
Alesya tiba di rumah. Dan tidak lama Dinniar juga sampai bersama dengan jonathan dan kedua anaknya.
"Kakak, sudah pulang?" tanya Dinniar lalu memeluk putrinya.
"mami, papa dan adik habis dari mana?" tanyanya.
"Ini, mami tadi diajak papa cari makanan untuk kita nyemil di dalam." sahut Dinniar.
Mendengar jawaban dari maminya membuat Alesya merasa sedih. Sebab baru ini maminya berbohong kepadanya.
Mereka sekeluarga masuk ke dalam rumah. Alesya langsung pergi ke kamarnya.
"sepertinya kakak marah." Dinniar memperhatikan sikap putrinya.
"pasti kakak menyangka kalau kita tidak ingat ulang tahunnya." Devano menyahut.
"Sudah kita siap-siap. Papa mau ke taman dulu."
Dinniar, Tasya dan Devano menyiapkan beberapa yang dibutuhkan. Dinniar juga menelepon kedua orang tuanya dan juga ibu mertuanya untuk bersiap.
"permisi Bu, Bu Silvia, Bu violin, dan Bu Sefya sudah datang." ujar bibi asisten rumah tangga Dinniar.
"suruh mereka menunggu di ruang tamu bi. Oh iya, kalau nanti ada teman-teman Alesya tolong langsung di arahkan ke taman belakang." perintah Dinniar.
"Baik, Bu. Saya izin pamit ke depan."
Bibi pergi ke ruang depan dan mempersilahkan tamu-tamu Dinniar untuk masuk langsung ke taman belakang.
Tak lama setelah bibi mengantar tamu Dinniar. Teman-teman Alesya juga berdatangan. Bibi kembali mengantar tamu ke taman belakang.
saat semuanya sudah datang dan berkumpul. Namun, hadiah yang dipesan oleh Dinniar tidak kunjung datang.
"Sayang. Ayo kita mulai acaranya." ajak Jonathan.
"Tapi, hadiah untuk Alesya belum datang, mas. Gimana dong?" tanya Dinniar dengan wajah gelisah.
"Tenang saja. Anak buahku sedang mencarinya. Mereka akan segera sampai." Jonathan membujuk istrinya.
Dinniar keluar, tapi hatinya tetap masih menunggu. Dia tidak tahu apa yang terjadi kepada kurir yang seharusnya siang sudah sampai di rumah untuk mengantar paket.
Mereka semua berkumpul di taman belakang rumah. Jonathan kembali masuk ke dalam dan pergi ke kamar Alesya.
"Alesya, sayang." Jonathan mengetuk pintu kamar putrinya.
Alesya yang berada di dalam kamar mendengar panggilan papanya. Dia beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamar.
Alesya menggerakkan tangannya dan menggenggam handle pintu lalu membukanya.
"Ya, pah." jawabnya dengan lesu.
"Sayang, bisa turun dulu sebentar." pinta Jonathan.
"Tapi aku lelah, pah. Aku mau istirahat dulu." Alesya hendak menutup pintu kamar. Namun, Jonathan menahannya.
"Ada yang ingin papa dan mami bicarakan."
Alesya akhirnya menurut. Dia keluar dari kamar dan turun mengikuti jejak papanya.
"sebentar. Kita lebih baik bicara di taman belakang saja." Jonathan menggandeng tangan putrinya menuju taman belakang.
-acara akan segera di mulai. Dinniar mendapatkan kabar kalau kurir yang mengantar paket hadiah tidak ditemukan. Dinniar menjadi bingung. Karena hadiah itu sangat di sukai oleh anaknya.
sedangkan di tempat lain Melinda mendapatkan kabar dari anak buahnya kalau perintah sudah selesai dikerjakan. Melinda senang karena bisa menghancurkan apa yang sudah direncanakan oleh Dinniar.
"lihat saja Dinniar. Aku tidak akan membiarkan kamu lebih lama lagi berada di sisi pria yang aku cintai."
Ambisi Melinda untuk memiliki Jonathan semakin kuat. Dia tidak akan pernah berhenti sampai memiliki Jonathan.
Melinda meminta anak buahnya untuk menyekap kurir yang mengantar paket hadiah. pas sekali saat di tempat makan anak buahnya mendengar percakapan Dinniar dengan kurir yang akan mengantar paket. Anak buah Melinda melapor dan Melinda langsung menyuruh anak buah lainnya untuk bergerak. Mereka berhasil menemukan kurir dan menyekapnya agar hadiah yang dibeli Dinniar tidak sampai ke tangan Alesya.
"aku akan menghalangi setiap jalanmu Dinniar. Ini baru permulaan. Aku akan membuat Alesya semakin membenci dirimu. Kita lihat saja nanti." Melinda begitu senang rencana sudah berhasil.
.
.
acara ulang tahun dimulai semua berkumpul dan Jonathan mengajak Alesya ke taman dengan menutup kedua mata anaknya menggunakan slayer biru.
"Pah, kita mau kemana sih sebenarnya?" tanya Alesya.
"kamu ikut ajah. awas jalannya pelan-pelan." Jonathan menggandeng putrinya.
sesampainya di taman belakang. Jonathan membuka slayer yang menutupi. Mata anak gadisnya.
Alesya begitu terkejut karena banyak sekali orang yang berkumpul. Ditambah ada nenek dan juga teman-teman sekelasnya.
"Happy birthday Alesya." ujar mereka semua sambil menyalakan kembang api sehingga taman menjadi remang-remang karena lampu masih dimatikan.
Alesya merasa terharu dengan apa yang diberikan untuknya. pesta kejutan hari ini begitu bermakna sekali bagi Alesya. Dia tidak hentinya tersenyum. dia menatap satu persatu orang yang hadir untuk memberikan kejutan kepadanya.
"Kakak, selamat ulang tahun." ujar Tasya dan Devano.
Ucapan ulang tahun dari kedua adiknya menjadi penanda untuk dinyalakannya lampu taman yang berkelap-kelip menyinari.
"Indah sekali." Alesya semakin terharu.
"ini semua ide kak Tasya dan mami." kata Devano.
Alesya menitikkan air matanya. Dia menyesal karena berpikiran jelek terhadap wanita yang sudah sangat baik kepadanya. Alesya langsung menatap Dinniar dan berlari untuk memeluknya.
"Hai, sayang. Kamu kenapa. Kok sampe menangis seperti ini." Dinniar memeluk erat tubuh Alesya.
"Maafin aku, mih. Aku salah kepada mami." Alesya berkata dengan nada lirih.
"Sayang, kamu enggak salah apapun. Mami yang minta maaf karena membuatmu menunggu di hari ulang tahunmu." Dinniar memang wajah putrinya dengan kedua tangannya.
Setelah suasana yang haru. Tasya membawa Alesya kembali ke dalam rumah dan membawanya ke dalam kamarnya.
"kakak ganti baju dulu dan di rias dulu. Ini baju putri untuk kakak. Aku yang memilihnya. Apa kakak suka?" tanya Tasya.
"tentu saja kakak suka. Apapun yang Tasya pulihkan untuk kakak. Terima kasih ya dek. Kakak sayang banget sama Tasya." Alesya memeluk Tasya sambil menitikkan air matanya.
"Tasya juga sayang sama kak alesya. Selamat ulang tahun kakakku yang cantik." Tasya mengecup pipi Alesya.
.
.
.
"Mih, Mamih kenapa?" tanya devano.
"Enggak apa sayang. Kamu nikmati saja pestanya. Ajak nenek kamu makan. ajak teman-teman kak Alesya untuk makan juga sambil menunggu kakakmu." Dinniar menyembunyikan kecemasannya.
Tidak lama anak buah Jonathan datang dan memberikan kotak hadiah itu kepadanya.
"Terima kasih banyak. Ada apa dengan kurir itu!" tanya Dinniar.
Anak buah Jonathan menjelaskan kronologi mengenai kondisi kurir yang habis dipukuli. Untung saja kado itu ada di jok motornya sehingga mereka tidak menemukan dan merusaknya.
"Segera bawa dia ke rumah sakit." perintah Dinniar.
Anak buah jonathan langsung bergerak sesuai perintah Dinniar.
Jonathan melihat anak buahnya sudah kembali.
"ren, kamu suruh mereka makan dulu. pasti mereka lapar. Dan minta yang lain untuk menggantikan mereka." Jonathan lalu pergi menemui Dinniar.
"Sayang. Hadiahnya sudah sampai. Kita bisa langsung kembali memulai acara. Alesya juga sudah selesai di rias dan akan segera turun."
Dinniar dan Jonathan kembali bersiap untuk acara pesta kedua. pesta ulang tahun untuk putrinya yang sudah remaja.