
Alesya dan juga Tasya masih asik mengobrol di dalam kamar dan bermain bersama di sana.
Sedangkan para orang dewasa sedang sibuk berbincang-bincang di ruang tamu.
Sonia diniar Jonathan dan juga Adrian tengah serius membicarakan permasalahan penculikan Tasya.
"kita sudah melaporkan Cornelia. sekarang kita tinggal mencari bukti-bukti kuat untuk memenjarakannya."
"Sebenarnya aku tidak tega melihat dia harus mendekam di penjara. akan tetapi dia sudah keterlaluan terhadap Tasya."
perasaan iba masih bisa muncul di hati diniar. wanita yang memiliki hati selembut sutra dan sangat Mentari. masih memiliki rasa kasihan kepada wanita yang sudah menyebabkan dia dan putrinya terpisah untuk beberapa hari.
"Din, kamu nggak perlu kasihan sama dia. dia itu udah keterlaluan sama Tasya. sekarang coba kamu pikir apa motif dibalik dia menculik Tasya?"
Dinniar hanya bisa menggelengkan kepalanya. dia memang tidak mengerti kenapa bisa seorang wanita dewasa. wanita sudah menjadi Ibu sambung Tasya sendiri melakukan hal sekeji itu.
"aku yakin bukan dia penculiknya."
Darius yang datang dan mendengar perbincangan mantan istrinya dan juga teman-temannya merasa tidak terima. dia tidak terima wanita yang saat ini tengah dicintainya disangka menjadi otak dibalik penculikan putrinya.
"untuk apa kamu ke rumah ini Mas?"
wajah Dinniar menjadi kesal, ketika melihat mantan suaminya berdiri di depan pintu dan lebih membela istri barunya.
"aku kemarin untuk melihat kondisi Tasya dan memastikannya dia baik-baik saja. Aku juga ingin meminta kepadamu untuk tidak terus menyudutkan istriku."
Darius bicara seakan-akan istrinya memang tidak bersalah.
"jadi kamu sebenarnya kema ri untuk Tasya atau untuk istrimu itu?"Dinniar berdiri dan dia menghampiri Darius.
"dengar Mas, jika kamu kemari hanya untuk membahas perkara istrimu yang menurutmu tidak bersalah itu. sebaiknya kamu pergi dari rumahku. karena aku tidak akan pernah melepaskanmu sebelum bukti-bukti itu ada dan menyerahkannya kepada polisi."
"sebaiknya kamu pergi dari sini, Mas. pergi!"
Dinniar mengusir Darius sambil berteriak. dia benar-benar muak melihat pria itu berada di rumahnya. hanya untuk membela istri barunya.
dalam sebuah cerita ibu tiri memang sangat kejam. akan tetapi dia tidak menyangka putrinya akan menjadi korban kekejaman ibu tirinya sendiri. belum Tasya tinggal dengan mereka saja Cornelia sudah melakukan perbuatan yang sangat fatal.
penculikan yang dilakukan Cornelia kepada Tasya. adalah satu hal fatal yang membuat dinniar memutuskan, tidak akan pernah memberikan Tasya kepada Darius dan Cornelia.
"Dinniar apa kamu tidak dengar tadi? aku kemari ingin melihat dan mengecek kondisi Tasya putriku."
Darius mengotot. dia memaksa untuk bertemu dengan putrinya.
"tidak perlu mas. bukankah kamu sudah melihatnya di rumah sakit bahwa kondisinya sudah baik-baik saja?"
Dinniar bersikukuh untuk tidak mengizinkan Darius bertemu dengan Tasya. dia tidak mau pria yang tidak bertanggung jawab itu kembali melihat Tasya.
"hei kamu tidak boleh seperti ini dong. kita punya kesepakatan. kita sepakat bahwa kita tidak akan membatasi Tasya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Ya itu aku atau kamu."
"itu dulu. sebelum kamu menjadi Ayah yang lalai!"
Dinniar menatap Darius dengan tatapan penuh kecewa. pria yang hidup bersama diniat selama 6 tahun itu mengenal betul sikap dari wanita yang pernah ia nikahi. wanita itu paling tidak suka dikecewakan apalagi mengenai anak.
Darius ingin menyerah tapi ia juga ingin bertemu dengan putrinya.
"Darius sebaiknya kamu pergi dari rumah ini. biarkan Dinniar menenangkan dirinya dulu. mungkin setelah dia tenang dia akan mengizinkanmu bertemu dengan Tasya."
Adrian mengambil langkah untuk menengahi dua manusia yang sudah bercerai-berai itu.
Darius mengepal kedua tangannya dan mengeraskan rahang wajahnya. masih ada rasa cemburu ketika wanita yang sudah menggugat cerainya di pengadilan. didekati oleh pria lain. pria yang selama ini selalu iya anggap pesaingnya.