Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 118 - Mengenang masa lalu



Dinniar sudah berada di bandara Soekarno Hatta bersama dengan Jonathan. Mereka langsung pemeriksaan keamanan, check-in dan menunggu di ruang tunggu untuk beberapa saat kemudian mereka lanjut untuk boarding pass.


Dinniar dan Jonathan langsung naik ke pesawat dan mencari nomor tempat duduk mereka. Setelah menemukannya mereka duduk bersama.


Dinniar begitu menikmati perjalanan mereka menuju ke Palembang. sepanjang mata memandang dunia melihat berbagai bentuk awan dengan bentuk yang begitu unik. Dinniar menjadi merasa ingin untuk tidur di atas awan.


"sangat indah bukan pemandangan matahari tenggelam dari atas seperti saat ini?" tanya Jonathan kepada istrinya.


"sangat indah. Aku jarang sekali bepergian dengan pesawat saat matahari tenggelam. biasanya aku selalu berangkat dini hari agar sampai di sana pagi hari." cerita dini hari tanpa mengalihkan pandangannya dari indahnya matahari yang tenggelam.


Jonathan menggenggam erat tangan istrinya sambil sama-sama menikmati keindahan yang disajikan dari pemandangan di dalam pesawat yang sedang terbang.


tak terasa mereka sampai di bandar udara Sultan Mahmud Hasanuddin II. mereka turun dari pesawat dan di sana sudah ada beberapa orang yang menjemput.


"hai Nathan."seorang pria memanggil Jonathan.


"hai Karel. terima kasih sudah mau menjemput aku dan istriku."Jonathan sangat berterima kasih kepada temannya itu.


"tidak perlu berterima kasih aku sangat senang kamu mau menjumpai ku di daerah yang cukup jauh dari Jakarta." katanya dengan logat Palembang yang kental.


Karel dan Jonathan berteman sudah cukup lama mereka berteman Karena pada saat itu Jonathan mendapatkan kuliah magang di Palembang tentang bagaimana cara berbisnis. di sana dia bertemu dengan Karel dan Karel mengajaknya untuk mengetahui bagaimana cara mengembangkan bisnis dengan berjualan pempek. Jonathan sangat senang memiliki sahabat seorang Karel yang begitu mandiri dan juga pekerja keras.


Karel membangun usahanya sejak dia masih duduk di sekolah menengah atas bersama dengan ibunya. setelah ibunya meninggal dunia dia meneruskan usahanya dengan istri tercintanya.


"sudah lama sekali kita tidak bertemu Jonathan. rasa rindu ini seperti ingin membuncah karena terlalu lama menunggu kehadiranmu datang ke Palembang."merangkul Jonathan dengan sangat akrab.


"kapan-kapan kalian lah yang main ke Jakarta jangan terus-terusan di Palembang saja gaul sedikit."Jonathan sedikit mengimbangi logat bicaranya sesuai dengan logat bicara dari karel.


"oh iya karena kita sibuk mengobrol sejak tadi aku lupa mengenalkan istriku yang sangat cantik ini." Jonathan melirik ke arah istrinya.


"aku juga hampir saja lupa memperkenalkan istriku kepadamu." Karel juga ikut melupakan keberadaan istrinya sangking asik melepas rindu.


"perkenalkan ini adalah istriku Noni." cara memperkenalkan istrinya kepada Jonathan dan juga Dinniar.


"perkenalkan ini adalah istriku diniar. kami baru menikah satu bulan yang lalu." Jonathan menatap mesra istrinya.


"pantas saja terlihat begitu mesra Ternyata kalian ini baru Jadi pengantin. turut senang dengan pernikahanmu. sudah lama sekali aku ingin mendengar berita membahagiakan ini." Karel menepuk pundak sahabatnya.


"kalau kamu sudah menikah berapa lama Karel?"tanya Jonathan yang sedikit ingin tahu kehidupan pribadi sahabatnya yang sudah lama tidak ia jumpai.


"aku sudah menikah selama dua tahun dan sudah dikaruniai satu orang anak. kami memiliki seorang putri yang begitu cantik." karya dengan bangga memberitahukan sedikit kehidupan pribadinya.


"wah Pasti kalian ini sangat bahagia ya karena sudah memiliki seorang putri." Jonathan berbalik menepuk pundak sahabat.


mereka semua pergi menggunakan mobil untuk menuju ke rumah Karel dan Noni. rencananya Jonathan dan Dinniar besok baru akan menginap di hotel terdekat.


Palembang adalah salah satu kota besar di Indonesia. Palembang juga merupakan kota tertua yang ada di Indonesia. bisa menginjakkan kaki di kota Palembang membuat dunia merasa senang.


"besok sebelum kalian menginap di hotel kita akan membawa kalian berdua untuk keliling kota Palembang. banyak sekali beberapa destinasi wisata yang mungkin bisa membuat kalian tertarik untuk berlibur di sini suatu saat nanti." kata Noni.


"wah ide bagus sekali itu. nanti jika liburan sekolah kita bisa untuk berlibur kembali ke Palembang bersama dengan anak-anak." sahut Dinniar.


"anak-anak?"tanya Noni.


"hmmm. iya anak-anak aku sudah memiliki satu orang anak dari pernikahanku yang sebelumnya." kata Dinniar menjelaskan kondisinya yang sudah menjanda sebelum menikah dengan Jonathan.


"kalau begitu kita sama dong. aku juga sudah memiliki satu orang putra dari pernikahanku sebelumnya. dan Karel mau menerimaku apa adanya. bahkan kami berdua merawat putraku sama-sama." Noni sedikit berkaca-kaca menceritakan betapa baiknya Karel terhadap diri.


"berarti kita ini sepertinya sahabat yang memiliki takdir yang sama juga ya."Jonathan menyunggingkan senyumannya.


"kata orang janda lebih menantang."karel tertawa disusul dera tawa Jonathan.


mereka berempat kemudian tertawa bersama telah mengetahui ternyata mereka sama-sama menikah janda beranak satu dan menikahi sudah tidak muda lagi.


mereka sampai di sebuah rumah yang sederhana namun memiliki pekarangan rumah yang cukup luas. di sana juga terdapat dua ruko yang cukup besar yang bertuliskan pempek Mak cik legenda.


"kita sampai silakan masuk." cara mempersilahkan sahabatnya untuk masuk ke dalam rumah.


rumah mereka mungkin tidak terlalu besar seperti rumah Karel namun di rumah itu terdapat empat kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang keluarga, dapur yang begitu bersih dan kamar mandi di setiap kamar.


"wah rumahnya bagus sekali. sepertinya kita akan betah di sini." Jonathan melihat-lihat rumah yang sudah banyak direnovasi.


"rumahnya sudah banyak direnovasi ya karel. namun, depan halaman tetap sama seperti masih ada mak cik." Jonathan seperti sedang bernostalgia.


"benar, semua sudah aku renovasi. hanya saja untuk halaman depan tetap aku pertahankan. di sana tempat dimana Mak cik sangat suka menikmati pemandangan alam dari depan rumah ini." Karel ikut mengingat bagaimana cara ibunya menatap langit saat di malam hari.


malam hari memang sangat indah ketika di pandang dari depan halaman rumah Karel. Di sana mereka bisa menikmati bintang-bintang yang bertaburan di langit dan juga bulan yang bersinar terang.


"Masih tetap sama suasananya. aku masih ingat bagaimana kita setiap hari pulang malam dan Mak cik menunggu kita dan memarahi kita berdua. itu sangat menyenangkan. apalagi kalau kita enggak mau kena omel. pulang mengendap-ngendap."


Karel dan Jonathan kembali terhanyut dalam keadaan masa lalu mereka berdua yang begitu menyenangkan.


"Para suami. ayo masuk ke rumah. kita makan malam bersama." teriak Noni sambil menyiapkan makan malam di bantu oleh Dinniar.