
Dinniar sedang mempersiapkan dirinya untuk pergi menghadiri sidang pertama Cornelia dengan kasus penculikan yang di rencanakan oleh istri baru dari mantan suaminya.
Dinniar menatap cermin dan bertanya kepada dirinya sendiri. apakah dia harus memberikan pelajaran yang lebih berat lagi kepada Cornelia atau hanya cukup membuat wanita itu merasakan efek jera dari perbuatannya.
"Apa mungkin keputusan pengadilan nanti akan bisa membuat wanita itu merubah sikapnya menjadi lebih baik?" tanyanya sambil terus menatap dirinya di cermin.
Tok tok tok
terdengar suara pintu kamar Dinniar diketuk oleh seseorang dari luar kamar.
"Din, apa kamu sudah siap?"
Ternyata Sonia yang mengetuk pintu. Di lihat oleh Dinniar ternyata sudah satu setengah jam dia menatap dan berbicara dengan dirinya sendiri di cermin.
"Ya tuhan, aku sampai lupa waktu hanya karena memikirkan hal tersebut. aku harus bersiap untuk pergi ke pengadilan. aku tidak boleh terlambat." Dinniar langsung meninggal cermin yang menempel di meja riasnya.
Dia membuat pintu kamar dan melihat sahabatnya sudah menunggunya sambil bersandar di tembok.
"Yang mau ke pengadilan dandannya lama banget. mau ketemu mantan ya, jadi dandan cantik biar mantan menyesal?" goda Sonia kepada Dinniar.
"dasar kamu ya. enggak begitu juga kali konsepnya. aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja. maaf ya jadi menunggu lama." Dinniar jadi merasa tidak enak kepada sahabatnya itu.
"udah-udah. ayo kita langsung berangkat. takutnya di jalan macet nanti malahan sidang bisa tertunda karena penggugat tidak hadir di pengadilan." Sonia langsung mengajak Dinniar menuruni tangga dan mereka langsung masuk ke dalam mobil.
Skema diperjalanan Dinniar kembali melamun dan terlihat sedang banyak sekali pikiran. Sonia yang menyadari keanehan dari sikap sahabatnya terus memperhatikan Dinniar.
"Hei, apaan sih yang lagi di pikirin? bagi-bagi dong, jangan di pikirin sendiri." Sonia mengajak bicara Dinniar sambil terus menyetir mobilnya.
"Apaan sih. emangnya makanan dibagi-bagi." Dinniar tertawa kecil.
"enggak hanya makanan yang bisa dibagi. permasalahan yang sedang kita hadapi juga bisa di bagi kepada orang yang kita percaya. agar bisa dipikirkan bersama dan mencari solusi terbaik." Sonia menyinggung sahabatnya yang sedang banyak pikiran dan memendamnya seorang diri.
"Aku hanya sedang bingung. apa mungkin kita harus memenjarakan Cornelia lebih lama lagi? apa tidak sebaiknya aku cabut saja gugatannya? mungkin saat ini dia sudah jera. ya kan?" tanya Dinniar dengan menoleh ke arah Sonia.
"Aku tidak setuju. dia harus diadili dan menjalani hukuman." Tegas Sonia tanpa ampun.
Sonia sangat geram kepada Cornelia. kelakukan Cornelia dan keputusan wanita itu untuk menjauhkan Tasya dari Darius dengan cara menculiknya itu sangatlah ekstrim dan brutal sekali. Bagi Sonia Cornelia bahkan tidak pantas dimaafkan dan harus mendapatkan hukuman semaksimal mungkin.
Dinniar dan Sonia sampai di pengadilan. mereka kesana bukan hanya ingin mendengar putusan hakim, tapi mereka juga ingin mendengar bagaimana seorang wanita dengan tega dan kejamnya menculik darah daging suaminya sendiri dan bagaimana dengan kejamnya dia menyiksa Tasya sampai membuat anak kecil itu mendapatkan perawatan medis di rumah sakit karena dehidrasi dan juga diikat dengan tali kaki dan tangannya.
...****************...
Dinniar masuk ke dalam koridor pengadilan, di sana dia tidak sengaja berpapasan dengan Cornelia yang tangannya di borgol dan memakai pakaian tahanan berwarna biru tua.
Melihat Dinniar, dengan cepat Cornelia bersimpuh di kaki wanita yang telah melahirkan anak yang pernah dia culik.
"Dinniar, aku mohon ampuni aku. Aku mohon agar kamu mau membebaskan ku. Aku sedang mengandung anak dari mas Darius. aku tidak mau dia lahir dan besar di dalam penjara." Cornelia memohon kepada mantan istri suaminya.
"Akui saja dulu semua perbuatannya di hadapan hakim. Setelah itu kamu bisa menantikan apa keputusanku setelah hakim mengetuk palu. dan membacakan berapa lama kamu di dalam penjara."
Dinniar menghempaskan tangan Cornelia yang sejak tadi menjabat tangannya.
Dinniar berjalan lurus ke depan dan tiba-tiba terhenti saat sudah hampir dekat dengan pintu ruang pengadilan.
"Ada apa, Din?" tanya Sonia yang menemaninya.
Dinniar mulai berkaca-kaca matanya. Sonia mengerti sekarang, pasti sahabatnya itu sedang merasa ditikam oleh wanita yang mengaku sedang mengandung anak mantan suaminya.
"Din, duduk dulu. tenangkan hatimu." Sonia mengelus lembut punggung sahabatnya itu.
"Son, dia sedang mengandung. itu berarti ada adiknya Tasya di dalam rahimnya. apa mungkin aku harus membuatnya tinggal di dalam penjara?" Lirih Dinniar.
"Dinniar. Dia telah membuat putrimu kehilangan ayahnya. Dia juga telah membuat putrimu menjadi trauma. Aku tidak bisa membiarkan dia bebas berkeliaran di luar hanya karena sedang mengandung." Sonia mengalihkan pandangannya.
"Bu Dinniar, tersangka dan juga hakim sudah berada di dalam ruangan. Silahkan masuk ke dalam." Kata petugas penjaga ruang pengadilan.
Dinniar mengangguk dan menghapus air matanya. Dia menarik nafas dalam dan berusaha menetralkan hatinya. Dia harus kuat.
Dinniar yang di temani oleh Sonia masuk ke dalam ruang pengadilan. di sana juga sudah ada Darius duduk sebagai saksi.
Dinniar duduk di barisan bangku paling depan sebagai penggugat. Dinniar mengedarkan pandangannya ke arah pria yang sudah menaruh luka dihatinya.
"Mas, kini istrimu sedang mengandung buah hati kalian berdua. Apakah saat kamu mendengar dia sedang mengandung hatimu akan luluh? Apa kamu akan berusaha membuatnya terbebas dari hukuman?" Dinniar memberikan beberapa pertanyaan kepada Darius dalam diam.
Darius dan Dinniar saling menatap satu sama lain. Dinniar yang mengetahui Darius sedang menatapnya dia langsung menarik wajahnya dan fokus ke depan.
Diruang pengadilan ini sudah berkumpul, terdakwa bersama penasehat hukumnya. Penyidik dan penyidik pembantu, jasa dan penuntut umum, saksi, penggugat dan penasehat hukumnya.
semua berkumpul untuk mengetahui kesalahan yang telah di perbuat oleh Cornelia dan hukuman apa yang akan di jatuhkan oleh hakim.
Hakim mulai menanyakan beberapa pertanyaan kepada Cornelia dan penasehat hukumnya memberikan beberapa pembelaan untuk kliennya.
Dinniar juga dimintai kesaksiannya. Jonathan juga dimintai keterangannya sebagai orang yang menemukan Tasya dan mendapatkan beberapa bukti kejahatan cornelia.
Darius memberikan keterangan atas keteledorannya dalam menjaga putrinya. Darius mengakui kesalahannya sebagai ayah yang tidak cukup perhatian kepada putrinya.
Dia orang yang mendapatkan tugas dari Cornelia juga memberikan pernyataannya. Suasana di dalam ruangan pengadilan cukup kondusif meski penasehat hukum Cornelia terus meminta keringanan atas hukuman yang akan di jalani oleh kliennya. Cornelia mengaku melakukan hal itu atas kecemburuannya kepada Dinniar dan Tasya yang masih mendapatkan perhatian dari Darius.
Semua di dalam ruangan ini sedang menanti keputusan hakim setelah menimbang semuanya.
"Hakim memutuskan, dua tahun penjara!"
Ketukan palu terdengar begitu renyah di telinga Dinniar. Dia memejamkan mata setelah Hakim memutuskan. Dia bahkan menumpahkan air matanya. Masih terselip rasa iba untuk Cornelia, tapi dia juga tidak mau Cornelia abai akan hukuman jika dia memaafkan dan menarik tuntutannya.