
Selasi jam kerjanya, Dinniar langsung menemui Violin kembali di kantin sekolah, dia sudah berjanji akan mengantar Violin ke dokter kandungan, Dinniar juga berharap kali ini keberuntungan memihak Violin.
"Ayo kita pergi." Ajak Dinniar.
"Motor kamu?" tanya Violin.
"Sudah tenang saja, motor urusan penjaga sekolah." Dinniar mengerlingkan satu matanya, membuat sahabatnya tersenyum rekah.
Dinniar selalu bisa membuat hati orang kembali normal, dalam kondisi terpurukpun dia mampu menghibur orang lain dan melupakan keterpurukannya, dulu Dinniar pernah gagal dalam ujian kepegawaian, dirinya merasa sedih tapi di satu sisi ada Violin yang menikah secara paksa atau dijodohkan, disaat itulah, Dinniar lebih memilih menghibur sahabatnya dibanding memikirkan kesedihannya, Dinniar mampu mengesampingkan masalahnya, itulah yang membuat dia selalu menjadi tempat bersandar sahabatnya.
Mereka sampai di sebuah rumah sakit yang tidak akan ada kaitannya dengan keluar besar Samuel, Violin melakukan itu karena tidak mau keluarga suaminya menjadi sedih.
"Nyonya Violin."
"Vi, dipanggil." Dinniar dan Violin langsung masuk ke dalam ruangan.
"Selamat Siang,Ibu," sapa sang dokter.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Ayu, sesuai dengan nama di nametag.
"Ini, Dokter, saya sudah telat satu bulan tapi saya tidak tahu apakah saya hamil atau tidak." Violin bicara dengan nada ragu.
Dinniar menggenggam tangan violin, menguatkan dan memberikan semangat, itu yang terpenting untuk Violin saat ini.
"Kita periksa dulu ya, silahkan berbaring di ranjang." Dokter berkata dengan ramah.
Dinniar menunggu dengan resah, dia berharap kali ini keberuntungan memihak kepada sahabatnya, dia ingin kebahagiaan menghinggapi kehidupan rumah tangga sahabatnya. Do'a tidak hentinya di panjatkan oleh Dinniar dalam hatinya.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Dinniar tidak sabar.
Dokter tersenyum dan Dinniar berharap di balik senyuman itu ada berita yang selama ini dinanti.
"Hasilnya, Ibu Violin sedang mengandung dan usia kandungannya sudah jalan dua minggu."
Mendengar penjelasan dokter membuat kedua wanita itu saling memandang dan mengembangkan senyuman, Dinniar memeluk Violin dan membisikkan kata selamat, dia sangat bahagia dengan berita gembira ini.
"Sekali lagi selamat ya, sayang." Dinniar menggenggam tangan Violin erat.
Kebahagiaan sangat terpancar di raut wajah keduanya, tidak ada kabar paling berharga selain berita kehamilan Violin.
.
.
Setelah mengantar sahabatnya, Dinniar langsung pulang ke rumahnya, karena dia ingin memasak resep masakan baru untuk makan malam hari ini namun, hari ini Darius kembali mengingkari janjinya untuk pulang cepat, lagi-lagi Dinniar hanya makan malam berdua dengan putrinya.
"Mami, kok papi pulang telat lagi?" Tasya mulai kembali protes.
"Papi sedang ada kerjaan di luar kota, mungkin agak pulang malam, sayang." Dinniar memberi pengertian.
"Mih, kalau Tasya besar, tasya tidak mau kerja kayak papi," celetuk anak berusia Empat tahun yang sudah pandai bicara dan mengungkapkan perasaannya.
"Kenapa?" tanya Dinniar.
Tasya diam sejenak. "Karena bikin lupa waktu." Kesalnya.
"Terus Tasya mau jadi apa kalau sudah besar nanti?" tanya Dinniar.
"Mau jadi kayak Mami, biar bisa punya waktu banyak buat temenin Mami."
Anak berusia empat tahun itu begitu mengidolakan Maminya, Dinniar selalu tahu waktu ketika berada di luar rumah, dia tidak mau putrinya menunggu terlalu lama kepulanganya.
"Kalau begitu, sekarang anak cantiknya Mami, makan dulu yang banyak, biar cepat besar,"
Dinniar memperhatikan putrinya dengan seksama ketika sedang makan malam sendiri, Tasya anak yang cukup mandiri, sejak usia dua tahun, dia sudah meminta makansnediri tanpa disuapi lagi.
"Hari ini, kamu lupa lagi janjimu, Mas, kasihan Tasya menunggumu."
.
.
Dinniar menunggu suaminya di dalam kamar, dia tidak tahu kapan suaminya tiba dirumah, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Kenapa kamu belum juga sampai di rumah, Mas?"
Terdengar bunyi klakson dan suara mobil masuk ke dalam garasi rumah, Dinniar tapi tidak seperti biasanya, dia yang dahulu selalu semangat menyambut kedatangan suaminya, kini dia enggan, banyak hal kini yang sudah berubah dari suaminya, dia bahkan seakan tidak lagi mengenal suaminya lagi.
.
.
"Ibu di mana, Bi?" tanya Darius saat melihat pembantunyalah yang membukakakn pintu.
"Ibu di kamar, Pak."
Darius langsung mengambil langkah cepat, dia sadar kali ini pasti istrinya sudah kecewa berat karena dirinya sudah terlalu sering mengingkari janji.
Dibukanya pintu kamar perlahan, dirinya mendapati istrinya sudah terbaring di tempat tidur dan memejamkan mata.
"Maafkan aku, aku terlambat pulang lagi." Kecupan kening diberikan Darius.
Dinniar yang pura-pura terlelap, mencium aroma tidak biasa dari pakaian suaminya, sehingga dirinya terpaksa membuka mata.
"Kamu sudah pulang, Mas?" tanya Dinniar saat membuka matanya.
"Maaf, aku mengganggu tidurmu, sayang." Darius mengubah posisinya dan membuka pakaiannya.
"Kemarikan pakaianmu, biar aku bawa ke ruang cuci." Pinta Dinniar.
"Tidak perlu sayang, biar nanti aku yang bawa kebelakang."
Dengan cepat Darius memeluk istrinya, dalam pelukan suaminya, Dinniar mencoba mengendus wangi yang menempel di tubuh suaminya.
"Aku yakin, ini bukan wangi parfum Mas Darius. juga bukan parfumku, lantas parfum siapa?" Dinniar mulai menaruh curiga.
Terngiang selalu perkataan mereka, selentingan itu membuat dirinya menjadi tidak bisa berpikir jernih, dia terus berpikir kalau suaminya main dibelakangnya.
Di ruangan belakang tempat asisten rumah tangga mencuci baju, Dinniar bertemu Bi Atun yang bertugas mencuci dan memasak.
"Bi, apa kita ganti pewangi pakaian untuk setrika?" tanya Dinniar agar tidak salah tanggap.
"Tidak, Bu," jawab Bi Atun.
Dinniar terdiam dan mengendus ulang wangi yang menempel di pakaian suaminya.
"Bu ... Bu." Bi Atun memanggil Dinniar karena merasa sikap majikannya aneh.
"Apa ada sesuatu? Apa perlu kita ganti pewangi?" tanyanya sambil melihat Dinniar.
"Tidak perlu, Bi." Dinniar meletakkan baju Darius.
"Sa-Saya ke kamar dulu." Dinniar pergi dengan tetasan air mata.
Dinniar langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya, berusaha menenangkan dirinya sebelum kembali ke dalam kamar, agar suaminya tidak bertanya, karena itu terjadi dan Dinniar bicara tanpa bukti, sudah pasti pertengkaran yang terjadi.
.
.
Darius mencari keberadaan istrinya yang tidak kembali ke kamar mereka.
"Bi, liat Ibu?" tanya Darius kepada Bi Atun.
"Ibu? Bukannya sudah kembali ke kamar, Pak?" tanya Bi Atun yang tidak mengerti kondisi ini
"Makasih, Bi." Darius langsung pergi ke suatu tempat.
.
.
Dinniar membayangkan dirinya harus kehilangan cinta pertamanya, pria yang saat ini menjadi suaminya adalah murni cinta pertamanya, bukan berarti Dinniar tidak pernah menyukai pria lain, hanya saja Dariuslah pria yang bisa meyakinkan hatinya untuk mengarungi bahtera rumah tangga.
Rasa sesak didada menghampiri Dinniar, beberapa perubahan sudah mulai dia rasakan, suami yang selalu ada untuk keluarga sekarang terdapat jarak diantara mereka, Dinniar merasa dia tidak akan mampu menghadapi kenyataan jika memang suaminya membagi cinta, baginya Darius segalanya.
.
.