
Alesya menunggu Melinda datang untuk menjemputnya. Dia sudah mendapatkan kabar kalau Melinda sudah jalan ke sekolah sejak jam 13:30. jarak dari hotel dan sekolahnya cukup jauh. Butuh waktu sekitar empat puluh lima menit untuk sampai.
Raka berjalan menghampiri Alesya. "Kamu lagi nunggu siapa?" tanya Raka.
"Nunggu di jemput." jawabnya tanpa menatap lawan bicaranya.
"Bukannya kamu bawa motor tadi ke sekolah?" tanyanya lagi.
"Heem ...." Alesya kemudian melihat mobil Melinda sudah hampir dekat gerbang sekolahnya.
"Alesya. Kamu mau kemana?" teriak Raka yang menaruh khawatir.
"Mau pergi dengan tanteku."
Mobil Melinda berhenti tepat di depan Alesya. Dengan senyuman Alesya masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku sebelah kemudi.
"Sudah siap?" tanya Melinda.
"okeh Tante let's go!" Alesya bicara dengan penuh semangat.
Melinda kembali menjalankan mesin mobilnya dan membawa Alesya pergi ke suatu tempat dekat dengan arah ke rumah Jonathan.
"Kita makan di tempat dekat rumah kamu saja ya. Tante takut nanti papa dan mami kamu nyariin kalau pulang terlalu telat." ujar Melinda.
"Okeh, Tante. Enggak masalah kok. Yang penting kita makan bareng." jawab Alesya.
Dengan cepat Melinda mengendarai mobilnya. Hingga mereka tiba di sebuah restoran yang menghidangkan masakan ala Italia. Melinda masih ingat sekali kalau Alesya suka dengan pasta.
"kita makan di sini. Kamu suka kan dengan masakan Italia." Melinda membuka seat belt dan Mereka turun dari dalam mobil.
Alesya dan Melinda langsung duduk dan memesan beberapa jenis pasta yang pastinya sangat disukai oleh Alesya.
"Extra cheese kan?" tanya Melinda.
"Heem ... Benar." jawabnya singkat.
"Semuanya, pakai extra cheese ya, mba." pesan Melinda.
Melinda lalu berbincang dengan Alesya sambil memperhatikan raut wajah keponakannya itu.
"Kamu dapat kado apa dari keluargamu?" tanya Melinda.
"Heem ...." Alesya berpikir sebelum menjawab.
"Sudahlah. Jangan dipikirkan. Apa kata Tante. Mereka sama sekali tidak mengingat hari ulang tahunmu. Mereka hanya memanfaatkan mu saja. Mungkin om kamu saat ini dalam juga dalam pengaruh Dinniar. Kasihan sekali Jonathan. Dia menikah dengan wanita yang salah. Andai dulu dia mau dijodohkan denganku. Mungkin dia tetap menjadi orang yang normal." Melinda mulai meracuni kembali pikiran Alesya.
.
.
.
Di tempat lain. Dinniar berusaha mencari tahu kenapa putrinya bisa bicara seperti tadi pagi. Dia pergi ke sekolahan Alesya dan ternyata putrinya sudah pulang.
"Tante." Raka memanggil Dinniar.
"Raka." Dinniar menoleh.
"Raka, apa kamu tahu kemana perginya Alesya?" tanya Dinniar.
"aku tadi melihat Alesya pergi dengan tantenya." jawab Raka.
"tantenya?" Dinniar berpikir.
"mereka naik mobil berwarna merah." Raka memberikan informasi yang mungkin bisa membantu.
"Merah. kamu tahu kemana mereka perginya?" tanya Dinniar.
"terima kasih, Raka. Tante pergi dulu." Dinniar segera keluar dari sekolah dan menaiki mobilnya.
Dinniar pergi ke jalan arah ke rumah. Dia mengendarai mobil dengan sangat santai karena sambil mencari keberadaan putrinya.
Dia terus menyusuri jalan pulang. Bahkan terkadang orang membunyikan klakson agar Dinniar mengendara dengan agak cepat atau normal.
"Di mana kamu Alesya." Dinniar terus mencari.
Dinniar mengkhawatirkan putrinya. Dia takut sekali terjadi sesuatu kepada Alesya. Dinniar tidak tahu siapa Tante yang diceritakan oleh Raka.
Saat Dinniar mencari putrinya. Alesya malah sedang asik menikmati makan siang yang dipesan. Alesya menyantapnya dengan sangat lahap.
"pelan-pelan makannya. Kita masih punya waktu sebelum kamu pulang." Melinda menepuk pundak keponakannya.
"Tante, apa Tante menemui aku hanya untuk mempengaruhiku agar membenci mami?" tanya Alesya.
"Apa maksudmu? Tante tidak mempengaruhiku. Ini fakta Alesya." Melinda berusaha meyakinkan Alesya.
"Tante dan aku mungkin anak angkat, tapi sayangnya kita berbeda. Aku hidup dengan penuh cinta dari kedua orang tuaku. Mereka bahkan tidak pernah memanfaatkan keberadaanku sama sekali. Mungkin bisa dibilang aku yang memanfaatkan mereka." tutur Alesya.
"Maksudmu?" Melinda menjadi bingung.
"ya, aku memanfaatkan mereka demi mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang tulus. Mereka adalah keluargaku. orang yang Tante jelek-jelekan tadi adalah mamiku. Wanita yang mungkin tidak melahirkan ku. namun, dia wanita yang tulus mencintaiku seperti anak kandungnya sendiri." Alesya mulai melempar bom kepada Melinda.
"Asal Tante tahu. Semalam mereka bahkan membuatkan aku pesta yang sangat meriah dan memberikan aku sebuah hadiah yang begitu berharga. Jadi aku peringatkan kepada Tante. Jangan pernah menjelekkan mamiku lagi. Dan jangan berharap bisa merusak keluarga kami atau rumah tangga orang tuaku. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti mereka. Termasuk Tante Melinda!" Alesya memperingati Melinda dengan peringatan keras.
"Alesya! jangan lancang ya kamu bicaranya. Kamu nanti akan menyesal telah membanggakan dinniar. dengar, aku akan membuat mereka bercerai. Dan aku yang akan menggantikan posisi Dinniar." Melinda lalu menyeringai.
"Aku tidak takut. karena aku tahu ketulusan dan kebenaran akan selalu menang." Alesya bangkit dari duduknya dan berbalik.
Saat Alesya berbalik. Dia melihat maminya sudah berdiri di dekat pintu cafe. Dinniar langsung berlari menuju Alesya.
"Sayang, kamu enggak kenapa-kenapa,kan?" tanya Dinniar dengan wajah penuh kecemasan.
"Aku baik-baik saja, mih." jawabnya.
"Melinda. Apa yang kamu lakukan kepada anakku? Apa rencana kamu kali ini? Tidak puas kah kamu mendatangiku saja? kenapa harus menarik anakku dalam permainanmu?" Dinniar marah kepada Melinda.
"Anak? Dia bukan darah dagingmu." tutur Melinda.
Dinniar mengangkat tangannya dan langsung mendaratkannya di pipi Melinda. Dengan amarahnya dan tidak terima dengan kata-kata Melinda. Akhirnya Dinniar menamparnya.
"Apa yang kamu lakukan Dinniar!" teriaknya sambil memegangi pipi yang agak kemerahan.
"itu hal yang pantas kamu dapatkan karena telah mengganggu keluargaku. Aku peringatkan kepadamu. Jangan usik keluargaku, teruta anak-anakku!" Dinniar mengancam Melinda sebelum dia dan Alesya pergi meninggalkan cafe.
Melinda yang menjadi tontonan banyak orang merasa kesal.
"Apa yang kalian lihat!" bentaknya kepada pengunjung yang melihatnya.
"Apa kalian belum pernah melihat orang bertengkar!" Melinda semakin marah.
Melinda masih sibuk marah di dalam cafe. Sedangkan Dinniar dan Alesya sudah berada di dalam mobil.
"Sayang. kenapa kamu bisa sama Tante Melinda?" tanya Dinniar.
"Aku sudah lama mengenal Tante Melinda, mih. Aku cukup dekat dengannya. Namun, aku baru tahu sifat aslinya sekarang." jelas Alesya.
"Apa yang Melinda lakukan kepadamu?" tanya Dinniar.
"Dia lebih banyak menghasutky agar membenci mami. Dia tidak suka hubungan kita dekat dan tidak suka mami menjadi istri papa." ceritanya.
"Mami mendengar kamu membela, mami. Sayang terima kasih sudah percaya sama mami. Mami sangat menyayangimu. Kamu adalah anak mami. Jangan pernah meragukan kasih sayang ini." Dinniar memeluk Alesya.
"Kamu jangan menyimpan hal apapun sendirian. Kamu bebas bercerita sama mami. Mami akan menjadi pendengar setia mu."