
Dinniar bangun dari tidurnya. dia menuruni tangga hendak pergi ke kamar putri tercintanya.
Sejak tadi malam Dinniar berusaha memikirkan hukuman apa yang pantas dia berikan untuk seorang wanita ular seperti Cornelia. Dinniar tidak akan pernah begitu saja melepaskan orang yang sudah membuat psikologis putrinya terganggu.
"Tasya. sayang." Dinniar membuka pintu kamar putrinya dan dia lihat putrinya sedang mewarnai.
"Tasya sedang mewarnai?" tanya Dinniar sambil menutup pintu kamar.
Tasya mengangguk dan melanjutkan mewarnai gambar yang sudah tersedia di majalah mewarnai.
"mih, apa papi akan kembali ke rumah kita?" tanya Tasya tiba-tiba.
Dinniar tercengang dan merasa tersudutkan dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh putrinya. dia tidak tahu harus menjawab apa. sedangkan dia tidak bisa menerima Darius lagi.
"mami, tidak tahu sayang. semua keputusan ada di papi. lagi pula, papi'kan sudah punya Tante Cornelia." Dinniar mengelus lembut pipi putrinya.
"tapikan mih, Tante Cornelia jahat. dia tidak seperti mami yang sangat baik hati dan juga penyayang. Tasya tidak suka dengan Tante Cornelia sebenarnya." celoteh Tasya.
Dinniar yang mendengar celotehan putrinya merasa kalau kondisi putrinya berangsur membaik. dia tahu keseharian Tasya seperti apa sehingga dia merasa kalau putrinya sudah hampir kembali normal.
"Sayang, kamu tidak boleh berkomentar seperti itu tentang Tante Cornelia. Mami'kan pernah ajarin Tasya. untuk tidak mudah membicarakan orang. jadi jangan bicara begitu lagi ya sayang."Dinniar mengecup pipi putrinya.
"Iyah, Mih. Tasya akan selalu ingat kata-kata Mami." Tasya memeluk Dinniar.
Dinniar selalu mengajarkan hal baik kenapa Tasya. meskipun dia tau seperti apa sifat Cornelia, tapi Dinniar tidak mau menanamkan sifat benci di hati putrinya.
Dinniar keluar dari kamarnya setelah mendapati pesan kalau Sonia akan mampir kerumah.
"Mbok, siapkan minuman dua dan makanan ringan. mau ada tamu datang." Dinniar meminta asisten rumah tangganya menyediakan suguhan.
"Iyah, baik." patuhnya.
Dinniar naik ke dalam kamar untuk membasuh tubuhnya dan merias diri sebelum sahabatnya itu datang.
Mendengar suara deru mobil terparkir di depan pagar. Dinniar langsung keluar kamar dan bersiap menyambut kedatangan sahabatnya yang katanya memiliki kabar baik.
Dinniar dengan cepat menuruni tangga karena tidak sabar ingin mendengar kabar baik dari sahabatnya itu.
"Hai." sapa Dinniar dengan wajah yang berseri-seri.
"hai bestie," Sonia membuka lebar kedua tangannya dan bersiap untuk memeluk sahabatnya.
Mereka berdua sayang cipika cipiki. Dinniar melihat raut wajah bahagia dari Sonia. seakan dia sudah tau kabar bahagia apa yang akan dia dengan kali ini.
"Kita duduk dulu." ajak Dinniar.
kedua sahabat itu duduk di sofa bersampingan. Sonia sudah sangat tidak sabar ingin memberikan kabar gembira itu.
"Aaaah." Teriak Sonia sangking tidak bisa mengontrol kesenangannya.
Dinniar tertawa sambil menutup mulutnya. dia sangat hafal betul seperti apa sahabatnya jika sudah bahagia. Sonia mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengeringkan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Minum dulu, santai, relax. baru bicara dengan baik. sampaikan berita bahagia itu." Dinniar menyodorkan segelas air sirup rasa melon dingin.
Sonia dengan cepat meneguk seperempatnya air sirop di dalam gelas. dan meletakkan gelas di meja. dia menarik napas dalam dan segera menghembuskannya. sudah terasa jauh lebih tenang Sonia menatap Dinniar yang sudah siap menjadi pendengarnya.
"dengar, ini adalah berita yang sangat menggembirakan. aku saja sampai-sampai tidak bisa menahannya."
"Din, aku hamil." sontak Sonia langsung menghamburkan pelukannya.
Dinniar menyambut dengan suka cita berita menggembirakan itu.
"Alhamdulillah, Sonia. aku seneng banget dengernya. berarti Tasya mau punya adik. sebentar aku panggilkan Tasya dulu."
Dinniar langsung berlari ke dalam kamar putrinya dan kembali keluar bersama Tasya.
"Ucapkan selamat kepada Aunty Sonia. Aunty di perutnya ada Dede bayi. Adiknya Tasya juga."Dinniar mendekatkan Tasya kepada Sonia.
"Selamat Aunty Sonia. Tasya sangat senang mendengarnya. Tasya doakan semua sehat dan aku punya teman baru." Tasya kemudian mendekat dan mengelus perut Sonia yang masih terasa datar.
Melihat seorang putri kecil yang terlihat sangat bahagia membuat kedua orang dewasa itu semakin bahagia.
Disaat sedang merasakan kebahagiaan yang hadir dalam kehidupan pertemanan mereka. bunyi hentakan sepatu yang bergesekan dengan lantai terdengar jelas.
"Assalamualaikum, Tasya." Seorang pria masuk ke dalam rumah dengan wajah tertutup boneka Teddy bear.
"Waalaikumsalam." Dinniar menjawab salam sambil berdiri dari duduknya.
Tasya yang tadinya duduk di antara maminya dan juga Sonia langsung berpindah ke belakang maminya. dia berlindung di balik tubuh maminya sangking masih takut melihat wajah pria yang berstatus ayahnya itu.
"Tasya, ini Papih sayang. Jangan takut, Papi sangat sayang kepada Tasya. Papih ingin peluk Tasya." Darius melangkah lebih mendekat.
Tasya langsung bersembunyi lebih dalam ke balik badan Dinniar.
"Mas, kamu mau apa?" tanya Dinniar yang semakin sakit melihat putrinya ternyata masih mengalami sedikit trauma.
"Aku kemari ingin bertemu dengan, Tasya. aku rindu kepadanya. Papi ingin peluk Tasya." Darius merentangkan tangannya dan berharap putrinya langsung memeluknya seperti yang di lakukan Tasya dulu.
"Mas, Tasya masih belum stabil. Dia masih mengalami guncangan. Dia masih takut bertemu denganmu," Seru Dinniar.
Adu cekcok mulut pun terjadi diantara dua insan yang sudah resmi bercerai dan memiliki kehidupan masing-masing.
"Dinniar, aku ingin mencoba agar Tasya bisa sembuh dan mau dekat denganku lagi." Paksa Darius.
"Tidak bisa, mas. lebih baik kamu pergi dari rumah ini dan jangan temui kami." Pinta Dinniar.
"Dinniar, Tasya itu juga putriku. aku berhak mencurahkan kasih sayangku kepadanya. dia masih butuh sosok seorang ayah." teriak Darius.
mendengar adu mulut kedua orang tuanya. Tasya dengan cepat menutup kupingnya. Dinniar menyadari hal itu.
Dinniar gegas membalikkan badannya dan merengkuh putrinya dalam pelukan."Tasya, jangan takut. Tasya ke kamar dulu sama Aunty ya." Dia mengusap lembut wajah sang putri.
Sonia langsung menggandeng Tasya dan berjalan ke arah kamar putri kecil yang tubuhnya ternyata terasa gemetar.
Melihat putri dan sahabatnya sudah masuk ke dalam kamar. Dinniar menghampiri Darius. kini mereka saling bertatapan satu sama lain. Dinniar melayangkan tatapan menyalak kepada mantan suaminya itu.
"Mas, tidak bisakah kamu biarkan kami tenang dulu. Tasya masih dalam kondisi yang belum sembuh total dari traumanya. Jika dia sudah kembali normal. aku tidak akan menghalangi mu untuk bertemu dengannya." Tegas Dinniar.
"Tapi aku sangat merindukan dia Dinniar. kamu harus mengerti itu!" Darius tidak mau kalah dalam beradu argumentasi dengan mantan istrinya.
"Mas, kenapa kamu sekarang sangat keras kepala sekali? aku sudah bilang tunggu. apa susahnya kamu menunggu?" Dinniar melengkingkan suaranya.
Dia sangat jengah dengan sikap semaunya Darius. Pria itu sudah sangat tidak sabaran semenjak tinggal dan bergumul dengan Cornelia.