuk balapan motor.


"Lo pokoknya harus menang. kita harus kasih tau mereka kalau mereka bukan apa-apa." Maxim menggenggam tangan Raka erat.


Raka menatap sahabatnya dan menganggukkan kepalanya. Raka dan Nico yang akan balapan motor pada malam ini. sedangkan yang lain menjadi suporter mereka berdua.


"Nic, Lo duluan yang lawan dia. gua di babak ke dua ajah. perut gua sakit." sontak Raka langsung berlari ke arah toilet umum sambil memegangi perutnya yang terasa melilit.


Nico lalu memulai balapan dengan lawannya. Mereka masing-masing berusaha untuk menang sekuat tenaga. Nico menarik gas tangan dengan sangat kuat dan berusaha fokus agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan.


Nico berhasil mencapai setengah perjalanan yang menjadi tempat mereka balapan motor.


"Setengah jalan lagi, semangat Nico."


Nico meneriaki dirinya sendiri agar api semangat membara di dalam dirinya yang sedang berusaha untuk menang.


Nico melihat garis finish sudah Sampit dia capai dan lawannya masih tertinggal cukup jauh darinya.


"Yeeeeeaaaay!"


sorak-sorai terdengar di telinga Nico. teman-temannya sangat gembira melihat dirinya memenangkan babak pertama pertandingan balap motor ini.


Mereka meski terkesan seperti anak yang ugal-ugalan. padahal sebenarnya mereka tidak demikian. Mereka berusaha menertibkan anak-anak yang suka balapan liar dan ugal-ugalan di jalan seperti jagoan.


"Sekarang giliran Lo, bro." tepuk Maxim pada bahu Raka.


Raka lalu menaiki motornya dan dia langsung bersiap untuk ngebut di jalanan.


"satu, dua, tiga." bendera di ayunkan ke atas dan keduanya langsung dengan sekuat tenaga mengendarai motor.


Raka dan lawannya saling bertatapan ketika mereka sejajar mengendarai motor. Tatapan dari sang lawan begitu tampak seperti menyepelekan Raka. Namun, Raka tidak perduli hal itu. dia hanya terus berusaha agar bisa memenangkan pertandingan balapan motor.


di pertengahan jalan Raka melihat mobil berwarna hitam ada dua sedang parkir dan dia melihat beberapa orang mengenakan setelan baju seragam yang sangat dia kenal.


"Sial! mereka mencari ku." Raka berdecak kesal.


Raka langsung berbelok arah dan lawannya melihat hal itu. ada perasaan bingung, tapi sekaligus senang karena dia yakin akan menjadi pemenang.


Raka berjalan menjauh dari arena pertandingan balap motor. Dia pergi ke arah sebuah komplek yang sangat elit dan hanya ada beberapa rumah di sana.


"Gua harus sembunyi sebelum mereka mendapatkan gue."


Saat dia hendak mengumpat di salah satu rumah. Seseorang datang dengan motornya.


"Eh, siapa Lo?" tanya seorang gadis muda yang masih duduk di atas motornya.


Raka membuka helmnya dan dia mengenali gadis itu. "Alesya?" gumamnya nyaris tak terdengar.


"hem ... Iyah bener gue Alesya. Lo lagi apa di sini? wah wah wah jangan-jangan Lo mau mencuri lagi?" tuduh Alesya dengan begitu kejam.


"Eh, kalo ngomong jangan sembarangan ya. Lo enggak kuat motor yang gue pake. enggak mungkin lah gue seorang pencuri. ngarang Lo." kesal Raka.


Pintu gerbang di buka dan tepat saat itu Raka melihat salah satu anak buah Pak Pono menghampiri gang rumah Alesya. seketika dia mendorong motornya masuk menyalip Alesya. hampir saja Alesya terhuyung.


"Iish apaan sih tuh orang. masuk rumah orang lain seenaknya ajah." kesal Alesya yang langsung menarik gas tangan motornya dan menghampiri Raka.


"Keluar gak dari rumah gue. gue enggak terima tamu dan ini udah jam delapan malam ya. enggak sopan bertamu di rumah orang malem-malem." bentak Alesya.


"Shuuut." Raka meminta Alesya diam.


"Tolong izinin gue buat sebentar ajah numpang ngumpet di sini." pinta Raka.


"Terserah deh Lo mau bilang apa. yang jelas pokoknya gue numpang ngumpet dulu. gue mohon banget." Raka memohon dengan sangat.


Dinniar yang mendengar ribut-ribut di luar dan dia hafal itu adalah suara putri sulungnya langsung ke luar rumah dan dia lihat Alesya sedang bicara dengan seorang lelaki remaja.


"Alesya. ini siapa?" tanya Dinniar sambil mendekat.


"Ini, Mih. temen sekelas aku. dia kayaknya kagi di kejar debkolektor deh." sungut Alesya dengan memicingkan matanya.


"Kamu siapa?" tanya Dinniar sambil memperhatikan.


"Saya Raka Tante. maaf saya mau numpang singgah sebentar. sampai orang yang mencari saya pergi." Pinta Raka.


"Oh begitu. ya sudah parkir saja motor kamu di situ. lalu masuk ke rumah. kita ngobrol di dalam. Alesya, ayo kamu juga masuk." Perintah Dinniar.


Alesya menatap sinis kepada Raka. dia tidak suka dengan teman barunya itu. dia merasa kalau Raka anak yang ugal-ugalan dan menyebalkan.


Raka mengekori Dinniar dan Alesya yang masuk ke dalam rumah. Alesya berniat menutup pintu rumahnya untuk menghalangi Raka untuk masuk. namun, aksinya ternyata sudah terbaca oleh Dinniar.


Maminya langsung mengerucutkan sedikit bibirnya dan menggeleng perlahan l. Alesya langsung mengurungkan niatnya. Raka masuk ke dalam rumah dan di sana ada Jonathan.


"Kamu?" Jonathan tertegun melihat sosok remaja yang ditemuinya.


"Hai, Om. kita ketemu lagi." Ujar jonathan sambil menggaruk kepala belakangnya dan sedikit nyengir.


Melihat papa dan Raka saling menyapa membuat Alesya mengerutkan dahinya dan menaikkan salah satu alisnya.


"Papa kenal dia?" tanya Alesya sambil menghampiri papanya.


"Ya, papa tidak sengaja mengenal Raka. Saat itu papa sedang menuju pintu cafe dan seseorang menjambret ponsel yang sedang papa pegang. Raka membantu papa mendapatkan ponsel itu lagi." jelas Jonathan.


"Raka, ayo duduk." Jonathan mempersilahkan Raka duduk di ruang tamu.


"Raka teman sekolah Alesya?" tanya Dinniar sambil duduk di samping suaminya.


"Ya, begitu kira-kira Tante." Raka menjawab dengan sangat malu-malu.


"Temen rusuh." celetuk Alesya dengan melipat kedua tangannya di dada.


Dinniar lalu menoleh dan sedikit tertawa. Melihat tingkah anaknya yang kesal dengan lawan jenisnya membuat ibu tiga anak ini semakin gemas.


"Om, Tante. maaf saya jadi bertamu malam-malam." Raka merasa tidak enak kepada Jonathan dan Dinniar.


"Tidak apa, Raka. memangnya kamu sedang apa di sekitar komplek sini?" tanya Jonathan yang menaruh rasa penasaran.


"Hem ... saya bingung ceritanya dari mana. yang jelas, saya sedang menghindari orang-orang suruhan pak pono." jawab Raka tanpa menjelaskan detailnya.


"Pasti itu penagih hutangnya tuh pah, mih." Alesya kembali menuduh Raka punya tunggakan hutang.


"Alesya." Dinniar menatap putrinya.


"Pak pono adalah kepala asisten rumah tangga di rumah keluarga saya. sementara waktu ini. Saya tidak mau bertemu mereka dulu. jadi saya sedang menghindari mereka." Raka sedikit menjelaskan.


Jonathan mengerti maksud dari Raka. dulu dia juga pernah saat sedang berselisih paham dengan mendiang papanya dan pergi ke rumah teman untuk menenangkan diri. Jadi apa yang di lakukan Raka, Jonathan memakluminya.


"Om, akan coba suruh anak buah untuk memeriksa. jika aman akan om beri tahu." Jonathan beranjak dari duduknya.


Dinniar menatap Raka. "Raka, diminum dulu airnya. Biar lebih tenang." Dinniar tersenyum.