
Dinniar dan Darius sudah berada di rumah. Hari ini, dia benar-benar bisa menyita waktu Darius untuk bersama dengannya.
Saat di rumah Dinniar juga mulai membuat permainan. Dia melakukan itu semua agar Darius tidak sibuk dengan ponselnya.
"Mami punya permainan. Siapa yang bisa tebak dia yang akan jadi pemenangnya. Sebaliknya, siapa yang kalah akan di coret mukanya pakai ini." Dinniar mengeluarkan lipstik miliknya.
Permainan di mulai dari Darius lalu ke Dinniar terakhir ke Tasya. Permainan terus berputar seperti itu.
"Papi kalah." Tasya mencoret wajah papinya.
Mereka sangat bahagia. Dera tawa mengisi setiap sudut ruangan. Dinniar melihat Darius sangat senang dan terlihat lebih enjoy.
Dinniar terus menciptakan suasana yang menyenangkan. Tentu saja dia harus menciptakannya. Ibarat tubuh, suami memang kepala dan otak yang menggerakkan rumah tangga, tapi istri ibaratkan jantung, jantung berfungsi mengalirkan darah, sedangkan istri berfungsi mengalirkan kebahagiaan. Istri harus mampu menciptakan cinta demi keluarga yang bahagia.
Pria sering merasa bosan dan jenuh bahkan dengan rumah tangganya. Permainan kecil mungkin akan dibuat oleh mereka untuk menghilangkan kejenuhan. Dalam permainan ada yang kembali dan ada yang terjebak dalam permainan hingga lupa untuk pulang.
Dinniar berharap suaminya hanya bermain sebentar dan akan kembali pulang.
"Sayang, permainannya sudah sampai di sini ya. Sekarang Tasya bobo. Mami dan Papi juga mau bobo." Dinniar mengusap wajah mungil putrinya.
Tasya mengerti dan dia langsung beranjak ke dalam kamar bersama baby sitternya.
"Permainan kita belum selesai dan kita lanjutkan di kamar." Darius menggandeng tangan istrinya.
Dia membawa Dinniar ke dalam peraduan. Darius seperti merindukan kembali keluarganya.
Mas, aku akan menunggumu. Jangan tersesat terlalu lama, aku takut kamu lupa jalan pulang.
Darius mengecup lembut bibir istrinya dan membuka satu persatu pakaian Dinniar.
Aku ingin kembali, tapi aku tidak bisa meninggalkannya. Aku terlanjur cinta. Kamu dan dia sama-sama Aku cintai.
.
.
Dinniar termasuk Morning Person, atau orang yang terbiasa bangun pagi.
Dinniar di pagi hari akan mempersiapkan kebutuhan untuk suaminya, mandi dan menyiapkan sarapan pagi. Sebagai seorang istri dia termasuk istri ideal yang banyak dicari dan disukai pria. Namun, masih saja ada pria yang selingkuh dari wanita yang sudah mendekati sempurna itu. Apa yang mereka cari dari wanita lain?
Hari ini. Dinniar memiliki rencana cadangan lagi. Dia tidak akan membiarkan perusak rumah tangganya menguasai suaminya.
Dinniar yang biasanya menyiapkan sarapan belum menggunakan riasan. Kali ini dia menyiapkan sarapan sudah terlihat cantik.
Darius menuruni anak tangga dan melihat istrinya yang sudah terlihat cantik. Dia tersenyum dan mendekati istrinya lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dinniar.
"Kamu sangat cantik." Darius berbisik mesra.
"Thank you." Dinniar membalas bisikan suaminya.
"Hanya thanks you? Tidak ada morning kiss?" tanya Darius.
Dinniar langsung membalikkan badannya dan mengecup pipi suaminya.
"Hanya pipi?" Protes Darius yang membuat istrinya tersipu.
"Masih pagi. Nanti malam aku kasih lagi Night kiss super Hot." Dinniar melepaskan diri dari pelukan suaminya.
Darius tersenyum, dia terlihat begitu mencintai istrinya. Senyuman dan semua kata-katanya sangat terlihat kalau dia adalah suami yang hanya mencintai satu wanita.
.
.
Darius melambaikan tangannya kepada Dinniar. Hari ini Dinniar minta diantar ke sekolah tempatnya bekerja. Setelah itu Darius langsung tancap gas untuk menuju kantornya.
Setelah seharian kemarin Dinniar menyita waktunya, Darius hari ini berencana akan bertemu dengan Cornelia.
Darius memarkir mobil miliknya dan langsung masuk ke dalam kantor. Sebelum menuju ruang kerjanya, Darius bertemu dengan sekretarisnya.
"Siapkan bahan meeting, jam sembilan kita mulai meeting," perintah Darius.
Darius langsung masuk ke dalam ruang kerjanya dan mengeluarkan ponselnya. Dia langsung mengirim pesan kepada kekasihnya.
Darius sudah menyiapkan beberapa coklat kesukaan Cornelia dan satu cincin berlian cantik. Dia menyimpannya di meja kerjanya.
Darius pergi meeting internal dengan karyawannya. Mereka akan membahas tentang project baru di Agency Gemilang.
Darius buru-buru menyelesaikan pekerjaannya karena waktu sudah menunjukkan sebentar lagi jam makan siang.
"Kita akhiri meeting hari ini. Saya minta pekerjaan kalian harus lebih kreatif lagi agar agency kita lebih banyak dilirik oleh mereka yang mencari model." Darius menutup meeting internal dan langsung keluar ruangan untuk menuju ruang kerjanya.
.
.
Dinniar yang sudah menunggu Darius di ruangan suaminya, melihat ada beberapa benda di atas meja suaminya.
"Jadi, demi menenangkan hatinya. Kamu memberikan ini semua, Mas?" gumam Dinniar sambil menyentuh satu persatu benda yang dia lihat.
Pintu ruangan terbuka dan Darius begitu terkejut melihat istrinya sudah berada di ruang kerjanya siang ini.
Darius melangkah gontai, dia tidak tahu apa yang harus dikatakan olehnya.
"Sa-sayang. Kamu di sini?" tanyanya dengan raut wajah yang terkejut.
"Hmm ... Benar." Dinniar memasang wajah datar.
Melihat ekspresi istrinya Darius langsung memutar otaknya agar bisa membuat wajah istrinya senang. Dia tidak mau dicurigai oleh Dinniar.
"Sayang, kamu kenapa ke kantor sih hari ini? Aku'kan rencananya mau buat kejutan nanti saat pulang ke rumah buat kamu."
Darius menghampiri meja kerjanya. "Lihat pasti kamu sudah melihat bunga, dan kotak perhiasan yang aku beli untukmu."
Darius langsung mengklaim kalau itu adalah untuk istrinya.
Seberapa banyak kebohongan lagi yang akan kamu buat? Aku sudah mengetahui perselingkuhan mu dan aku juga sudah tahu kalau semua hadiah ini adalah untuk model itu. Seberapa banyak lagi rasa sakit yang akan kau berikan untukku?
Dinniar berusaha mengubah hatinya yang sakit agar suaminya tidak curiga kalau dirinya sudah mengetahui kebusukan Darius.
Dinniar langsung memasang senyuman dan wajah terkejut.
"Benarkah? Aku sangat tidak menyangka kalau kamu sangat romantis." Dinniar mengalungkan kedua tangannya di leher Darius.
Dinniar berpura-pura senang dengan perkataan suaminya.
"Boleh aku buka kotaknya?" Dinniar mengangkat kotak perhiasannya.
"Boleh banget dong sayang." Senyumnya kaku.
Dinniar langsung membuka kotak tersebut dan wajahnya kembali berpura-pura bahagian lalu memeluk suaminya sebelum memakai cincin itu.
"Terima kasih, sayang. Boleh pakaikan?" Dinniar menyodorkan kotak berisi cincin berlian.
Darius mengambil cincinnya dan akan menyematkannya di jari tengah istrinya.
Jadi cincin berlian ini untuknya? Seberapa istrimewanya dia untukmu, Mas?
Dinniar hampir kehilangan kendalinya. Dia hampir akan menangis memikirkan pengkhianatan suaminya.
"Sayang kenapa kamu menangis?" Darius menyadari kedua manik mata istrinya berkaca-kaca.
"Aku hanya terharu, Mas." Dinniar menghapus air matanya.
Darius langsung memeluk Dinniar erat.
Maafkan aku sayang, aku kembali membohongi dirimu. Maafkan aku yang telah membuat hati ini berbagi cinta. Aku ingin kembali tapi terlanjur jatuh hati.
.
.