Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 130 - Ikatan yang tak akan terputus



pagi-pagi sekali Dinniar, Tasya dan Alesya sudah diantar oleh Jonathan ke sekolah. Karena ini adalah hari Senin jadi semua berangkat lebih pagi untuk menghadiri upacara bendera.


Dinniar harus ikut mengawasi persiapan upacara bendera. Dia tidak mau ada kesalahan untuk penghormatan kepada negaranya.


"Dadah kak Alesya. nanti pulang sekolah kita main lagi ya." ajak Tasya.


Sebagai seorang kakak Alesya sangat menuruti keinginan adiknya meski mereka lahir dari rahim yang berbeda dan tidak ada hubungan darah sedikitpun.


Alesya dan Jonathan lalu pergi, sedangkan Dinniar masuk ke dalam area sekolah.


"Pah, nanti pulang kerja tolong belikan donat ya. Semalam Tasya ingin sekali makan donat,"ujar Alesya.


"Okeh siap tuan putri papa." Jonathan menoleh ke Alesya.


"Andaikan saja sejak dulu kita bisa seperti ini. pasti aku sejak dulu sudah memanggil Bu dinniar dengan sebutan Mami. dan saat kelulusan sekolah dasar aku bisa berfoto dengan kedua orang tua yang lengkap." Paparnya.


"Sayang, semua itu sudah Allah yang mengaturnya. kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya atau kita tidak bisa mengubah masa lalu. jadi jangan sesali apapun yang ada di masa lalu. jalani yang ada sekarang dan selalu bersyukur. kita bisa melakukannya nanti saat kamu lulus sekolah menengah pertama." Jonathan sedikit menasehati keponakannya itu.


Jonathan memang sebenarnya sudah menganggap Alesya sebagai anak kandungnya sendiri. dia sangat menyayangi Alesya putri tunggal dari kakaknya.


Jonathan menganggap kalau Alesya memang dikirimkan Tuhan untuk dirinya sejak awal. Hanya saja tidak berasal dari benihnya.


Alesya dan Jonathan sampai di sekolah menengah pertama harapan. masih satu Yayan dengan sekolah tempat Dinniar bekerja, hanya berbeda lokasi.


"Dadah Pah. hati-hati di jalan. Sya sayang Papa." Alesya menyalami om yang kini menjadi papanya.


Hidup memang tidak akan pernah ada yang tahu apa yang terjadi di kemudian hari. tugas kita hanya bagaimana menjalani dan bagaimana menyikapinya. Hidup menjadi orang baik adalah salah satu kunci agar jalan kita di dunia mulus meski ada sedikit kendala.


Jonathan ditakdirkan menjadi seorang pria yang mampu membalut luka di hati orang yang ada didekatnya. Dia pria yang mampu membuat Dinniar melupakan dan merelakan luka di masa lalunya.


...****************...


Dinniar mendapati pintu ruangannya diketuk. "masuk." dengan suara yang lembut dan nada yang ramah.


Pintu perlahan terbuka, semakin lama semakin terbuka lebar dan seseorang muncul dari balik pintu.


"Selamat pagi." seorang wanita menyapa saat pandangan mereka berdua saling bertemu.


"Ibu, silahkan duduk Bu." Dinniar langsung bangun dan menyalami mertuanya itu.


Ke santunan Dinniar memang tidak pernah diragukan. dia adalah wanita yang sangat santun yang pernah di temui oleh Susi. itu yang menjadikan Susi begitu menyesal putranya menyia-nyiakan wanita seperti Dinniar dan malah memilih bersama dengan wanita yang tidak memiliki akhlak.


"Ibu sama siapa ke sini?" tanya Dinniar.


"ibu ke sini sendiri. naik taksi." Susi menatap manik mata Dinniar.


"Maafkan ibu Dinniar. selama kamu menjadi menantu ibu. ibu tidak pernah berbuat banyak untuk membantumu. bahkan disaat anak ibu menyakitimu. ibu hanya bisa meratapi tanpa bisa berbuat apapun. rasanya ibu tidak pantas untuk terus menemuimu." Susi malah menangis.


Dinniar merapatkan tubuhnya ke tubuh mertuanya. dia memeluk mertuanya dan mengelus punggung ibu mertuanya agar tidak menangis.


"Bu, semua ini sudah suratan takdir. ibu tidak pernah salah. ibu juga sudah berbuat banyak untuk Dinniar. selama ini ibu begitu besar menyayangi Dinniar dan begitu tulus menyayangi aku. bahkan teman-teman ku banyak yang iri karena aku memiliki ibu mertua seperti ibu." Dinniar melepas pelukannya dan mengusap tetesan air mata di pipi ibu mertuanya.


"terima kasih Dinniar. Keluarga Jonathan pasti sangat bahagia mendapatkan menantu sepertimu. dan Jonathan juga pasti akan menyayangi dirimu sepenuh hatinya. ibu lihat dia begitu perhatian dan mencemaskan Tasya saat terakhir kalian berkunjung kerumah." Susi tersenyum lebar.


"Bu, apa Cornelia dan mas Darius sudah bersama lagi?" tanya Dinniar dengan sangat hati-hati.


Dengan cepat Susi menyudahi perasaan sedihnya dan ingat apa tujuannya pergi menemui Dinniar.


"Ya, karena itu ibu kemari untuk menemui kamu. Kemarin Darius membawa pulang wanita itu ke rumah. katanya Darius sudah mencabut semua gugatannya. apa dia sudah mendiskusikannya denganmu?" tanya susi sambil memegang kedua tangan Dinniar.


Dinniar menggeleng "Dia tidak bicara apapun denganku. aku tahu karena pihak kepolisian memberitahuku kemarin sore." jelas Dinniar.


"Ibu tidak tahu apa maksudnya. ibu benar-benar tidak tahu lagi isi kepala Darius itu apa. tindakannya sudah sangat sulit di tebak. ibu seperti tidak mengenali anak ibu sendiri." Susi menghela nafas berat.


Dinniar juga sudah tidak lagi mengenal sosok Darius. semua yang ada di pikiran Darius dan sikapnya sudah seperti orang yang kehilangan jati diri.


"Sudahlah Bu, tidak perlu kita pikirkan lagi. asalkan mereka bahagia. bagiku tidak masalah. asalkan mas Darius tidak mengabaikan Cornelia. dia sedang mengandung. bagaimanapun anak dalam kandungannya adalah adik Tasya."


Dinniar memang sangat bijak. dia benar-benar wanita yang berpikir sangat logis dan tidak pernah gagal dalam mengambil keputusan.


Susi dan Dinniar saling diam dalam pemikiran mereka masing-masing.


"Bu, ibu mau minum apa. Dinniar sampai lupa menawarkan minum. maaf ya Bu." Dinniar merasa tidak enak hati.


"tidak apa. lagipula ibu mau segera pulang. takut Darius mencari ibu. ibu tidak bilang kalau mau bertemu denganmu." Susi terlihat sangat terburu-buru.


"Bu, jaga kesehatan. Dinniar mau ibu tetap sehat dan bisa melihat Tasya tumbuh dewasa."


Ketulusan Dinniar begitu terasa di hati Susi. apa yang di sampaikan Dinniar selalu tersampaikan tepat mengenai hati seseorang sehingga orang bisa merasakan ketulusan dan kebaikannya.


Meski dia telah di sakiti oleh Darius dan telah bercerai dengan Darius. Dinniar tetap menjaga sikapnya kepada Susi dan tetap menghormatinya seperti dulu.


"Ibu pulang dulu ya. kamu juga jaga kesehatan. ibu sangat berharap kali ini kamu bahagia sampai masa tua nanti." Susi keluar dari ruangan Dinniar dan Dinniar mengantarnya sampai taksi online mertuanya tiba.


"Pak, hati-hati ya. jangan ngebut dan tolong jaga ibu saya. saya titip sampai tiba di tujuan."


perhatian Dinniar memang tidak pernah berkurang. bahkan dia bilang kepada supir taksi online 'ibu saya'. itu menandakan kalau Dinniar benar-benar menganggap Susi seperti ibunya sendiri.


Manusia memang harus membuat ikatan yang kuat. Dengan ikatan yang kuat itu kita akan bisa merasakan siapa saja yang tulus kepada kita.