
Jonathan dan keluarga sudah berada di dalam mobil. mereka akan pergi ke pemancingan terdekat dan mereka juga sangat gembira ketika harus berpergian bersama.
Kedua orang tua Dinniar juga ikut, tapi mereka langsung dari rumah ke tempat pemancingan. mereka akan ikut berlibur bersama juga sesuai dengan tempat yang telah ditentukan oleh Tasya dan juga Alesya.
mereka akan pergi ke Bandung karena Jonathan juga ada pekerjaan yang harus dilakukan di bandung. dia harus menemui seorang klien yang akan menjalin kerjasama dengan perusahaan keluarganya.
"nenek. kapan akan membacakan buku cerita untukku?" tanya Tasya yang menagih janji kepada neneknya.
"Sayang sabar dulu. nanti kalau sudah di tol akan dibacakan oleh nenek." ujar Dinniar.
"Nenek akan bacakan cerita setelah kita masuk ke tol. okeh sayang?" neneknya mengedipkan satu mata dan Tasya langsung mengangguk tanda setuju dengan apa yang di katakan oleh neneknya.
"nenek sangat enak dalam membacakan buku cerita. suaranya pas dan intonasinya juga pas." puji Tasya.
"benarkah?" tanya neneknya dengan membulatkan matanya.
"benar nek. aku sangat suka." ujarnya sambil mengedipkan kedua matanya membuat neneknya sangat luluh.
"oooh, cucu nenek pintar sekali membeli hati neneknya."
mereka lalu tertawa keras. bagaimana tidak anak yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar itu masih sangat imut-imut dan kelakuannya abstrak.
akhirnya neneknya kembali membuka satu buku cerita yang akan dia bacakan untuk cucunya tercinta.
"Tasya. sini Kaka saja yang bacakan buku ceritanya. kasihan eyang jika harus membaca buku cerita sejak tadi." ujar Alesya.
"aku maunya nenek yang membacakan buku cerita untukku. aku suka dengan suara nenek " ujarnya sambil menggeliat manja.
semua orang tidak bisa menolak lagi apa yang diminta oleh Tasya jika dia sudah berwajah begitu imut dan membuat gemas yang melihatnya.
srek srek srek suara rumput gajah bertabrakan dengan pohon mahoni Galuh dan Manto duduk merapat dibalik semak mereka Tengah mengintip sesuatu di pinggiran hutan Buntok terlihat kecemasan tergurat di wajah Manto anak itu terus saja mencoba menarik tangan galau dan mengajaknya pulang
Tunggu Manto aku ingin melihat wajah mereka ujar mantok kepada temannya Galuh
Sekilas saja sudah cukup bisik Galuh hari ini Galuh dan Manto sering mengintip di pinggir hutan tak biasanya hutan begitu gaduh Galuh keheranan melihat ada orang yang berani masuk ke dalam hutan meskipun ingin sekalipun mereka masuk terlalu jauh ke dalam hutan hutan Buntok memang tak boleh dijamah apalagi ditebang pohonnya sepulang sekolah Galuh dan Manto bencana mencari tahu sumber suara berisik di tengah hutan
Jantung mereka berdebar kencang saat melihat lahan hutan yang hampir gundul di tengah hutan banyak kayu berserakan dan beberapa mesin gergaji yang tergeletak
Sampai di rumah Galuh mendengar perbincangan ayah dan ibunya mereka menceritakan tentang pencuri kayu di hutan tak ada penduduk yang berani melarang dan melawan mereka
Namun akhirnya semua terungkap jelas kepala suku Dayak pedalaman yang menangkap mereka pencuri kayu tersebut digiring ke pedalaman dan dihukum oleh segenap warga suku Dayak sampai saat ini tak ada yang tahu nasib para pencuri kayu itu semoga suku Dayak mau melepaskan mereka
Suku Dayak memang ingin tetap menjaga hutannya tak ada yang boleh merusak hutan Mereka takut bencana akan melanda apabila banyak pohon yang ditebang banjir tanah longsor dan bencana lainnya
Sekarang Galuh tahu tidak ada yang perlu ditakuti dari suku Dayak mereka hanya ingin menjaga hutannya Galuh dan Manto tetap melewati pinggir hutan seperti biasa tak ada lagi suara berisik yang misterius Untunglah hutan tak jadi gundul sehingga burung masih tetap berkicau dengan riang di hutan Buntok belantara Dayak .
"apakah sudah cukup nenek berceritanya?"tanya neneknya kepada Tasya.
"baiklah untuk kali ini nenek sudah selesai bercerita. sekarang giliran kak Alesya yang membacakan aku cerita." pinta Tasya sambil mengerlingkan kedua matanya dan bergeliat manja di pundak kakaknya.
"baiklah kakak akan membacakan mu cerita." Alesya mengambil satu buku cerita yang dibawa oleh adiknya ke acara memancing mereka.
Jonathan dan Dinniar merasa iba kepada mama dan juga Alesya yang dijadikan tempat untuk bercerita.
Tersesat di Pasar Apung Bapak ingin alan menjadi seorang Laksamana seperti Cheng Ho. alam Banjar yang elok menjadi saksi harapan kedua orang tuanya untuk menjadi nyata kini Laksamana kecil itu sudah menginjak kelas 1 Sekolah dasar tampak cakap pintar dan pemberani
Ibu Alan berjualan soto banjar di pasar apung pasar tradisional yang kegiatannya dilakukan di atas air menggunakan perahu sepanjang sungai Martapura banyak sekali pedagang menggelar barangnya di atas perahu. mulai dari cabai merah keriting sampai tahu goreng semua lengkap. Ibu alan berjualan di pinggir sungai tempat pedagang biasanya merapatkan perahunya.
pagi ini Alan ikut ibu berjualan karena sedang libur sekolah Waluyo pun datang Waluyo adalah sepupu alan tinggalnya jauh di penajam Kalimantan Timur kemarin dia ikut ayahnya berlayar dan turun di pelabuhan Banjarmasin.
"kamu mau kita menyusuri pasar apung yok?" ajak alan.
"ayo saja Lan Kamu tahu jalannya kan?"tampak sedikit keraguan pada kalimat Waluyo.
"tentu saja aku tahu Aku kan anak Banjar."sahut Alan sambil menarik tangan Waluyo.
akhirnya mereka berdua meninggalkan ibu yang sedang sibuk melayani pembeli mereka lalu menaiki perahu kecil dan menggenggam dayung dari dahan pohon.
Mereka pun berpetualang dari satu pedagang lain ke pedagang lainnya. Waluyo tergabung kagum melihat pemandangan di pasangan apung ada penjual ayam daging sapi sayuran cabai dan peralatan rumah tangga mereka semakin jauh menyusuri sungai Martapura lalu alam dan Waluyo berbalik arah berusaha kembali ke Parahu ibunya. diperhatikannya satu persatu pedagang di pinggir sungai tak terlihat sosok ibunya Mereka pun berputar-putar lagi.
wajah cemas mulai menyelimuti alam dan Waluyo tak ada seorangpun yang mereka kenal mereka terus berputar mencari perahu tempat ibunya menjual soto.
hati alam seakan berhenti berdetak betapa tidak kini rakyat mereka didatangi dua orang besar berwajah seram alam berteriak sekuat tenaga mereka tetap saja merapat kemudian mendekat Alan dan Waluyo mereka berteriak namun orang-orang seperti tak mendengarkan.
"lain kali kita bermain dekat rumah saja ya yuk"bisik Alan kepada Waluyo.
"iyalah aku juga ngeri."sahut Waluyo secepat sambil tersenyum.
kejadian kemarin tak ada yang bisa dilupakan kedua anak itu mereka tertidur karena kelelahan ketika sedang mencari ibu di pasar apung dua orang besar yang mengangkatnya itu hanyalah mimpi mereka ditemukan oleh seorang penjual cabe di dekat rakit kemudian Alan dan Waluyo didiamkan di sana sampai pasar mulai sepi ibu yang melihat kedua anak itu langsung datang tak tahu apakah alat dan Waluyo benar-benar pingsan ataukah memang tertidur karena semalam begadang menonton pertandingan sepak bola.
"Jadi mereka itu hanya bermimpi Kak?"tanya Tasya.
"iya benar mereka hanya bermimpi dek. makanya kalau tidur tidak boleh terlalu malam. dan kamu harus ingat tidak boleh pergi jauh-jauh. jika ingin pergi jauh harus bicara dulu kepada orang yang lebih dewasa agar bisa melindungimu dan memberitahumu arah ke mana kamu harus pergi." nasehat Alesya kepada adiknya.
membaca buku cerita tentang pasar apung membuat Alesya bagaimana dia diculik oleh Cornelia dan bagaimana Cornelia memperlakukan Tasya dulu saat menculik Tasya.