
Susi menatap kedua pasangan suami istri yang dia nikahkan lima tahun lalu.
"Kalian, kenapa tampak tidak lagi perduli dengan ibu? Terutama kamu Darius. Apa kamu sudah menganggap ibu ini tiada?" Susi mengeraskan suaranya.
"Ibu, sabar." Dinniar menenangkan hati ibu mertuanya.
"Dinniar. Ibu bukan seperti kamu yang bisa terlihat baik-baik saja. Ibu bisa merasakan ada yang tidak beres dengan kalian berdua," kata Susi.
"Bu. Kita tidak ada apa-apa. Kita baik-baik saja." Dinniar berusaha kembali menutupi kesalahan suaminya.
"Darius, sejak kamu kamu suka makanan Jepang itu? Selama Ibu menjadi orang tuamu. Beberapa kali memaksamu ke sana, tapi kamu terus menolak. Kamu terus bilang tidak akan pernah menyukai makanan itu." Susi mengingat kembali kenangan Darius saat remaja.
"Bu ... Aku minta maaf. Karena pekerjaanku yang banyak jadi belum sempat mengunjungi Ibu. Masalah makanan Jepang itu, aku diminta untuk memakannya dan setelah aku coba ternyata rasanya cukup enak." Darius tersenyum.
"Apakah dia juga sama seperti Sushi? Saat kamu mencicipinya dan kamu suka? Makanya kamu bersamanya" Dinniar membatin.
Dinniar terus menatap dingin ke arah suaminya. Pandai sekali sang suami berbohong. Apalagi dia telah membohongi ibunya sendiri. Sungguh menyebalkan sekali pria yang tidak memiliki rasa bersalah itu.
Darius menggenggam erat tangan ibunya. Susi masih menahan gejolak di dalam hatinya. Dia ingin rasanya memukuli putranya sendiri.
"Dengar Darius. Meski kamu adalah putra ibu. Ibu tidak akan pernah memaafkan dirimu jika sampai kamu menyakiti hati istrimu. Dia adalah wanita yang sempurna sebagai seorang istri." Susi mencabut tangannya dari genggaman Darius.
Darius hanya bisa terdiam ketika kata-kata itu keluar dari mulut ibunya sendiri.
"Aku, tidak akan menyakiti hati istriku." Darius menunduk.
"Dinniar. Jika kamu disakiti dan tidak sanggup lagi bersama dengan pria ini atau jika dia berselingkuh. Ceraikan saja dia. Jangan takut untuk hidup di atas kakimu sendiri. Biarkan pria ini menyesali apa yang telah diperbuatnya. Ibu juga salah satu korban perselingkuhan pria."
Kalimat terakhir ibunya membuat anak dan menantunya bengong. Mereka tidak pernah mendengar kisah kalau ibunya adalah seorang korban perselingkuhan.
"Maksud Ibu?" tanya Darius.
"Ayahmu masih hidup Darius. Ibu dan dia bercerai saat kamu masih berusia satu tahun. Dia mencinta wanita lain karena hal sepele. Dia lebih memilih tinggal dengan wanita itu dan meninggalkan ibu dan dirimu." Cerita Susi.
"Maksud Ibu? Ayahku belum meninggal?" tanya Darius dengan raut wajah penuh rindu akan sosok ayah dalam hidupnya.
"Aku membesarkan dirimu selama ini sendirian tanpa dia yang bertanggung jawab atas hidupmu. Dia lebih memilih membahagiakan istri dan anak-anak barunya ketimbang dirimu." Buliran air mata sudah tergenang dari matanya.
Darius ikut menangis mendengar cerita ibunya. Mungkin saat itu ibunya begitu kesakitan dan begitu lelah setiap kari berjuang seorang diri.
"Maka dari itu Ibu mengkhawatirkan hubungan kalian. Di dalam tubuhmu mengalir darahnya. Ibu tidak mau kamu menjadi pria yang menyakiti wanita seperti ayahmu. Jika itu terjadi ibu sendiri yang akan menghukum dirimu."
Dinniar yang sejak tadi menyimak semua cerita ibu mertuanya. Tak kuasa menahan tangis. Dia begitu mengerti apa yang disarankan oleh Susi sebagai wanita yang juga dikhianati suaminya.
Dinniar mengerti rasa sakitnya seperti apa. Hanya saja dia belum tahu apakah mampu berdiri di kaki sendiri seperti ibu mertuanya yang diketahui tidak pernah menikah lagi.
"Aku tidak tahu, Bu. Apa aku bisa menjadi wanita hebat seperti dirimu. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana aku hidup tanpa pria yang selama ini aku cintai dan selalu melindungi ku." Dinniar terisak sambil bergumam.
Sungguh tidak adil rasanya. Kenapa Dinniar yang harus merasakan hidup dikhianati. Bukankah seharusnya Darius yang mendapatkan karma atas apa yang pernah dilakukan oleh ayahnya? Entah mengapa harus Dinniar yang menanggung derita sakit hati ini.
Dinniar memeluk erat tubuh ibu mertuanya. Darius yang masih terkejut, lalu melihat ke arah Dinniar. Dia tidak menyangka ternyata sudah menyakiti dua wanita yang berharga dan berada dalam hidupnya selama ini.
Ibunya yang berjuang membesarkannya seorang diri tanpa sosok suami. Dinniar yang sejak pacaran sangat berperan penting dalam bisnisnya. Dia selalu mensupport Darius saat masih merintis bisnisnya yang sekarang sudah sangat terkenal.
"Aku janji, ini terakhir. Aku tidak akan pernah menyakiti kedua istriku. Aku tidak akan pernah mengabaikan mereka berdua." Darius membatin.
.
.
Rendy yang sedang menunggu informasi seputar kehidupan pribadi dari teamnya. Terus menerus melihat layar ponselnya selama di dalam ruang kerjanya.
Dia belum bisa tenang sebelum mendapatkan informasinya segera.
"Kenapa mereka sangat lama? Bos pasti sudah menunggu." Rendy melihat jam yang melingkar di lengannya.
Disaat kegusaran hati melanda. Suara ketukan pintu seorang memberi harapan untuknya.
"Selamat siang, Pak Rendy."
Seorang pria dengan suara yang berat masuk ke dalam ruangan Rendy. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Itu pribahasa yang sepertinya cocok untuk mereka berdua.
Rendy sudah tidak sabar untuk mendengarkan informasinya jelas tentang Darius.
Rendy yang mendengarkan dengan seksama hasil laporan dan membacanya sungguh tidak menyangka dengan semua ini.
"Ternyata dia seperti pria lainnya. Tidak pernah puas dengan satu wanita dan tidak setia kepada keluarganya."
Rendy menutup lembar laporan team investasi. Dia langsung membawa beberapa lembar kertas itu menuju ruangan bosnya.
Rendy mengetuk pintu ruangan dan setelah mendapat izin. Dia langsung membuka pintu dan masuk.
Rendy kini berdiri dihadapan sang bos. Dia siap menyampaikan laporan yang mungkin akan memancing amarah sang harimau.
"Ini berkas penyelidikan kehidupan pribadi Pak Darius." Rendy meletakkan lembaran itu di meja kerja Jonathan.
"Bagus, aku akan membacanya. Apa kamu sudah tahu isinya?" tanya Jonathan.
"Sudah, Pak. Dia ...,"
"Tidak perlu dijelaskan. Aku akan melihatnya sendiri. Kamu duduklah." Jonathan mulai membaca laporan team investasi.
Saat membaca lembar pertama dia masih bersikap biasa saja. Dia membuka lembaran kedua dan betapa terkejutnya ternyata Dinniar adalah istri sah pria yang bekerjasama dengannya.
Jonathan meremas kertas tersebut dan membuangnya ke tong sampah yang berad tepat di samping kakinya.
Dia membaca lembaran terakhir dan langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Wanita yang malang. Jadi dia menyelingkuhi istrinya!" Raut wajah yang datar pada awalnya berubah menjadi merah menyala.
Emosi mulai menguasai Jonathan dan membuat asisten pribadinya terkejut melihat hal itu meski dia sudah menduganya akan terjadi. Namun, ekspresi kemarahan itu bukan seperti ekspresi yang biasa dia lihat. Sangat jelas permainan emosinya karena ada tanda rasa.
Rendy segera menghampiri bosnya agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan