Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
287 - Pelanggan baru



Dinniar tiba di butik miliknya. Dia berusaha secepat mungkin datang karena takut pelanggan barunya menunggu. Namun, untungnya orang yang memiliki janji dengannya belum tiba. Dinniar masuk ke dalam butik dan melihat karyawannya sudah lengkap semua.


"Bu, tadi ada paket datang." ujar salah satu karyawan.


"Dari pak Jonathan. Bunga." jawabnya.


Dinniar langsung tersenyum hingga wajahnya memerah. Dia selalu tersanjung dengan setiap hal yang dilakukan suaminya. Pagi ini dia mendapatkan kejutan paket bunga.


Dinniar langsung masuk ke dalam ruangannya dan dia lihat kalau bunganya sudah diletakkan di meja kerjanya. Dinniar mengendus bau harum bunga mawar yang sangat segar itu.


"Kamu memang selalu menjadi yang terbaik, mas." Dinniar senyum-senyum sendirian sambil menikmati wangi bunga.


Ketukan pintu terdengar. Dinniar meletakkan kembali buka pemberian suaminya di meja kerja. dia lalu menoleh ke pintu yang terbuat dari kaca.


"Bu, tamunya sudah datang."


"Baik, saya akan ke sana."


Dinniar merapihkan pakaiannya dan melihat penampilannya di cermin. berjalan ke kaur ruangan dan menuju ruang tamu yang dia buat untuk berbincang dengan pelanggan butik.


"Maaf menunggu." Dinniar bicara sambil menutup pintu.


"Tidak apa." jawab seorang wanita dengan suara yang serak-serak basah.


Dinniar lalu menatap wanita pemilik suara khas itu.


"Melinda?" ujarnya yang mengingat wajah rekan bisnis sekaligus sepupu angkat suaminya.


"Senang, kamu masih mengingatku." ujar Melinda.


"Silahkan duduk." Dinniar mempersilahkan Melinda untuk duduk.


"Besar juga ya butiknya dan sangat elegan juga modelnya." puji Melinda sambil memperhatikan dekorasi.


"maaf, aku tidak tahu kalau kamu ternyata calon pelanggan baruku."


"tidak masalah. Aku memang sengaja tidak memberitahu identitas asliku." jawab Melinda sambil berkeliling dan menikmati beberapa hiasan dinding.


...****************...


Dinniar tiba di butik miliknya. Dia berusaha secepat mungkin datang karena takut pelanggan barunya menunggu. Namun, untungnya orang yang memiliki janji dengannya belum tiba. Dinniar masuk ke dalam butik dan melihat karyawannya sudah lengkap semua.


"Bu, tadi ada paket datang." ujar salah satu karyawan.


"Dari pak Jonathan. Bunga." jawabnya.


Dinniar langsung tersenyum hingga wajahnya memerah. Dia selalu tersanjung dengan setiap hal yang dilakukan suaminya. Pagi ini dia mendapatkan kejutan paket bunga.


Dinniar langsung masuk ke dalam ruangannya dan dia lihat kalau bunganya sudah diletakkan di meja kerjanya. Dinniar mengendus bau harum bunga mawar yang sangat segar itu.


"Kamu memang selalu menjadi yang terbaik, mas." Dinniar senyum-senyum sendirian sambil menikmati wangi bunga.


Ketukan pintu terdengar. Dinniar meletakkan kembali buka pemberian suaminya di meja kerja. dia lalu menoleh ke pintu yang terbuat dari kaca.


"Bu, tamunya sudah datang."


"Baik, saya akan ke sana."


Dinniar merapihkan pakaiannya dan melihat penampilannya di cermin. berjalan ke kaur ruangan dan menuju ruang tamu yang dia buat untuk berbincang dengan pelanggan butik.


"Maaf menunggu." Dinniar bicara sambil menutup pintu.


"Tidak apa." jawab seorang wanita dengan suara yang serak-serak basah.


Dinniar lalu menatap wanita pemilik suara khas itu.


"Melinda?" ujarnya yang mengingat wajah rekan bisnis sekaligus sepupu angkat suaminya.


"Senang, kamu masih mengingatku." ujar Melinda.


"Silahkan duduk." Dinniar mempersilahkan Melinda untuk duduk.


"Besar juga ya butiknya dan sangat elegan juga modelnya." puji Melinda sambil memperhatikan dekorasi.


"maaf, aku tidak tahu kalau kamu ternyata calon pelanggan baruku."


"tidak masalah. Aku memang sengaja tidak memberitahu identitas asliku." jawab Melinda sambil berkeliling dan menikmati beberapa hiasan dinding.