Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 127 - Kita satu



Dinniar memejamkan matanya ketika jonatan mulai mengecupnya. kecupan demi kecupan di berikan oleh Jonathan sebagai tanda kasih sayangnya kepada Dinniar.


Mereka melakukan pemanasan sebelum akhirnya melakukan penyatuan seperti malam-malam sebelumnya.


"Semoga setelah kita pulang dari sini. Tasya dan Alesya benar-benar memiliki adik." Jonathan membisiki Dinniar disela-sela permainan mereka berdua yang sudah cukup memanas.


Dinniar tidak bisa berkata-kata lagi. permainan Jonathan sangat membuatnya terbuai hingga terbang ke langit.


Jonathan merasa senang karena bisa memuaskan istri ya di atas ranjang dan bisa dipuaskan juga oleh istrinya.


mereka selalu merasa terpuaskan satu sama lain. setelah mereka berdua sibuk seharian merancang konsep film yang akan dibuat membuat mereka berdua lelah secara pikiran.


Ranjang sudah mulai acak-acakan seprainya. Mereka sudah semakin liar di dalam permainan panasnya.


******* demi ******* mulai terdengar dari bibir mereka masing-masing hingga menit demi menit mereka nikmati.


Permainan dari awal sampai pertengahan ini sudah memakan waktu tiga puluh lima menit. mereka masih terus berburu nafas saling bercumbu buas.


Dinniar dan jonatan sama sekali tidak ingin melewati malam-malam bulan madu mereka di Palembang.


Hingga akhirnya nafas itu mulai tidak beraturan dan mereka semakin mempercepat permainan hingga mencapai klimaksnya.


"Aaah." ******* panjang mereka keluarkan bersama tanda penyatuan mereka mencapai pada titik terpuaskan.


Dinniar dan jonatan terkulai lemas di atas tempat tidur yang sudah tak beralaskan lagi.


"Kamu sangat hebat sayang. aku benar-benar sangat mencintaimu dan begitu menginginkanmu. jangan salahkan aku kalau nanti tiba-tiba aku pulang ke rumah untuk mencarimu." kata jonatan sambil mengatur nafasnya.


"mencariku untuk apa?" tanya Dinniar.


"ya pastinya untuk bercinta. mungkin siang hari aku bisa pulang kerumah dan mendatangimu. kamu harus selalu bersikap mendapatkan serangan ku yang tiba-tiba." kata jonatan sambil menyentil kecil hidung istrinya.


"Wah wah wah. sepertinya aku akan terkoyak-koyak karena deburan nafsumu." kata Dinniar sambil merubah posisinya dari tiduran terlentang menjadi tengkurap.


mereka berdua masih polos tanpa sehelai benangpun. Jonathan merasa kembali mendapat tantangan dari istrinya.


Jonatan menyentuh kedua bongkahan besar yang terletak di bagian belakang tubuh istrinya.


"kamu mau main lagi?" tanya Dinniar.


"kamu yang memancingku untuk melakukannya lagi." jawab Jonathan.


"Siapa yang memancing. aku tidak merasa memancing mu." Dinniar terkekeh.


"kamu memancingku sayang." kata jonatan.


"tidak." Dinniar terus mengelak.


"hmmm ... kita main satu ronde lagi sebelum besok kita pulang ke Jakarta. karena mama bilang Tasya sudah sangat merindukanmu. dia juga sudah sulit di tidurkan oleh kedua mama kita." Jonathan kembali memberikan rangsangan kepada Dinniar yang membuat istrinya mendesah.


Tasya kembali di dongengkan oleh Omanya. Dia benar-benar tidak mau tidur sebelum di bacakan beberapa buku cerita oleh Omanya.


Mama Juwita sudah sungguh kewalahan dengan tingkah Tasya akhir-akhir ini selama ditinggal Dinniar pergi berbulan madu.


mama Juwita merasa Tasya sudah mulai resah dan mulai merindukan maminya. dia memang tidak pernah ditinggal lama oleh Dinniar. paling lama hanya satu sampai dua hari saja. sedangkan jonatan dan Dinniar sudah pergi hampir satu Minggu lamanya.


Mama Juwita mulai membacakan dongeng tentang sapi - sapi ternak.


"kulo mau Kana papa butuh bantuanmu teriak Papa dari belakang rumah. sebentar Pah. belum semua jerami kalau masukkan ke dalam kandang jawab kulo kepada papanya. selalu membantu papanya untuk merawat sapi-sapi. dia juga membantu ayahnya untuk mengambil rerumputan untuk dijadikan makanan sapi. ulos anak yang sangat rajin setiap pulang sekolah dia akan membantu ayahnya membersihkan kandang sapi perah dan Dia juga sering menyabit rumput menggunakan sundu dan saweo. karena kulo rajin merawat sapi-sapinya dengan baik tak heran sapi-sapi keluarga kulo lama-lama bertambah banyak yang awalnya hanya ada dua pasang sekarang berkembang biak menjadi enam, sepuluh, dan sekarang telah memiliki tiga puluh ekor sapi. sapi-sapi itu bukan hanya untuk diperas susunya sapi-sapi itu juga dijual dagingnya. saat ada upacara adat mereka menyembelihnya untuk hidangan para tamu." cerita Mama Juwita menggunakan buku cerita yang diberikan oleh Jonathan untuk Tasya.


"wah sapinya banyak juga ya Oma. "Tasya yang seksama mendengarkan cerita yang dibacakan oleh Mama Juwita.


"benar Tasya kalau kita mau merawat binatang peliharaan seperti sapi, kambing, kerbau, ayam, burung, atau hewan ternak lainnya dan rajin memberinya makan yang cukup setiap hari pasti mereka akan tumbuh dan berkembang biak. sapi kulo yang tadinya hanya ada dua sekarang sudah banyak sekali." lanjut Mama Juwita.


"kalau begitu kemarin Oma melarangku untuk merawat tarsius. sekarang Tasya boleh merawat dan memelihara sapi?"tanya Tasya kepada omanya.


"nanti kalau Mami dan Papa sudah pulang ntar saya tanyakan sendiri apakah boleh Tasya memelihara sapi. Jika boleh nanti kita akan pelihara bersama tapi yang pastinya tidak di rumah Ini Tasya. kita harus memiliki kandang yang terpisah. karena sapi itu kotorannya sangat bau sekali. tapi kotoran sapi bisa dijadikan pupuk." ujar Mama Juwita.


Mama Juwita kembali meneruskan ceritanya tentang bagaimana kulo memelihara sapi hingga sapi-sapinya tumbuh sehat dan berotot.


sudah lama sekali Mama Juwita membacakan buku cerita yang banyak untuk Tasya. dia lihat ternyata Tasya sudah memejamkan matanya. dengan cepat Mama Juwita turun dari ranjang Tasya dan keluar dari kamar cucunya.


"sepertinya aku malam ini terlambat menonton sinetron kesukaanku." kata Mama Juwita.


Mama juta menuruni tangga perlahan tapi pasti. dia menuruni tangga terakhir dan dia lihat besannya serta Bi Imah asisten rumah tangga anaknya sedang asyik menonton acara sinetron kesukaan mereka.


Tasya memang sangat sulit tidur dengan orang yang tidak biasa bersamanya. mamanya Jonathan sudah berusaha membujuk Tasya untuk dia ajak tidur dan dibacakan buku cerita. mamanya Jonathan juga sudah berusaha membujuk Tasya agar mau dibacakan buku cerita olehnya.


Tasya tetap tidak mau dan hanya mau dibacakan buku cerita oleh Omanya. baby sitter Tasya pun tidak bisa membacakan buku cerita untuk Tasya meskipun ingin.


"sudah tidur Tasya?" katanya mama Jonathan kepada besannya.


"dia sudah tertidur dan sekarang baby sitter-nya yang menemaninya." jawab Mama Juwita.


Mama juta segera berkumpul dengan besannya dan juga dengan asisten rumah tangganya yaitu untuk menonton acara sinetron kesukaan mereka bertiga.


"Sudah sampai mana ceritanya aku pasti ketinggalan banyak sekali ini."


ketiga wanita paruh baya itu benar-benar sangat tidak ingin ketinggalan film kesukaan mereka.


saat iklan sedang tayang. Mama Jonathan dan Bima menceritakan beberapa adegan cuplikan yang terlewatkan oleh Mama Juwita.


"ih bener-bener ya itu orang bikin kesel aja. ngapain coba ngejar-ngejar suami orang. udah tahu laki-laki itu sudah punya keluarga. masih saja terus-terusan ia ingin kuasai."


mama Juwita terbawa emosi mendengar cerita dari di Imah. bertiga akhirnya saling bersahut-sahutan memaki salah satu pemain sinetron tersebut.


memang seringkali penonton itu ikut kesal dan terhanyut dalam cerita yang disajikan oleh siaran televisi.