Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 112 - Makan siang



Dinniar tiba di perusahaan yang dikelola oleh suaminya. Ini pertama kalinya Dinniar melangkahkan kakinya di perusahaan besar milik suaminya.


"Selamat siang, Bu. apa mau bertemu dengan Pak Jonathan?" tanya salah satu karyawan.


"Iyah, apa pak Jonathan ada di ruangan kerjanya?" tanya Dinniar.


"Pak Jonatan sedang tidak ada di ruangannya. beliau keluar kantor bersama pak Rendy. biasanya untuk membahas pekerjaan dengan klien. ibu bisa menunggu di ruangannya. mari saya antar."


Begitu ramah karyawan suaminya itu. Dinniar yakin mereka sudah mengetahui siapa dirinya. sehingga begitu ramah menyambut kedatangannya.


"Selamat siang Bu Dinniar." Sekertaris Jonathan menyapa istri bosnya.


"Saya boleh menunggu pak Jonathan di dalam?" tanya Dinniar.


"Oh, silahkan Bu. masa menunggu di ruangan suami sendiri tidak boleh. Tadi saya dapat kabar dari pak Rendy kalau mereka sudah dalam perjalanan ke kantor. mungkin sebentar lagi sampai. apa perlu saya beri tahu pak Jonathan kalau ibu datang?" tanyanya.


"tidak perlu. biar ini menjadi kejutan." Dinniar sedikit malu-malu.


"Siap, Bu. saya tahu kok. hehe karena saya juga pernah jadi pengantin baru." Sekertaris Jonathan tersipu malu.


Dinniar diantar ke dalam ruangan Jonathan dan dia langsung duduk di sofa setelah meletakkan paper bag yang dibawanya.


Dinniar memperhatikan setiap sudut ruangan suaminya dan dia terkejut ada fotonya di pajang di figura.


"Bukankah ini foto saat berlibur di pantai? ternyata dia diam-diam mengambil gambarku." Dinniar tersenyum senang.


Saat asik sedang melihat beberapa benda yang ada di ruangan suaminya. Dinniar dikejutkan dengan suara pintu terbuka. dia membalikkan badannya dan ternyata suaminya sudah datang.


"Sayang, kamu kok bisa ada di sini?" tanya Jonathan.


"Aku ingin membawakan makan siang untukmu. Kita makan siang bareng yuk. kamu sudah makan belum?" tanya Dinniar.


"Wah kebetulan sekali kalau begitu. kebetulan aku belum makan siang." Jonathan langsung membuka kancing jasnya dan duduk di sofa.


Dinniar melihat Rendy dan tersenyum kearah karyawan terbaik suaminya.


"Pak Rendy sudah makan siang?" tanya Dinniar.


"hmm, belum Bu, tapi saya ada rencana makan siang dengan Leni sekertaris pak Jonathan. saya permisi." Rendy undur diri.


Jonathan tersenyum tipis mendengar perkataan asisten pribadinya.


"Ternyata dia sangat cekatan juga dalam situasi seperti ini."


Flashback on


Jonathan dan Rendy pergi untuk menemui salah satu klien mereka yang akan menjalin kerjasama.


Jonathan dan Rendy pergi sebelum jam makan siang dan mereka memesan beberapa menu untuk di santap bersama dengan klien.


setelah selesai meeting. mereka semua makan siang bersama dengan menu yang sudah di pesan oleh Jonathan sebelum meeting di mulai.


Flashback off


Jonathan makan masakan istrinya dengan sangat lahap. masakan Dinniar tidak kalah enak dengan restoran ternama. Dia begitu menikmati makan siangnya meski saat ini perutnya sudah sangat penuh. demi menyenangkan hati sang istri dia memakan habis masakan yang di bawa Dinniar.


Mereka berdua makan siang bersama di kantor untuk pertama kalinya.


"Kamu pulang sama aku saja. Biar pak supir aku suruh kembali ke rumah. dan standby takut Alesya pulang." Ujar Jonathan sambil mengeluarkan telepon genggamnya.


"Iyah mas. Aku bereskan dulu mejanya biar kamu bisa fokus kembali bekerja." Dinniar menyusun kembali rantang susunnya dan menaruhnya kembali di dalam paper bag.


Jonathan kembali bekerja sambil merasakan perutnya yang sangat penuh oleh makanan ditambah lagi minuman jus jeruk yang di bawa oleh istrinya juga.


Jonathan duduk dengan tidak nyaman. Namun, dia tidak ingin istrinya merasa bersalah karena datang tanpa pemberitahuan dulu.


Jonathan kemudian menatap wajah istrinya dari balik meja kerjanya. Dinniar sedang sibuk dengan telepon genggamnya.


Jonathan keluar dari meja kerjanya dan berjalan menghampiri tempat duduk istrinya.


"Bukan sayang. aku bahkan sangat senang kamu ada di sini. Boleh aku menciummu sebagai penambah imun?" tanya Jonathan.


"tentu saja boleh. kenapa tidak." Dinner langsung menyetujui.


Jonatan mendekatkan dirinya lebih dekat lagi dan dia mengecup mesra bibir lembut milik istrinya. Perlahan namun menuntut.


Kecupan itu makan lama semakin panas hingga Jonathan hampir hilang kendali dengan memeluk dan mengelus lembut punggung istrinya.


Ada sedikit ******* yang lolos dari bibir Dinniar. Jonathan tersenyum dalam hati. dia senang mendengar lenguhan kecil meski hanya sebentar. itu tandanya Dinniar sudah semakin membuka diri untuk dia sentuh sebagai seorang istri sepenuhnya.


Jonathan menghentikan aksinya. Dan mengecup kedua pipi istrinya bergantian.


"Sayang, nanti kita teruskan di rumah. Aku mencintaimu. Aku kembali kerja dulu."


Dinniar dan Jonathan bertukar senyuman. Dinniar semakin siap menjadi istri seutuhnya. Ini adalah. hari ke lima belas mereka menjadi suami istri.


Sisa waktu pacaran mereka tinggal lima puluh persen lagi. Dinniar dengan cepat memantapkan hatinya dan menyiapkan diri untuk bercinta dengan pria lain selain Darius. dia akan memberikan jiwa dan raganya untuk sang suami yang begitu mencintainya itu. Dia tidak ingin mengecewakan Jonathan.


Dinniar merapihkan pakaiannya dan rambutnya yang sedikit berantakan karena aksi ciuman panas mereka berdua.


Dinniar menatap suaminya yang sedang serius bekerja di balik meja. Begitu tampan. Jonathan seperti patung yang dipahat dengan sangat sempurna. Hidung mancungnya dan wajahnya yang blasteran membuat Dinniar semakin mencintainya selain kepribadian Jonathan yang begitu sempurna.


"Aku tidak pernah bermimpi memiliki seorang suami yang setampan dirimu. Wajahmu mengalihkan duniaku. Senyumanmu begitu mempesona. Kharismamu begitu mematikan. Tuhan memang benar-benar adil. memberikan pria yang lebih baik dan jauh lebih baik dibandingkan mantan suamiku. aku ingin kamu menjadi cinta sejatiku." Dinniar tak henti-hentinya tersenyum melihat suaminya.


...****************...


Alesya sampai di rumah setelah di jemput oleh supir keluarga. Alesya mencari keberadaan Dinniar.


"Dimana Mami?" tanya Alesya kepada Tasya yang sedang berada di kamar.


Kamar Tasya dan Alesya bersebelahan. Di antara kamar mereka ada pintu konektor yang menghubungkan kamar mereka berdua.


"Mami lagi ke kantor papa, kak. katanya makan siang bersama, tapi belum pulang juga. dan aku belum mengerjakan tugas sekolah" Tasya sedikit lesu.


"Sini, kak Alesya bantu mengerjakan tugas sekolahnya. Nanti kamu tinggal berikan ke Mami untuk diperiksa kembali. mulai sekarang kita akan belajar bersama." Ujar Alesya.


"Serius kak? wah aku senang banget. ternyata ini rasanya punya kakak yang baik dan cantik." Tasya memeluk Alesya erat.


"Kakak juga merasa hal yang sama. ini ternyata bahagianya memiliki seorang adik yang pintar dan lucu." Alesya mengacak-acak rambut Tasya.


Mereka kemudian belajar bersama. Alesya meminta Tasya untuk membaca buku dulu. mengulang pelajaran di sekolah sambil menunggu Alesya mengerjakan tugasnya sekolahnya juga.


Alesya sangat dewasa dalam mengajari Tasya belajar berhitung. Diam-diam baby sitter Tasya merekam semua kegiatan belajar kedua adik dan kakak itu. dia kemudian mengunggahnya ke status chat dan mengirimkannya ke nomor telepon Dinniar.


Tasya begitu senang memiliki teman belajar. Suasana baru yang sangat menyenangkan baginya. Alesya juga dengan sabar mengajari Tasya berhitung penjumlahan kebawah.


"Wah adik Kaka benar-benar sangat pintar. Sekarang selesai belajar. kita ke bawah yuk. tadi kakak liat mbok membuatkan cheese sponge cake buat kita." Alesya menggandeng tangan Tasya dan mereka menuruni tangga dengan sangat bersemangat.


"Mbok, aku mau kuenya ya." pinta Alesya dan mereka duduk di halaman belakang.


Baby sitter Tasya menggelar tikar dan menyediakan minuman dingin untuk kakak beradik itu. Mereka menikmati sore hari seperti sedang piknik di taman.


"Ini kuenya. silahkan dinikmati anak-anak cantik." Bi Imah meletakkan kue diatas tikar.


...****************...


Dinniar yang sedang asik menatap wajah tampan suaminya. mendengar pesan masuk ke dalam telepon seluler miliknya. dia langsung membukanya dan dia lihat video yang dikirimkan kepadanya.


"mereka sangat menggemaskan sekali. Aku bangga kepada mereka berdua yang bisa akur." Dinniar menarik kedua sudut bibirnya sehingga membentuk bulan sabit.


"Kamu kenapa senyum-senyum begitu? sedang lihat apa?" tanya Jonathan yang ternyata sudah ada di depannya.


Sangking menikmati video yang di lihatnya. Dinniar sampai tidak sadar kalau suaminya sudah ada di dekatnya.


"Ini lihat video anak-anak cantik kita." Dinniar memberikan telepon selulernya.


Jonathan melihat dan dia begitu bahagia. dia orang anak cantik yang sangat menyempurnakan hidupnya