Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 104 - Senyuman Tasya



Dinniar beserta anak dan suaminya sibuk menikmati hari mereka yang begitu indah dan bahagia. banyak senyum dan tawa yang mengudara sebab keceriaan yang mereka ciptakan hari ini.


Jonathan dan Tasya terus berlari-lari mengelilingi taman. Jonathan menemani Tasya bermain di taman.


"Papa aku mau naik perosotan dan juga ayunan."teriak Tasya dan Jonathan langsung menuruti apa mau dari anak sambungnya itu.


Jonathan berusaha keras untuk menyenangkan hati Tasya dan juga istrinya. dia ingin terus mengukir senyuman dan kebahagiaan agar bisa terus dekat dengan Tasya.


Jonathan benar-benar sangat ingin anak selanjutnya itu merasakan kenyamanan bersama dirinya dan dia juga ingin menunjukkan kepada diniar istrinya kalau dia benar-benar sangat serius ingin membahagiakan mereka berdua.


"Hah, papa cape. istirahat dulu. kita udah belanja ke mall, main ke taman. Sekarang sepertinya waktunya isi perut. papa udah laper." Jonathan menepuk perutnya dan merebahkan tubuh di atas rerumputan.


Tasya mengikuti Jonathan. Dia ikut berbaring di atas empuknya rerumputan. Dinniar hanya bisa mengembangkan senyumannya melihat anak dan suaminya sudah sangat kompak sekali.


ayah dan anak itu saling berburu nafas. mereka berdua kelelahan sangking terlalu senangnya menikmati hari bersama bermain di taman.


"Tasya lapar atau tidak?" tanya Jonathan kepada anak sambung.


"iya Tasya laper nih Papa. Papa lapar tidak?" Tasya berbalik bertanya kepada papanya.


"Let's go, kita cari tempat makan, papanya sudah lapar." Jonathan beranjak dari tidur-tidurannya dan mereka semua langsung pergi untuk mencari makan.


"kira-kira Mami apa tidak ya?"tanya Jonathan sambil melirik istrinya.


"sepertinya Mami juga lapar papa. soalnya kalau Mami lapar itu mami cuma senyum-senyum. pasti Mami masih malu-malu sama papa." tas yang mulai menggoda maminya lagi.


"kalau begitu kita tanya Mami dulu mau makan atau tidak." Jonathan kembali melirik kepada Dinniar.


"Mami lapar tidak?"tanya Tasya.


"iya Mami juga lapar. kita cari tempat makan seperti kata Papa." Dinniar bangun dari duduknya.


mereka bertiga berjalan bersamaan dengan bergandengan tangan Jonathan memegang tangan kanan Tasya sedangkan Dinniar memegang tangan kiri Tasya.


mereka tiba di parkiran taman dan langsung mencari mobil dan masuk ke dalam mobil.


"Tasya mau makan apa?" tanya Jonathan sambil melirik lewat cermin mobil.


"Makan steak atau makan menu Korea boleh. Tasya suka aroma daging." Tasya menjawab sambil berlagak sedang mengendus bau harum daging sapi yang di panggang.


Dinniar dan Jonathan tertawa melihat aksi bocah cilik yang begitu menggemaskan dalam hidup mereka.


"Okeh, papa tahu tempat makan yang bisa menyediakan keduanya." Jonathan langsung mengarahkan mobilnya untuk berjalan ketempat tujuan mereka.


Jonathan adalah seorang pria yang suka sekali menjelajah kuliner. Dia dan Rendy yang sering bepergian selalu hunting restoran atau cafe sebelum bepergian ke suatu tempat.


Mereka semua sampai di sebuah restoran yang biasa di singgahi oleh Jonathan. Saat Jonathan berjalan menuju cafe setelah memarkir mobilnya. Beberapa petugas keamanan langsung menyambut. Dinniar merasa terkejut. begitu dihormati suaminya oleh banyak orang. berbeda dengan saat dia jalan dengan Darius. biasa saja pelayanannya.


Para pelayan restoran juga langsung menyambutnya di depan pintu. Mereka disambut seperti artis papan atas atau pejabat tinggi.


"Sebegitu terkenalnya suamiku?" Batin Dinniar yang takjub.


"Selamat datang, pak. kami senang bapak dan keluarga bisa singgah di restoran kami." Seorang pria berjas datang menghampiri dan memberi hormat.


"Sepertinya pernikahan saya sudah tersebar." Jonathan tersenyum.


"Pasti, pak. Banyak yang membicarakan bapak dan mereka juga sangat senang karena ternyata anda mendapatkan seorang wanita yang cantik dan juga hebat dalam karirnya di dunia pendidikan." Pria itu tersenyum.


"Kok dia bisa tahu, mas?" tanya Dinniar yang sudah gatal ingin bertanya.


"Jelaskan kenapa kamu bisa tahu?" perintah Jonathan.


"Perkenalkan, saya adalah Sonny. Sepupu terbaik dan tertampan dari saudara Jonathan yang terhormat ini." Sonny kemudian tertawa dan dua pria itu saling berpelukan.


"Hallo bro! seneng banget bisa ke sini lagi. udah lebih dari dua bulan kayaknya ya enggak ketemu kita." Jonathan melepas pelukannya.


"Kamu tahu Dinniar, sepupu ku ini sangat bucin kepadamu. dia benar-benar tergila-gila dengan wanita yang cantik dan memiliki dedikasi tingga terhadap pekerjaannya di dunia pendidikan. dia selalu memujimu dimanapun saat dia bercerita tentangmu." Sonny begitu bersemangat menceritakan tentang Jonathan.


Dinniar hanya bisa tersenyum. dia tak tahu harus menimpali apa.


"Sayang, ini Sonny sepupu papa. Tasya kalau mau makan makanan yang enak tinggal telepon om Sonny." Jonathan memperkenalkan sepupunya kepada sang putri sambung.


"Berarti sekarang aku bisa makan makanan yang enak dong?" tanya Tasya.


"Betul sekali tuan putri. masakan sudah di persiapkan. sebentar lagi akan datang. menunya sesuai keinginan tuan putri. Menu spesial aneka olahan daging sapi. Tasya pasti suka." Sonny mendekati Tasya.


Saat Sonny mendekati Tasya reaksinya ternyata biasa saja. Dinniar dan Jonathan yang terkejut saat Sonny mendekati Tasya hendak langsung bersiap, tapi ternyata Tasya enjoy bahkan tidak menunjukkan ekspresi wajah ketakutan.


Jonathan melihat wajah istrinya yang tersenyum dan begitu senang. Jonathan mengerti pasti Dinniar tadi cemas sama seperti dirinya.


"Tasya, nanti saat mencicipi hidangannya. kasih nilai dari satu sampai sepuluh. Om Sonny mau tahu pendapat Tasya tentang masakan di sini. boleh?" tanya sonny dengan sangat ramah.


Sonny memang terkenal sangat ramah dengan anak kecil. itulah kenapa dia selalu di kerumuni anak kecil saat ada acara keluarga.


Tasya juga langsung akrab dengan Sonny. dia bahkan tersenyum bersama. Dinniar semakin yakin kalau Tasya tidak lagi takut kepada pria. hanya dia merasa kurang nyaman dengan papinya yang sering marah.


Sony segera memerintahkan kepada beberapa anak buahnya untuk menyiapkan masakan terbaik dari restoran miliknya.


Sony dan Jonathan juga saling bertukar kabar dan juga mengobrol kecil. linear dan Tasya ikut mendengarkan perbincangan kedua pria tersebut. ini ada begitu senang putrinya sudah bisa mengendalikan diri.


"saya tidak takut dengan om Sony?" tanya Maminya kepada Tasya.


"Tasya tidak takut Mami sama om Sony. om Sony kan baik dan dia saudaranya papa." jawab aja dengan sangat polos.


Dinniar benar-benar yakin kalau putrinya tidak takut lagi dengan orang asing. Tasya sudah bisa didekatkan dengan orang-orang asing lagi sekarang. seperti awal-awal keluar dari rumah sakit setelah kasus penculikan tersebut. bertemu dengan opanya saja Tasya ketakutan.


bahkan waktu itu saat dinier membawa Tasya pertama kalinya ke psikolog anak. Tasya juga sangat takut dengan orang asing baik wanita maupun laki-laki. dia selalu bersembunyi di belakang punggung Dinniar saat bertemu dengan orang lain.


"Tasya sudah jauh lebih baik ya sekarang?" maminya kembali bertanya untuk meyakinkan dirinya sendiri.


"Mami tidak perlu khawatir. Tasya sudah baik-baik saja sekarang. Tasya janji akan jauh lebih baik lagi. saya tidak mau membuat Mami selalu khawatir. Tasya kan maunya mami selalu senang." senyuman manis terukir di wajah Tasya membuat Dinniar juga ikut tersenyum.


"nah itu makanannya datang. ayo Tuan Putri Tasya silakan dicoba masakan dari restoran Om sony. om Sony berharap Tasya suka dengan masakan ini." om Sony mengelus lembut pipi Tasya.


beberapa menu hidangan yang terbuat dari daging tersusun rapi di atas meja makan mereka. para pelayan profesional melayani mereka dengan sangat baik. Tasya sangat senang melihat beberapa menu daging sapi yang sudah membuat air liurnya hampir menetes.


...****************...


Darius mendengar suara bel rumah berbunyi. dia langsung membuka pintu dan memeriksa siapa yang datang. Saat pintu terbuka tidak ada siapapun dia dapati, tapi ada sebuah kotak kecil di depan pintu.


Darius mengambilnya dan membukanya. Dia tahu siapa pengirimnya.


"Pasti dia lagi. sebenarnya siapa dia?" Darius mengoceh sambil membuka kotak.


Darius mendapati sebuah foto yang tercetak gambar putrinya dan mantan istrinya sedang bermain di taman. Tasya bermain bersama Jonathan di dalam gambar itu. Darius juga mendapatkan sebuah surat.


Bagaimana rasanya melihat mereka? apakah kamu rela mereka bahagia sementara kamu tidak? seharusnya kamu juga bisa menunjukkan kebahagiaanmu bersama istrimu di depan mereka. Biar mereka tahu kalau kau juga punya keluarga bahagia. Jangan mau hanya melihat mereka bahagia. Kamu juga pantas bahagia bersama istri dan calon anakmu.


Darius meremas surat kaleng tersebut. Dia kembali menatap foto yang dikirimkan untuknya. Hatinya benar-benar terbakar cemburu. Dia tidak rela putrinya dekat dengan pria lain. dia juga tidak rela Tasya berbagi senyuman kepada orang lain sementara kepadanya Tasya merasa selalu ketakutan.


"Kenapa Tasya bisa tersenyum ceria seperti itu kepada Jonathan. apa yang telah Dinniar lakukan kepada Tasya? pasti Dinniar telah membicarakan hal buruk tentangku dan membuat Tasya menjadi takut. Aku yakin Tasya begini bukan karena trauma." Darius menggemertakkan giginya sangking menahan kesal.