Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 187 ~ Bersama tak bisa, bersama tersiksa



Darius dilanda kebimbangan di dalam hatinya. Dia yang belum bisa terlepas dari Cornelia secara sah di pengadilan membuat dirinya harus terus dibayangi oleh Cornelia.


Darius berkali-kali hari ini mendapatkan panggilan telepon dari rumah sakit jiwa. Dia tidak ingin menanggapi karena itu pasti tentang Cornelia. dia sudah lelah mendengar kalau Cornelia menolak makan, menolak mandi dan menolak untuk bicara dengan siapapun. Darius tidak mau lagi termakan omong kosong Cornelia yang membuat hidupnya hancur. Pernikahannya dengan Cornelia sudah sangat menjadi pelajaran untuknya. bahwa cinta bisa berubah menjadi ambisi dan jika ambisinya tidak terpenuhi maka akan terjadi sesuatu di luar kehendak.


"Suaminya tidak juga menanggapi." Bagian administrasi menyampaikan hal itu kepada Nia perawat yang mengurus semua hal untuk Cornelia.


"Apa dia benar-benar sudah mengabaikan istrinya? dia sungguh sangat tidak memiliki hati." Nia menjadi kesal terhadap Darius.


Nia yang terluka akibat serangan dari cornelia membuat dia menjadi kesal kepada Darius. Dia berjalan dengan menghentakkan kakinya.


Nia masuk ke dalam ruang ganti perawat. Dia mengganti pakaiannya dan dia juga mengobati lukanya. Dia terus menggerutu dengan kejadian hari ini.


"Hah! dari semua pasien dengan gangguan jiwa. hanya dia yang sangat brutal kepada perawat. dia tidak ada takutnya kepada kami semua. sebenarnya kenapa dia bisa mengalami gangguan jiwa?"


Setiap pasien yang mengalami gangguan jiwa terjaga rahasianya. Meskipun memiliki perawat, tetapi dokter hanya akan meminta perawat untuk mengurus keperluan tanpa mengetahui pemicu dari kerusakan mental pasien. semua dilakukan hanya semata untuk melindungi pasien dari hal yang tak diinginkan.


Cornelia yang berada di ruangannya hanya bisa menunduk lesu. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Bagaimana caranya aku keluar dari sini? aku mau pulang, aku mau bertemu dengan suamiku." Cornelia mulai menggerutu sendiri.


Cornelia melihat sekelilingnya. Hanya ada kasur dan satu lemari kecil yang digunakan untuk menyimpan pakaian.


"Sayang, aku akan pulang untukmu. tunggu aku di rumah." Cornelia menaikkan satu alisnya seakan memiliki rencana yang licik.


Entah apa yang di rencanakan oleh wanita ini. dia terkadang terlihat tidak sehat mental, tapi terkadang sangat normal bahkan bisa berpikir begitu liciknya.


Cornelia naik ke atas ranjangnya dan memeluk guling ya dengan erat lalu terpejam. dia tidur dengan wajah yang sangat ceria.


.


.


.


Darius melamun di dalam kamarnya. dia memikirkan apakah dia perlu bertemu dengan Cornelia. karena memang selama Cornelia di bawa ke sel tahanan dan divonis hukuman penjara sampai istrinya masuk ke rumah sakit jiwa'pun, dia belum sekalipun menemui.


"Apa aku perlu ke sana? tapi untuk apa? aku tidak mau lagi bertemu dengannya. karena ketika bersamanya aku begitu dipenuhi hal-hal buruk dan juga banyak ketakutan di dalam hatiku. dia wanita yang sulit di tebak setelah keluar dari penjara. bahkan aku tidak menyangka dia bisa menculik Alesya." Darius menjadi dilema. Dia semakin merasa kalau dirinya tidak bisa lagi menerima kehadiran Cornelia di dalam kehidupannya.


Darius akhirnya memutuskan untuk tidur. dia tidak mau lagi memikirkan Cornelia. karena semakin dipikirkan maka semakin sakit kepalanya dan semakin sakit hatinya karena tingkah Cornelia yang sudah diluar kendalinya.