Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 15 - Hancurnya Hatiku



Dinniar sudah sampai di rumahnya, dia langsung memeluk erat tubuh mungil putrinya.


Sonia berdiri di belakang Tasya. Dia yang melihat Dinniar memeluk tasya erat dan hampir menumpahkan air matanya. Sonia langsung memberi isyarat kepada sahabatnya untuk tidak menangis.


Anak kecil sangatlah peka terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya, maka dari itu Sonia berharap Dinniar bisa mengendalikan diri.


"Tasya, main di halaman belakang dulu ya, Tante Sonia dan Mami mau ngobrol sebentar." Sonia menyapu lembut rambut lurus Tasya.


"Abis itu kita pergi makan malam kan Tante?" tanya Tasya dengan polosnya.


"Iyah sayang, pasti."


Tasya langsung berlari ke halaman belakang rumahnya dan kedua sahabat itu langsung berjalan menuju kamar Dinniar.


Sonia langsung memeluk tubuh sahabatnya yang sudah menahan tangisnya. Tangisan Dinniar langsung pecah saat dirinya bersandar di pundak sahabatnya.


Disaat seperti inilah peran sahabat dibutuhkan, menghibur, menjadi penyemangat dan menjadi obat luka.


"Hatiku sakit, Son." Lirihnya.


"Aku mengerti, tapi kamu harus kuat. Ini demi Tasya." Sonia menegakkan tubuh sahabatnya.


Dia merengkuh pundak sahabatnya. Dirinya ikut hanyut dalam tangisan. Sonia benar-benar sangat ingin mencakar wajah Darius saat ini.


"Ingat Darius, karma itu ada. Aku pastikan kamu akan menderita." Sonia bergumam dalam hatinya.


"Sekarang kamu mandi, tenangkan pikiran, kita makan malam bersama. Tasya udah merengek minta makan malam bareng sahabat-sahabat Maminya." Sonia menyeka air mata yang ada di wajah Dinniar.


.


.


Darius yang tidak menyadari bahwa dirinya telah dibuntuti oleh istrinya dan telah di ketahui perselingkuhannya tengah asik memadu kasih di dalam kamar hotel bersama kekasih gelapnya.


Suasana malam membuat penyatuan mereka begitu istimewa. Tidak ada lagi bayangan rasa bersalah, yang ada adalah lenguhan dari bibirnya.


Permainan Cornelia yang masih muda dan juga energik membuat Darius terbang ke awang-awang.


Dia merengkuh pinggang Cornelia yang tengah asik bermain diatasnya.


Cornelia tidak tampak lelah padahal jadwalnya padat hari ini.


"Kamu tidak lelah?" tanya Darius.


"No, aku semakin bersemangat jika bersamamu di atas ranjang." Cornelia menjawab sambil terus bergerak naik turun.


Darius tersenyum dan kembali menikmati permainan.


Nikmati saja semua apa yang kamu mau nikmati Darius, sampai di rumah nanti jangan berharap rumah tangga dirimu akan sama seperti dulu, apalagi istri yang sudah kamu khianati.


Mungkin itu yang akan Dinniar katakan ketika melihat kelakuan bejat suaminya.


.


.


"Makan malam tiba. Ayo Tasya kita makan, di habiskan ya semuanya." Sonia menyodorkan beberapa lauk kepada Tasya.


Dengan antusias Tasya mengambil beberapa menu yang sangat bervariasi.


"Mami, kok diem ajah sih? Padahal biasanya Mami yang ambilkan aku lauk." Tasya merajuk.


"Maaf Tasya, Mimi agak lelah sedikit." Dinniar langsung tersadar dari lamunannya.


Adrian memberi kode kepada Sonia dan Sonia juga memberi kode kepada Adrian. Para sahabat ini sangat lah saling pengertian dan saling memahami. Adrian merasa ada yang tidak beres dengan salah satu sahabatnya, yaitu Dinniar.


Wajah lesu, tidak bersemangat, diam saja dan sering melamun. Ciri-ciri itu jarang di tunjukkan oleh Dinniar yang selalu terlihat ceria, antusias dan pendengar yang baik.


Makan malam mereka terlihat sedikit hambar, Dinniar sesekali tertawa tapi tawanya terlambat ketika suara para sahabatnya sudah pecah dan membuyarkan lamunannya.


"Kenapa sih dia?" Rasa penasaran menjalar di seluruh tubuh Adrian.


"Enggak ada apa-apa, dia hanya sedang ada pikiran dikit ajah. Mungkin masalah pekerjaan kali," terangnya.


"Masalah pekerjaan? Itu udah pasti enggak mungkin, kalo kerjaan udah pasti aku yang lebih dulu tahu," pungkasnya.


Sonia lupa kalau Adrian adalah salah satu pemilik yayasan dan dia adalah ketua yayasan di tempat Dinniar bekerja.


"Nah itu, aku kurang paham. Mungkin ada masalah rumah tangga sedikit. Biasalah kalau suami istri kan begitu, rumah tangga tanpa sedikit pertikaian. Kayak sayur asem enggak pakai garam. Kurang sedap." Gaya bicara khas Sonia yang agak ke Betawian mulai terdengar.


Adrian mengalah, dia berhenti bertanya. Dia sadar sahabatnya semua pandai menyimpan rahasia. Sampai kapanpun rahasia itu akan tertutup dan akan terbuka dengan sendirinya nanti.


Adrian kembali ke meja makan mereka, dengan hati pasrah dan bersabar dia akan menunggu ada apa dibalik semua ini.


Violin kini memasang isyarat tanya, tapi Adrian hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya.


Sonia sedikit menggenggam tangan violin dan violin mengerti.


Violin akan bertanya nanti, dia tidak akan bertanya jika si pemilik jawaban tidak ingin diajukan pertanyaan untuk saat ini.


Mereka kembali menikmati malam bersama meski suasana tidak utuh.


.


.


Pagi harinya. Sonia dan Tasya kembali bercanda tawa. Sonia masih menemani Dinniar, dia belum tega meninggalkan sahabatnya dalam kondisi masih terguncang.


"Son, kita sarapan dulu." Dinniar menarik bangkunya.


Sonia menghampiri meja makan bersama dengan Tasya.


Tasya sangat senang jika ada Sonia atau Adrian berkunjung ke rumah mereka.


"Tante, kapan-kapan nginep lagi ya di rumah Tasya," tutur anak kecil itu dengan menggemaskan.


"Gimana kalau Tasya ajah nanti yang nginep di rumah, Tante?" tanya Sonia.


"Mau ... Mau Tante." Tasya sangat bersemangat.


"Ayo sarapan dulu, nanti baru diterusin lagi ngobrolnya." Dinniar menaruh piring Tasya.


Dinniar memandangi putrinya yang sedang menikmati sarapan pagi.


"Jangan di ratapi lagi. Ingat kamu harus kuat, pura-pura tidak tahu dan tunjukkan siapa dirimu," saran Sonia.


Dengan cepat Dinniar mengangguk. Tangisannya sudah cukup sampai kemarin saja, hari ini dan seterusnya dia tidak boleh menangis lagi. Dia tidak mau terlihat lemah dan kalah.


"Kamu lihat mas, apa yang akan aku perbuat, agar kalian terpisahkan, sampai kapanpun, kamu adalah milikku dan Tasya." Dinniar mulai mengubah sedihnya menjadi semangatnya.


Wanita harus kuat, tidak boleh terlihat lemah apalagi kalah di hadapan pria yang sudah menginjak-injak harga diri mereka. Cinta yang penuh ketulusan yang diberikan mereka kepada prianya, malah dibalas dengan luka.


"Dinniar kamu harus kuat, tunjukkan siapa kamu sebenarnya. Tunjukkan siapa pemilik Mas Darius sebenarnya,"  ujarnya lagi dalam hati.


Meratapi kesedihan berkepanjangan tidak akan pernah bisa mengubah sesuatu. Bangkit dan terus menjalani hidup adalah kunci semua akan kembali kepada kita. Menyerah adalah bagi yang lemah, semangat adalah bagi yang kuat.


"Kalau ada butuh sesuatu, kamu kabarin aku ajah ya." Sonia sudah siap dengan tas nya.


"Tante mau pulang?" tanya Tasya.


"Iyah sayang. Tasya yang baik ya, jangan Mami, sayangin Mami. Janji?" Sonia mengacungkan jari kelingkingnya.


Tasya langsung mengaitkan jarinya di jari kelingking Sonia.


"Aku pulang dulu ya. Sampai ketemu lain waktu." Sonia masuk ke dalam mobilnya.


Dinniar dan Tasya kembali masuk ke dalam rumah mereka.