
Supir membawa Alesya menuju rumah. saat di persimpangan jalan mereka di hadang oleh beberapa mobil berwarna hitam. turunlah lima orang dari dalam salah satu mobil tersebut.
Supir sudah gugup dan Alesya juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia melihat ponselnya yang sudah tidak menyala. mau meminta bantuan'pun tak bisa.
"Pak, coba hubungi papa atau mami. minta bantuan kepada mereka berdua." kata Alesya dengan panik.
"Maaf Non. saya tidak membawa ponsel. tadi ponsel sedang saya isi daya jadi tidak saya bawa."
mendengar penjelasan sang supir, Alesya menjadi semakin panik. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. ditambah orang-orang itu sudah semakin dekat dan mengetuk pintu mobil.
"Bagaimana kita sekarang pak?" Alesya menjadi frustasi.
Dok dok dok
Jendela mobil di ketuk dengan sangat kuat oleh salah satu preman tersebut.
"Keluar!" teriak mereka dari luar.
"Jangan dibuka pak. jika di buka kita bisa dalam bahaya."
Semakin keras gedoran dari luar hingga kaca menjadi retak. pria bertubuh kekar itu membuat kaca mobil menjadi retak. Supir dan juga Alesya menjadi ketakutan. Alesya sangat tidak mengerti ada apa ini sebenarnya. baru kali ini dia dihadang oleh orang-orang yang berpenampilan seperti preman.
Alesya ingin berteriak. Namun sekitar komplek sangat sepi. Dia tengok kanan dan kiri tidak ada orang yang lalu lalang.
Brak!
pintu kaca percaya oleh pria yang bertubuh kekar itu. Otot-otot tubuhnya sudah seperti besi yang mampu memecahkan kaca.
Pintu supir di buka dan supir di tarik keluar oleh gerombolan yang menghadang mereka berdua. Supir dipukuli hingga akhirnya tumbang.
Alesya semakin ketakutan. dia semakin kacau pikirannya. Hingga akhirnya orang-orang itu membawa Alesya.
Alesya di masukkan ke dalam mobil dan di himpit oleh dua orang wanita di dalamnya.
"Anak manis. jangan memberontak. aku pastikan kamu tidak akan terluka. Hanya saja jika kamu macam-macam. jangan salah'kan kami kalau nyawamu melayang." Ancam wanita yang mengenakan tank top berwarna hitam.
Alesya mulutnya sudah di tutup dengan selembar lakban hitam dan tangannya terikat ke belakang. Sungguh sedih nasib anak remaja itu. Dia harus melewati hari ini penuh dengan drama dan nasib buruk.
"Mamih, papa. tolong Sya." butir-butir air mata mulai tumpah.
mereka yang menyaksikan tangisan Alesya hanya tersenyum menyeringai. Mereka puasa karena bisa membawa Alesya.
Di mobil lain pria yang memecahkan kaca mobil Alesya dan memukuli supir Alesya. menghubungi seseorang.
Dia tampak sedang melaporkan keberhasilan mereka.
"Kamu akan membawanya ke markas. kami akan urus dia dengan sangat baik bos. tenang saja." lapor mereka kepada seseorang yang ada di seberang sana.
...****************...
Hari sudah semakin sore. Dinniar menunggu Jonathan menjemputnya. dan setelah sejam menunggu suaminya, Dinniar mulai gelisah.
"Kemana mas Jonathan. kenapa belum juga sampai. tadi katanya akan berangkat untuk menjemput aku. seharusnya dia sudah sampai sejak dua puluh menit yang lalu." Dinniar akhirnya menghubungi ponsel Jonathan.
Saat dia mendapati teleponnya diangkat. Dinniar dengan cepat membuka mulutnya untuk menyapa. namun, dia dengar seorang wanita yang mengangkat teleponnya.
"Maaf, anda siapa?" tanya Dinniar.
"Saya petugas cafe Bu. Saya lihat bapak ini tertidur pulas sekali dan saya bangunkan dia tidak juga bangun." tutur wanita itu.
"Mba, posisinya dimana ya?" tanya Dinniar.
"Dalam dua puluh menit saya akan sampai. tolong jaga suami saja dulu." Dinniar dengan cepat meminta satpam untuk mengantarnya ke cafe barista menggunakan motor.
Dinniar sangat cemas dengan suaminya. Dia baru kali ini mendapati kabar buruk seperti ini. Jonathan adalah pria yang sepertinya tidak perlu terlalu dikhawatirkan. ternyata bahwa bisa juga mengancam suaminya. Dinniar merasa Jonathan tidak mungkin ketiduran atau semacamnya. apalagi satu jam lalu Jonathan bilang akan segera menjemput Dinniar.
Dinniar terus berpikir apa yang terjadi kepada suaminya, selama ia di dalam taksi online. Dinniar menjadi sangat khawatir.
"Bu, kita sudah sampai." ujar supir taksi online.
Dinniar masih sibuk dengan lamunannya. dia tidak mendengar kata-kata yang diucapkan supir taksi online.
"Bu, maaf kita sudah sampai." Hinga panggilan ke dua baru Dinniar sadar dari lamunannya.
"Maaf. terima kasih." Dinniar membuka pintu mobil dan keluar dari sana.
Dinniar terdiam sejenak di depan cafe. Dia pandangi suaminya yang terlihat tertidur dengan kepala menyender di atas meja cafe. Dinniar menghapus air matanya dan masuk ke dalam cafe.
"selamat datang. apakah anda yang tadi menelepon?" tanya pelayan cafe.
Dinniar hanya bisa mengangguk lemas. dia datang saja suaminya tak sadarkan diri. biasanya meski tertidur pulas. Jonathan bisa terbangun saat mengetahui kedatangannya.
"sejak kapan dia begini? dan siapa yang dia temui?" tanya Dinniar sambil membenarkan posisi suaminya.
"maaf kami kurang perhatikan siapa yang ditemui suami anda. kami dapati bapak ini tertidur di sini. dan sepertinya saat kami bangunkan, kami baru sadar kalau ternyata dia pingsan." ujarnya.
"Baik. boleh minta tolong bantu saya membawanya ke dalam mobil yang ada di depan." pinta Dinniar.
Dinniar memang meminta supir taksi online itu menunggunya. Dia tidak bisa menghubungi supir pribadinya. makanya dia meminta supir itu menunggu.
dua orang pria yang menjadi pelayan cafe membantu Dinniar membawa tubuh Jonathan yang masih pingsan ke dalam mobil taksi.
Dinniar memberikan beberapa lembar uang berwarna merah untuk mereka yang sudah membantunya membawa suaminya dan menjaganya di cafe sampai dia datang.
"Terima kasih atas bantuannya." ujar Dinniar sebelum menutup pintu mobil.
Dinniar menyandarkan kepala suaminya di bahunya. Dia juga memegang tangan suaminya erat. lalu dia menghubungi asisten pribadi dari Jonathan.
"Tolong temui aku di rumah. Pak Jonathan ditemukan tidak sadarkan diri di cafe." Kata Dinniar.
Kehidupan memang sebuah misteri. sebanyak apapun yang yang kita punya tidak menjamin keselamatan kita. Sehebat apapun kita tidak menjamin bisa melindungi diri sendiri. Harta memang bukan jaminan kita bisa hidup selalu nyaman dan aman.
Dinniar kini sadar kenapa Jonathan begitu khawatir kepada dirinya dan juga anak-anak. karena memang banyak hal tak terduga yang bisa saja terjadi kapanpun dan dimanapun. Keadaan kita sering kali dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin berbuat jahat kepada kita. Kini Jonathan menjadi korban. Dinniar yakin kalau suaminya tidak mungkin bisa pingsan seperti ini kalau bukan karena ulah orang lain yang ingin mencelakainya.
"Halo, bi. apa anak-anak aman saja di rumah?" tanya Dinniar yang menghubungi orang rumah.
"Non tasya aman nyonya. Kalau non Alesya belum pulang sama pak supir." Tuturnya.
"Belum pulang? kok bisa bi? pak supir tadi saya hubungi tidak bisa. Apa dia lupa jemput Alesya?" tanya Dinniar.
"Telepon seluler pak supir tidak dibawa Bu. Dan dia sejak jam tiga sudah jalan jemput non Alesya, tapi sampai menjelang Maghrib belum juga sampai di rumah."
penuturan asisten rumah tangganya membuat Dinniar memijat keningnya yang terasa pening dengan kejadian hari ini. Dia segera memutus panggilan telepon ke rumah dan langsung menghubungi Alesya.
"Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif."
Terdengar suara operator yang menjawab panggilan teleponnya.
"Ya Allah lindungilah putriku Alesya. jangan sampai ada sesuatu yang buruk terjadi kepadanya." Dinniar berdoa.