
Dinniar bermain bersama dengan Tasya di pantai. tak lama Alesya ikut menghampiri mereka berdua.
"Bu Dinniar. boleh aku ikut main?" tanya Alesya.
"Tentu Alesya. ayo kita main bersama."
Alesya dan Tasya bermain membangun istana bersama.
"Tasya. pasti seru kalau kita selalu bermain bersama." Alesya bicara sambil membentuk pilar istana.
"Benar sekali. bagaimana kalau kita main bersama terus. apa nantinya kita akan menjadi kakak adik?" tanya Tasya.
"kakak adik?" Alesya bingung.
"Iyah, kata Bu guru orang yang selalu bermain bersama bisa menjadi saudara."
anak usia Tasya memang selalu merekam Apa perkataan orang-orang yang ada di sekitarnya. Tasya mengingat benar apa yang dikatakan oleh bu gurunya tentang bermain bersama dan saling berbagi.
"benar Tasya apa kata bu gurumu. kalau kita selalu bermain bersama, kita akan menjadi saudara." Alesya menepuk-nepuk tangannya untuk menghilangkan pasir yang menempel.
"kalau begitu Tasya mau jadi adiknya Kak Alesya."
"benarkah? Pasti sangat seru. apalagi kalau kita tinggal bersama."
perbincangan Tasya dan Alesya didengar oleh Dinniar. mendengar percakapan itu diniar masa kalau Tasya sedang benar-benar kesepian.
Jonathan menghampiri Dinniar yang sedang berdiri mengawasi anak dan keponakannya.
"aku hanya sedang memperhatikan putriku saja. aku rasa dia kesepian akhir-akhir ini. apalagi mendekati ujian, aku akan lebih sering berada di sekolahan." Dinniar bicara sampai terus memperhatikan putrinya.
"jangan terlalu overthinking kepada anak sendiri. belum tentu dia merasa kesepian. biarkan mereka bermain di sana. ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan denganmu."
Dinniar tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh Jonathan kepadanya. dia mengikuti langkah Jonathan menjauh dari pantai.
"aku tahu ini bukan waktu yang tepat. namun, aku rasa sudah waktunya untuk bicara." Jonathan berusaha memberanikan diri mengungkapkan apa yang dia rasakan.
"ada apa?"tanya diniar.
"apakah kamu mau menjalin hubungan denganku?"dengan cepat Jonathan mengatakan apa maksudnya.
"jangan bercanda. Aku baru saja bercerai dari suamiku. aku rasa kamu juga belum mengenalku. Aku bukan ingin menolak. Menurutku ini bukan saat yang tepat."
"Aku tahu itu. tapi bukankah mantan suamimu juga sudah menikah? Kenapa kamu juga harus menunda memiliki hubungan dengan pria lain?"Jonathan bicara seperti sedang mendesak Dinniar.
biar menatap Jonathan lekat-lekat. pria tampan dengan janggut tipis yang memenuhi wajahnya. memang sangat indah dipandang. wajah tampan Jonathan dan bola mata yang berwarna biru. membuat siapapun yang melihatnya akan terpanah. hanya saja bagi Dinniar. dia belum bisa menerima pria lain dalam hidupnya.
"Maaf Jonathan aku rasa aku belum siap. menjalin hubungan dengan pria lain. itu berarti aku harus belajar dari nol. belajar memahami, belajar mengerti, kembali belajar apa artinya cinta. mengucapkan kata cinta memang cukup ringan, tapi untuk mempertahankan cinta itulah sangat berat. aku yang sudah gagal satu kali dalam berumah tangga. berpikir masak-masak untuk menerima pria lain dalam hidupku." Dinniar mengucapkan apa yang ada di benaknya saat ini.
"aku gini bukanlah seorang gadis. Aku seorang janda beranak satu. dan pria itu jika ingin masuk ke dalam kehidupanku. harus mau menerima gadis kecilku. gadis kecil yang begitu berharga di dalam hidupku." lanjut Dinniar.
benar apa kata Dinniar. seorang pria yang menginginkan janda beranak. bukannya hanya mencintai ibunya saja tapi juga harus bisa mencintai putrinya dengan tulus.