Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 95 - Solusi terbaik



Sonia dan suaminya pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Tasya yang dikabarkan sudah sadarkan diri.


"Din, gimana Tasya? apa dokter sudah menyatakan dia baik-baik saja?" tanya Sonia.


"Tasya sudah baik-baik saja. Mama dan papa yang sedang menjaganya di dalam. Aku barusan habis dari kantin. Kamu dan suami mau ikut makan?" tanya Dinniar sambil memperlihatkan beberapa kotak yang dibawanya.


"Enggak perlu. Aku bahkan juga bawain makanan buat kalian semua. Aku tahu kamu pasti sibuk jagain Tasya dan takut kamu belum makan." Sonia memperlihatkan paper bag yang dibawanya.


"Ya ampun, Son. Kenapa repot-repot sih pake bawa-bawaan segala." Dinniar menjadi tidak enak hati.


"Udah sekarang lebih baik kita masuk, terus kamu makan biar punya tenaga. Aku enggak mau sahabat terbaikku sakit." Sonia mendorong tubuh Dinniar hingga masuk ke dalam ruangan perawatan Tasya.


"Eh, Sonia. Kamu cepet banget udah di sini?" tanya Juwita.


"Iyah dong, Tan. Harus gerak cepat buat sahabat terbaik aku." Sonia menetap sahabatnya.


"Mama tahu kalau dia mau kemari?" tanya Dinniar.


"Tentu tahu dong sayang. Dia kirim pesan singkat ke mama tadi." Juwita tertawa kecil.


"Oh, jadi sekarang kabar-kabarannya ke mama ya." Dinniar tertawa jahil.


"Yee, bukan begitu. Ini tuh karena aku tahu kamu pasti enggak sempat pegang ponsel. makanya aku kirim kabarnya ke Tante." Sonia mencebikkan bibirnya.


Mereka tertawa bersama. Sonia melihat kondisi Tasya, sedangkan Dinniar sedang menyantap makan siangnya. Dinniar harus menjaga kesehatannya agar bisa melindungi putrinya selalu. Dia tidak mau kalau sampai hal kemarin malam terulang lagi.


...****************...


Cornelia yang sudah selesai menerima tamu langsung kembali ke dalam sel tahanannya. Di dalam sel dia memikirkan bagaimana cara agar bisa keluar dan Darius bisa kembali ke dalam pelukannya.


"Aku akan berusaha terus untuk memilikimu. Aku tidak akan pernah melepaskan dirimu, mas. Kamu adalah milikku dan tidak akan ada yang bisa memilikimu lagi." Cornelia bertekad untuk mendapatkan kembali Darius.


Beberapa ide licik sudah berkeliaran di kepala Cornelia. Dia mulai menyusun rencananya dan akan mulai menjalankannya segera.


"Kita tunggu tanggal mainnya mas. Kamu harus mau meminta kepada Cornelia untuk melepaskanku." Cornelia menyeringai. Seringainya begitu terlihat mengerikan dan mematikan.


...****************...


Jonathan selesai sedang beberapa pekerjaannya di kantor. Dia merapihkan semua barangnya dan bersiap untuk kembali ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi Tasya.


Jonathan mendapatkan pesan singkat dari calon papa mertuanya kalau Tasya sudah sadarkan diri.


Dia bergegas pergi dan mengendarai mobilnya menuju ke suatu tempat untuk membeli sesuatu terlebih dahulu sesuai dengan permintaan calon papa mertuanya.


Jonathan tiba di sebuah toko perhiasan yang tempo hari dia kunjungi untuk membeli cincin lamaran.


"Selamat datang, Pak Jonathan. Ada yang bisa kami bantu lagi?" tanya salah satu pelayan toko.


"Saya mencari cincin pernikahan." Kata Jonathan sambil melihat-lihat beberapa jenis model cincin yang ada di etalase kaca.


"Untuk hadiah atau untuk di gunakan sendiri? Kalau untuk digunakan sendiri, saya ada design terbaru." Pelayan itu mengambil beberapa koleksi cincin dan memperlihatkan kepada Jonathan.


Jonathan melihat satu persatu cincin yang terpajang. Dia memilih model yang cukup unik menurutnya.


"Baik saya akan siapkan." Pelayan itu mengambil sebuah kotak cincin berbentuk hati dengan ukiran bunga diatasnya.


Jonathan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dari dalam dompetnya. Itu adalah black card yang biasa di miliki oleh para sultan.


Setelah menggesekkan benda berbentuk pipih dan berwarna hitam itu. Pelayan toko memberikan kotak perhiasan dan black card itu kepada Jonathan


Jonathan lantas segera kembali ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya dan melajukannya dengan kencang hingga melesat membelah jalanan yang sepi.


"Sebenarnya apa maksudnya aku diminta untuk membeli cincin ini? bukannya acara pernikahanku dengan Dinniar masih cukup lama?" Jonathan bertanya-tanya sambil memandang kotak perhiasan itu sebelum dirinya turun dari dalam mobilnya.


...****************...


Hartono dan Juwita sedang mengobrol tentang sesuatu hal yang begitu serius di depan ruangan perawatan Tasya.


"Jadi gimana Pah?" tanya Juwita.


"Papa sudah meminta Jonathan untuk membeli cincin pernikahannya. Kita tunggu saja sampai dia datang. Hanya ini solusi yang tepat."


Juwita dan Hartono sedang menunggu kedatangan calon menantunya. Banyak hal yang perlu mereka merundingkannya hari ini.


"Itu Jonathan." Juwita melihat menantunya sedang menuju kearah mereka.


Hartono dan Juwita memandang wajah yang sumringah saat melihat Jonathan.


"Om, Tante." Jonathan menyalami keduanya.


"Jonathan, ada yang ingin Om dan Tante bicarakan terlebih dahulu kepadamu." Hartono menepuk pundak Jonathan sambil sedikit meremas pundak calon menantunya.


Jonathan melirik kearah tangan Hartono yang sedang memegang pundaknya kuat.


Hartono, Juwita dan Jonathan membahas hal serius. Jonathan tampak sedikit terkejut, tapi dia tetap bersedia melakukannya.


"Saya tidak keberatan, jika memang Dinniar menyetujui akan hal ini. Saya sebagai seorang pria akan menjaga dan melindunginya. Baik secara batin maupun fisik." Tegas Jonathan.


"Kalau begitu kita masuk ke dalam."


Mereka masuk ke dalam. Dengan hati yang mantap Jonathan siap mengutarakan niatnya.


"Dinniar, mama dan papa ingin bicara denganmu dulu." Hartono mengajak anaknya duduk di sofa.


"Son, titip Tasya dulu." pinta Juwita dan di jawab dengan anggukan oleh Sonia.


Jonatan, Dinniar, Juwita dan Hartono duduk berhadapan. Hartono membuka awal pembicaraan.


"Jadi papa mau aku dan Jonathan menikah hari ini juga? Bukannya ini begitu mendadak?" tanya Dinniar.


"Iyah, papa tahu. Hanya saja kalau kamu sudah menikah dengan Jonathan kemungkinan besar dia akan melindungimu dari Darius dan itu juga aman bagi Tasya. Mama dan papa mau kalian aman. Dengan cara inilah kamu bisa berlindung dibalik Jonathan yang sudah sah menjadi suamimu. Jonathan juga lebih leluasa karena dia berhak atasmu dan Tasya sebagai papa sambungnya." Jelas Hartono.


Dinniar melempar pandangannya kepada Jonathan sehingga pandangan mereka saling bertemu. Dinniar mengangguk dan Jonathan segera mempersiapkannya agar selesai Maghrib mereka bisa menikah segera.


"Rendy sudah menghubungi pihak penghulu dan juga KUA. Dia akan membereskannya dan membawa penghulu kemari selepas shalat Maghrib." Papar Jonathan.


"Mama juga sudah meminta teman untuk membawa MUA nya kemari dan membawa pakaian akad untuk kalian berdua. Meski mendadak, tapi mama maunya kalian menikah dengan lengkap," ujar Juwita.


Sonia dan juga suaminya ikut mempersiapkan. Mereka membeli beberapa makanan cemilan dan menghubungi violin serta Samuel.


Persiapan akad nikah sedang dipersiapkan seluruhnya. Dinniar dan Jonathan sedang mempersiapkan mental mereka untuk menikah.


Tasya memandang maminya. "Mih, Tasya berarti akan jadi anak om baik ya?" tanyanya.


"Iyah sayang. Tasya suka?" tanya Dinniar sambil mendekati ranjang putrinya.


"Tasya suka, Mih. Tasya sayang sama om baik." Tasya tersenyum lebar.


Dinniar mengusap kepala putrinya sambil memandangi wajah cantik sang putri yang masih terlihat pucat pasi.


"Kalau begitu Tasya siap-siap panggil om baik menjadi Papa," sambar violin yang baru masuk dan mendengar percakapan diantara ibu dan anak.


"siap Tante." Tasya begitu bersemangat.