
Melihat mobil targetnya sudah sudah memasuki garasi rumah. Mereka berdua memastikan kalau target mendapatkan surat yang mereka selipkan di handle pintu.
"Setelah dia membacanya. kita langsung cabut dari sini. Besok baru kita kembali lagi." Tutur salah seorang pria kepada teman satu motornya.
"Siap."
Mereka fokus mengintai target. mereka melihat Darius turun dari mobil dan menuju pintu rumahnya. Saat Darius menarik surat dan membacanya. Kedua pria itu menyalakan mesin motor dan langsung pergi dari sana.
Darius sedang sibuk membaca isi surat itu. Dia terlebih dahulu memperhatikan siapa pengirimnya. Namun, ternyata tidak ada nama si pengirim surat. Darius melihat sekeliling rumah dan tidak ada siapapun.
"Siapa sebenarnya yang mengirimkan surat ini?" Darius kembali melihat dan membaca isi surat yang ditujukan untuk dirinya.
"Mantan istrimu sudah menikah dengan seorang pria yang lebih sukses darimu. Dia akan semakin membuatmu jauh dari putrimu sendiri. Jika kamu mau tau siapa informanmu dan mau bekerja sama denganku hubungi nomor di bawah ini." Darius membacanya dengan suara kecil.
"siapa pengirim surat ini? dan apa maunya dengan memberitahukan kalau Dinniar sudah menikah lagi? tunggu, apa ini alasannya Imah membawa barang-barang ke rumah itu dan Tasya berada di sana?" Darius mengerutkan dahinya.
Darius masuk ke dalam rumahnya dan dia lihat ibunya sedang sibuk menyiapkan masakan.
"Kamu sudah pulang?" tanya Susi yang sepertinya sedang menyinggung putranya.
"Sudah." Darius menjawab dengan singkat.
Darius tidak lagi bicara apapun. dia langsung masuk ke dalam kamar dan masih memikirkan siapa yang memberikan surat kaleng itu kepadanya.
"Kalau Dinniar sudah menikah dengan Jonathan. akan lebih sulit aku menemui Tasya. ditambah sepertinya penjagaannya sangat ketat. Haaah!" Darius meremas surat itu dan melemparnya sambil sedikit berteriak kesal.
Darius meremas jemarinya lalu menopang dagu dengan kedua tangan yang tergenggam. Darius berpikir ingin menghubungi Dinniar, tapi dia tidak memiliki keberanian atas keinginannya.
...****************...
Jonathan selesai dengan seluruh pekerjaannya. Dia hendak kembali kerumah. Namun, seseorang datang menemuinya.
"Hallo pengantin baru." Samuel menghampiri Jonathan.
"Eh, bro. Aduh tumben banget kesini enggak bilang-bilang." Jonathan beranjak dari duduknya dan berpindah ke bangku sofa yang ada di ruangannya.
Dia dan Samuel bersalaman dengan berjabat tangan khas mereka berdua.
Samuel dan Jonathan kembali duduk di sofa dan mereka berdua saling berbincang ringan.
"Gimana malam pertama kalian? lancar? panas? ganas? liar?" tanya Samuel dengan menebak-nebak.
"Apaan sih. Biasa ajah. tidur kecapean. lagian kita sekarang lagi mau mulai pacaran dulu. penjajakan setelah menikah. jadi pelan-pelan bro biar makin penasaran." Jonathan tertawa singkat.
"Ah, enggak seru. Baru gue kesini mau dengar cerita malam pertama kalian berdua. taunya belum belah duren. jangan-jangan ciuman juga belom lagi." ledek Samuel sambil terkekeh.
"Kalo cium udah. pipi sama kening. kayak anak remaja yang baru mulai pacaran dan lagi kasmaran." Jonathan membela diri.
Jonathan tidak mau di ledek oleh sahabat dekatnya itu. Namun, semakin dia memberi alasan. Samuel semakin meledek dirinya.
"Dinniar meminta kita pacaran selama tiga puluh hari. setelah itu kita akan melakukannya atau bisa jadi sebelum tiga puluh hari aku sudah bisa membelah duren." Cerita Jonathan.
"semangat bro. jangan kasih kendor. Terus pikat hatinya dengan seluruh jurus yang udah gue ajarin ke lo. itu pasti manjur banget." Samuel bicara dengan sangat antusias sesuai pengalaman pribadinya.
"Manjur, dikira obat apa." Jonathan kembali tertawa.
Dua pria itu sibuk berdiskusi hingga tak terasa waktu berjalan dengan sangat cepat. hari sudah mulai gelap.
"Ayo pulang. nanti istri tercinta gua nungguin lagi. takut kangen di cium." Jonathan tertawa kecil lagi.
"Besok ada rapat gabungan. Kita harus datang. perusahaan yang di kelola kakak Lo udah menunggu pemimpin barunya untuk datang." Samuel bicara dari balik jendela mobilnya.
"siap, bro." Jonathan mengacungkan jempolnya.
Jonathan dan Samuel mengendarai mobilnya masing-masing dan menuju rumah mereka kembali. Jonathan dengan cepat melajukan mobilnya dia sangat ingin segera sampai di rumah untuk berjumpa dengan istri dan anak sambungnya.
"Aku sepertinya harus membeli sesuatu dulu. Tasya pasti akan suka." Jonathan mengarahkan mobilnya menuju sebuah toko.
...****************...
Violin tengah menunggu suaminya pulang ke rumah. dia dan sang anak menanti di depan pintu rumah mereka.
Melihat mobil suaminya masuk ke dalam gerbang rumah mereka violin langsung tersenyum lebar.
"Pamu pulang." Violin menimang-nimang putrinya.
Violin di juluki Mamu atau ibu muda sedangkan Samuel dijuluki Pamu atau papa muda. Pasangan suami istri ini selalu kompak dan selalu menebar kasih sayang. Prinsip mereka adalah membangun rumah tangga harus jatuh cinta setiap hari kepada pasangan.
Violin dan Samuel selalu membuat cara agar mereka bisa selalu saling jatuh cinta setiap hari dengan cara baru dan sederhana.
"Halo anak Pamu dan Mamu." Samuel mengecup kening kedua wanita terindah dalam hidup mereka.
"Tadi kamu jadi ke kantor Jonathan, sayang?" tanyanya.
"Sudah, sayang. Hanya saja tidak seru. mereka belum belah duren." Seru Samuel.
"Apa? waduh kasihan sekali temanmu itu." ujar violin.
"Katanya mereka akan pacaran dulu selama tiga puluh hari. kamu bilang dong sama Dinniar jangan jinak-jinak merpati, mereka kan sudah menikah. Kasihan temen aku itu udah mah jomblo menahun. masa udah nikah belum juga bisa merasakan yang enak-enak." Samuel melirik istrinya yang cantik.
"Tenang saja. aku akan menghubungi Dinniar dan membuatnya tidak terlalu kaku." Violin turut melirik suaminya.
"ya udah aku mau mandi dulu. abis mandi kita enak-enak dulu sebelum makan malam sayang." Samuel melirik genit kearah istrinya dengan mengerlingkan salah satu matanya.
"Lihat Pamu de. Sepertinya Pamu kelilipan." Violin menggoda suaminya.
Pasangan suami istri ini dulu di jodohkan oleh kedua orang tua mereka. Perjalanan rumah tangga mereka begitu melelahkan pada awalnya. Namun seiring waktu berjalan tumbuh benih cinta. Membuat mereka berdua kini tidak bisa berlama-lama berjauhan. ditambah hadirnya sosok malaikat kecil yang membuat kehidupan mereka semakin berwarna dan ceria.
...****************...
Dinniar menyambut kepulangan Jonathan dari kantornya. Jonathan pulang dengan beberapa tentengan di tangannya.
"kamu bawa apa, mas?" tanya Dinniar.
"Ini untuk Tasya. Dimana dia?" tanya Jonathan.
"ada di dalam kamarnya sedang belajar. sudah beberapa hari dia ketinggalan pelajaran." Dinniar mengambil jinjingan yang dibawa oleh suaminya.
"Kalau maminya apa sudah belajar?" tanya Jonathan.
"Belajar? belajar apa?" tanya Dinniar sambil menaikkan satu alis matanya.
"Belajar mencintai suaminya." bisik Jonathan yang menimbulkan efek merinding di leher Dinniar.
Dinniar hanya bisa tersipu malu dan merasakan hembusan napas yang hangat disekitar leher.