Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
234-Momen berharga



Ayam sudah mulai berkokok. matahari juga sudah sangat naik. terlihat dari sinarnya yang mampu menyilaukan mata. bulan ini adalah musim kemarau yang panasnya sangat terik.


"Sayang, pakai sun screen dulu. di luar sudah sangat panas." Dinniar mengoleskan cream pencegah terpapar sinar matahari di tangan Alesya.


"Biar aku ajah, mih." Alesya mengambil alih botol sun screen dari tangan maminya dan mengoleskannya sendiri.


"Tasya, Devano kalian juga ayo pakai dulu."


Sikap perhatian Dinniar sangat permanen. tak akan hilang dan malah setiap hari perhatiannya kepada anak-anaknya semakin besar. Jonathan hanya senyum-senyum sendiri melihat tingkah istrinya yang selalu sibuk di pagi hari untuk mereka semua.


Jonathan tiba-tiba mengecup pipi sang istri yang sedang serius mengolesi cream ditangan putranya.


"Sayang." Dinniar jadi tersipu-sipu.


"Cie ... Cie, papa." ledek ketiga anak mereka.


Jonathan langsung merangkul istrinya. "Kalian senang kan punya mami cantik dan sangat baik hati?" tanya jonathan yang lalu menatap lekat wajah istrinya yang masih tersenyum.


"Tentu dong. mami itu ibu yang paling sempurna dan sangat membuat kita semua bahagia." seru Devano.


"Bener banget. dengan hadirnya mami. aku tidak kekurangan kasih sayang sedikitpun. bahkan aku selalu berlimpah kasih sayang." Alesya langsung memeluk Dinniar.


Dinniar lalu membalas pelukan sang anak gadis. Tak lama kedua anaknya ikut memeluknya erat. Mereka saling berpelukan mencurahkan kasih sayang.


"Sudah-sudah. lihat ini sudah jam berapa. nanti kalian terlambat."


selesai Dinniar bicara anak-anaknya langsung bergantian mengecupnya. Devano dibantu oleh papanya untuk bisa mengecup pipi sang mami. Dinniar benar-benar menjadi terharu dengan momen pagi hari yang sangat tidak terduga ini. meski mereka selalu menunjukkan sikap kasih dan sayang. namun, momen seperti ini begitu selalu membuatnya bahagia. seberapa banyak dan sering kebersamaan mereka tetap terasa bermakna setiap momennya.


"Aku berangkat." Alesya meraih tasnya dan langsung berlari keluar rumah.


Dinniar masih mematung di posisinya saat ini dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.


"Kita akan terus seperti ini. kecuali kalau nanti Alesya sudah ada yang meminang dan menikah. sudah pasti kita akan kekurangan momen seperti saat ini." Dinniar menatap suaminya dan sedikit tertawa kecil.


"Tidak-tidak. aku tidak akan pernah menikahkan Alesya dengan cepat. dia harus menikah di usia tiga puluh tahun." Jonathan menjadi asal bicara.


"Hush. sembarangan ajah kalau ngomong. mau anaknya jadi perawan tua?" Dinniar mencubit gemas hidung suaminya.


Jonathan dan Dinniar menjadi saling tertawa. kehidupan ini memang sangat unik. banyak kejutan di dalamnya. terkadang kita tersandung karena tak hati-hati. kadang juga jalan sangat mulus hingga bisa mencapai kebahagiaan.


.


.


.


Alesya sampai di sekolahnya. dia langsung berlari menuju ke kelasnya. dia berlari bukan karena takut terlambat. dia berlari karena ingin mengutarakan rasa kesalnya.


"Raka." panggilnya dengan napas yang tersengal-sengal.


"Atur dulu napasnya baru ngomong." Raka bicara dengan sedikit melirik.


"Denger ya. pokoknya gua enggak mau satu kelompok sama Lo. gua harap Lo ajukan keberatan ke wali kelas kita." Alesya bicara dengan nada ketus.


"siapa yang keberatan? Lo kan?" Raka bicara dengan sangat enteng.


perkataan Raka membuat rasa kesal Alesya semakin besar.


"Oh, jadi Lo enggak keberatan dengan satu kelompok sama gue? okeh fix. gue anggap Lo lagi berusaha deketin gue." Alesya menyeringai.


"Deketin? Lo pikir, Lo itu siapa? denger ya! gue enggak protes karena menghargai wali kelas kita. kita di sini cuma murid. jadi cukup ikuti ajah." Raka berdiri dan pergi meninggalkan Alesya yang masih mematung.