Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 80 - Kabar kehamilan



Dinniar kembali ke rumahnya dan dia langsung mencari kamar putrinya. Di biar masih terus mengawasi kondisi putrinya.


"Non Tasya sudah tidur, Bu. Tadi saya yang menidurkannya. dan dia terlihat sudah cukup tenang sekarang." Kata Bu Imah yang menghampiri Dinniar.


"Terima kasih ya Bi. Untung saja ada bibi yang selalu menjaga kami." Dinniar menutup pintu kamar putrinya.


"Bibi di sini kan kerja Bu. jadi sudah sewajarnya bibi menjaga rumah dan penghuni rumah." Bi Imah tersenyum.


Memang kita selalu berada di ruang lingkup yang dimana sifat orang-orang yang ada di sekeliling kita hampir sama dengan kita. Jika kita selalu baik, maka kita akan di masukkan ke dalam lingkungan dan orang-orang yang baik pula.


Dinniar menaiki anak tangga satu persatu dengan perasaan yang masih mengganjal tentang keputusannya memenjarakan Cornelia. meski sudah di yakinkan oleh Sonia bahwa ini adalah keputusan yang benar. namun, bagi Dinniar ini sepertinya terlalu kejam untuk seorang wanita yang sedang mengandung. Dia tahun penjara, sudah pasti dia akan melahirkan dan membesarkan putranya di dalam jeruji besi.


Dinniar bukan hanya memikirkan bagaimana wanita itu di dalam penjara, tapi dia juga memikirkan bagaimana nanti si anak tumbuh dan berkembang di dalam penjara dengan makanan seadanya dan lingkungan yang tidak layak untuk tumbuh kembang seorang anak.


Dinniar membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Di dalam kamar dia tidak langsung mengganti pakaian dan membersihkan diri. Dia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk. Dia merasa lelah dan penat hari ini meskipun seharian ini ditemani oleh sahabatnya.


Dinniar perlahan memejamkan matanya. dia berusaha untuk tidur untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


...****************...


Susi selesai berkunjung ke kantor polisi. Dia keluar dari kantor polisi dengan perasaan sesak di dadanya. Dia memiliki seorang menantu yang berbeda jauh sekali sikapnya dengan menantu pertamanya, yaitu Dinniar.


Kelakuan Cornelia dan Dinniar bak bumi dan langit bagi Susi. Dia tidak menyangka kalau putranya memilih wanita seperti itu untuk menjadi pendamping hidup.


"Darius, apa yang kamu lakukan? kamu kenapa menyia-nyiakan wanita sesempurna Dinniar. Kenapa kamu malah memberikan hatimu kepada wanita licik seperti Cornelia. apa baiknya dia sampai membuatmu hilang arah?" Susi terus menggerutu selama di dalam mobil taksi.


Darius mendatangi Susi sebelum pernikahan berlangsung. Susi tidak memberikan restu sama sekali dan malah menyarankan meninggalkan Cornelia dan kembali rujuk dengan dinniar. Sayang putranya itu sama sekali tidak mendengarkan apa yang dia sarankan dan malah menikah siri setelah putusan pengadilan.


Susi merasa gagal sebagai seorang orang tua yang membesarkan putranya seorang diri. Darius malah membuat Susi mengingat kembali masa lalu yang selama ini ingin dia lupakan sekuat tenaganya. Namun, naas. Susi malah mendapati putranya mengkhianati wanita. Susi rasanya ingin pergi dari dunia ini mengetahui perselingkuhan putranya.


Dia merasa kembali terjebak dalam masa lalunya lagi. Dia begitu membenci Darius saat itu sampai tidak mau menghadiri pernikahan putranya dengan wanita pilihan Darius.


Mobil taksi terus melaju cepat membelah jalanan. mereka menuju sebuah rumah. Susi ingin pergi ke suatu tempat dan bertemu dengan seseorang di sana.


Mobil memasuki gapura besar dengan nama komplek di atasnya. Mobil yang ditumpangi Susi memasuki kawasan rumah cluster mewah yang hanya terdiri dari beberapa rumah saja.


Mobil berhenti di sebuah rumah besar dengan gaya yang cukup unik. Rumah yang dibuat tanpa pagar. Membuat Susi bisa masuk langsung tanpa menunggu pintu pagar terbuka.


Susi pergi ke rumah Darius. dia ingin bicara banyak dengan putranya saat ini. Dia ingin bicara dari hati ke hati dengan Darius. Di tambah dia tahu kalau Darius memutuskan untuk tidak menemui Cornelia wanita yang dipilihnya dan meninggalkan Dinniar.


Keluarlah sosok seorang pria dari balik pintu.


"Ibu?" Darius terkejut melihat ibunya datang ke rumahnya.


"Kenapa ibu tidak memberi kabar dulu kalau mau datang?" lanjut Darius sambil menutup pintu.


"emangnya kenapa kalau ibu datang tiba-tiba? kamu tidak suka dengan kedatangan ibu mu sendiri?"tanya Susi sambil duduk di sofa ruang tamu.


"bukan begitu Bu. kalau aku tahu ibu mau ke Jakarta pasti aku akan menjemput ibu." ucap Darius.


"kamu itu kan sibuk Darius. bahkan sejak kamu berselingkuh dengan wanita itu. Kamu jarang menemui Ibu di rumah sakit. kamu lebih senang bersama dengan perempuan ular itu."


Darius hanya bisa menundukkan wajahnya. karena memang dirinya salah telah mengabaikan kesehatan dan perasaan ibunya sendiri.


"maafkan Darius Bu. bukan maksudku untuk mengabaikan ibu, tapi memang saat itu aku banyak tugas keluar kota dan banyak project di sana."


meski sudah ketahuan belangnya dari tetap berkelit dihadapan sang ibu. dia benar-benar meremehkan ibunya. Mungkin dia pikir saat ini ibunya tidak pernah tahu seperti apa gelagat orang yang berselingkuh.


"Darius, sepertinya kamu lupa. Ibu adalah wanita yang pernah dicampakkan oleh ayahmu. Ibu adalah wanita yang pernah dikhianati oleh ayahmu. Ibu adalah wanita yang ditinggalkan karena wanita lain. saat itu mungkin Ibu sadar. kalau Ibu tidak secantik, tidak, dan tidak sepintar istrimu diniar. ibu muda dibodohi oleh laki-laki itu. Ibu mudah diinjak-injak harga diri ibu oleh dirinya. tapi pada kasus mu itu berbeda Darius. istrimu begitu sempurna. Dinniar sangat baik hati, dia begitu sangking baiknya menyembunyikan dari ibu tentang perselingkuhanmu." Susi begitu terisak sambil berbicara menahan sesak di dalam dadanya.


"maafkan Darius Bu. aku memang laki-laki yang bodoh. yang salah memang adalah aku. aku laki-laki yang tidak sempurna tapi mampu menghianati cinta istriku yang begitu sempurna dan tulus padaku. Aku menyesal Bu. Aku ingin kembali kepadanya. jikalau Ibu berkenan bantulah aku untuk kembali meraih hatimu." Darius bersimpuh di kaki ibunya memohon bantuan.


"Darius tidak ada satupun hati yang sudah disakiti bisa untuk diraih kembali. itu hal yang tidak mungkin dari. seharusnya sebelum kamu melakukan hal itu kamu pikir dalam-dalam. kamu pikir berulang-ulang lagi. apakah semua itu akan berdampak kepada rumah tanggamu dan juga kepada putrimu." Susi menghela nafas panjang. begitu berat dia menarik nafas karena kejadian ini bagaikan menabur garam di atas hati yang terluka.


"sekarang jangan lagi ulangi yang pernah kamu lakukan kepada Dinniar. kembalilah kepada istrimu. Dia sedang mengandung anakmu, buah hati kalian berdua. jangan lagi sia-siakan wanita Darius dan jangan lagi sampai kamu kehilangan anak karena keegoisanmu." pinta Susi kepada putranya.


meski susi tidak menyetujui hubungan Darius dengan Cornelia. namun, apa daya. nasi sudah menjadi bubur. ditambah lagi tidak mungkin putranya bisa kembali kepada Dinniar. sama halnya dengan dirinya yang tidak pernah bisa kembali menerima suami yang telah menghianati janji suci.


"Cornelia hamil Bu?" tanya Darius dengan tatapan terkejutnya.


"dia mengandung anakmu. Ibu tahu kabar itu dari Dinniar."Susi tercekat saat menjawab pertanyaan putranya.


"ingat Darius bertaubatlah. Jangan pernah sakiti wanita lagi. ingat kamu adalah korban dari penghianatan ayahmu. ingat betapa sulitnya kamu dulu bersama ibu berjuang sampai akhirnya kamu seperti saat ini. ibu mohon kembalilah ke jalan yang benar."


Darius memeluk ibunya erat. dia benar-benar sangat menyesal. dia berjanji kepada dirinya sendiri tidak akan lagi menyakiti wanita.