Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
part 198 - Malaikat Kecilku



Dinniar mendapatkan telepon dari suaminya yang sedang berada di kantor. Dinniar terkejut karena mengetahui kalau Tasya berada di kantor suaminya bersama dengan mantan suaminya yaitu ayah tasya.


"Mas, aku tadi lihat kalau pak supir sudah jalan menjemput tasya ke sekolah. kok bisa tasya ada bersama dengan mas darius dan di kantor mu?" Dinniar menjadi panik.


"Mas, ada telepon dari adrian. aku coba angkat dulu. mungkin dia ada yang mau di sampaikan tentang sekolah."


Dinniar mengalihkan pembicaraan ke panggilan adrian. " Halo, adrian," jawab Dinniar.


"Maaf, Din. aku baru sempat untuk menghubungimu. hari ini kebetulan sekali kami sedang ada rapat internal dadakan. jadi kami memulangkan anak-anak dengan cepat. dan saat aku mau menghubungimu, tasya langsung berlari menghampiri dqarius. aku sudah bilang kalau akan menghubungimu dulu. Namun, tasya terus merengek ingin pergi bersama papinya. dan aku juga baru ada kesempatan untuk menginformasikannya kepadamu." Beber Adrian secara gamblang.


"Terima kasih untuk informasinya. ini bukan kesalahanmu. seharusnya mas darius yang menghubungiku untuk meminta izin membawa tasya. untungnya mas jonathan melihat mereka yang berada di kantornya. karena kebetulan siang ini mereka ada rapat bersama. Sekali lagi terima kasih." Dinniar langsung menutup telepon dan beralih menghubungi darius untuk meminta penjelasan.


"Seenaknya saja dia membawa tasya bersamanya tanpa bicara apapun kepadaku. dan ditambah mas jonathan sepertinya sedang di landa marah. entah kenapa setiap dia melihat tasya dengan mas darius moodnya menjadi berubah." gerutu Dinniar sebelum darius menerima panggilan darinya.


Di loby kantor jonathan darius yang sedang bercanda dengan tasya tiba-tiba mendengar ponselnya berdering dan ternyata mantan istrinya menghubunginya. dengan cepat darius menerima panggilan itu.


"tunggu sebentar ya, mami telepon." ujar darius kepada tasya.


darius mendekatkan ponsel genggamnya ke telinga seblah kanannya. " Halo," ujarnya menerima panggilan telepon dari Dinniar.


"Hallo mas, mas kenapa kamu bawa tasya, tapi tidak memberitahukan apapun kepadaku?" tanya dinniar dengan nada penuh emosi.


"Dengarkan aku dulu. aku tadi baru saja mau menghubungi dirimu, tapi tasya memintaku untuk memberi kejutan kepada jonathan dan baru menghubungimu. aku minta maaf." Darius berusaha menjelaskan kondisinya.


"Tetap saja mas. kamu salah, seharusnya kamu tetap mengurimkan pesan kepadaku agar aku tidak khawatir." Dinniar tidak menerima alasan apapun dari darius.


"Baik, sekali lagi aku minta maaf. aku tidak akan mengulangi hal ini lagi. aku tutup dulu teleponnya, aku akan mengantar tasya ke ruangan jonathan." Daris menutup panggilan telepon dari dinniar.


Darius kembali menghampiri tasya yang sedang menunggu dirinya di kursi tunggu. " Sayang kita ke ruangan papa dulu ya. setelah itu kamu akan menunggu papi dan papa di sana. kamu jangan nakal ya di ruangan papa." Pesan darius kepada putri semata wayangnya.


"Papa." Teriak Tasya sambil berlari dan jonathan langsung menangkapnya dan memeluknya.


"papa kangen ya sama tasya? tasya juga kangen sama papa. tasya ikut papi kemari karena mau bertemu dengan papa." Lanjut tasya ketika sudah berada di dalam gendongan papanya.


Jonathan memandang wajah cantik putri sambungnya yang begitu di sayangi segenap jiwa dan raganya. Jonathan mengusap rambut ikal sang putri dan mengecup keningnya.


"Maafkan papa ya sayang. papa akhir-akhir ini sangat sibuk dengan pekerjaan dan selalu pergi pagi dan pulang saat kalian sudah tertidur pulas." Jonathan merasa menyesal.


"Tidak apa-apa papa. aku dan kak alesya mengerti kok, tapi boleh tidak untuk hari ini papa pulang cepat. Kak alesya rencananya juga akan kemari menemui papa. kita makan malam bertiga di luar boleh?" tanya Tasya dengan penuh manja.


Darius melihat kalau anaknya begitu menyayangi jonathan, dia mengetahui kini kenapa anaknya mau ikut dengannya. Tasya ternyata rindu kepada papanya. tasya bahkan mengajak jonathan untuk makan malam di luar bersama. sedangkan tasya sangat jarang sekali mengajaknya pergi kecuali dirinya yang mengajak pergi.


"Jonathan, sepertinya kita sudah kehilangan waktu dua puluh menit untuk mulai rapat siang ini. bagaimana kalau kita mulai sekarang." Ajak Darius.


"Tasya, papa mau pergi ke ruang rapat dulu untuk rapat dengan papi. tasya tunggu di ruangan papa ya." Jonathan mencubit kecil hidung putrinya yang lucu.


"Tolong jaga anak saya. awasi dia takut dia keluar dari ruangan saya." Ujar Jonathan memberi tugas kepada sekretaris pribadinya.


"Baik, Pak." angguknya.


jonathan dan darius langsung pergi menuju ke ruang rapat. di depan pintu masuk ruang rapat, jonathan menepuk pundak darius.


"Lain kali, jika ingin membawa putriku kemanapun. usahakan menghubungi kami dulu." Ujarnya dan lalu masuk ke ruang rapat.


Darius hanya bisa bengong karena baginya jonathan sudah sangat menganggap kalau tasya adalah putri kandungnya sendiri. Ada rasa kesal di hati darius mendengar ucapan pria yang bukanlah ayah biologis putrinya, tapi bersikap seolah begitu berhak atas diri putrinya.


Mereka berdua masuk ke dalam ruanga rapat dan mulai membicarakan bisnis mereka berdua. baik jonathan maupun darius tidak akan mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. mereka tidak akan pernah membuat kerjasama menjadi berantakan. Karena mereka tahu ini saling menguntungkan bagi keduanya.