
setelah pertengkaran Darius dengan Cornelia selesai Darius langsung memutuskan untuk pulang ke rumahnya menunggu Dinniar.
Darius tahu hari ini ada rapat kepala sekolah di dinas pendidikan dan istrinya sebagai kepala sekolah harus mengikuti rapat tersebut sampai sore hari. Darius sengaja ingin pulang lebih dahulu. Dia ingin mengejutkan Dinniar dan membuat yakin Dinniar kalau dirinya sudah tidak lagi bersama wanita lain.
Darius sampai di rumahnya. ia turun dari dalam mobilnya dan masuk ke dalam rumahnya. di sana dia sudah disambut bahagia oleh Tasya. wajah putrinya yang sangat cantik dan perangainya yang sangat baik membuat dari selalu bersyukur memiliki Putri seperti Tasya.
"papi udah pulang? hari ini papi pulang cepat ya?" tanya Tasya dengan gaya bocahnya.
"iya dong tuan Putri. Papi hari ini pulang karena mau main sama tuan putri dan papi juga mau buat kejutan untuk mami. Tasya bantu papi ya." Darius menyentil kecil hidung putrinya.
"siap raja. Putri akan membantu raja untuk membuat kejutan untuk ratu," kata Tasya dengan wajah senang.
Darius mengeluarkan beberapa barang yang ia beli tadi di supermarket tadi sebelum pulang ke rumah.
"Tasya taruh ini di sana ya dan papi akan rangkai yang lainnya," ujar Darius
Tasya menyimpan vas bunga di atas meja yang sudah disediakan oleh Darius. mereka berencana membuat kejutan makan malam romantis untuk dinner
"nah sudah cantik bukan hiasannya Tasya?" tanya Darius kepada putrinya
"cantik sekali papi, papi pintar menghiasnya." Puji Tasya kepada Darius
selesai menghias dan mendekorasi halaman belakang rumah mereka. tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. bergegas Darius dan Tasya menuju depan rumah mereka.
Dinniar turun dari sebuah mobil mobil yang dikenal oleh Darius adalah mobil Adrian.
istrinya pulang diantar oleh seorang laki-laki membuat Darius cemburu namun, ia harus menyembunyikan rasa cemburunya agar tidak merusak suasana dan agar Dinniar yakin dengan apa yang telah ia bicarakan tentang perselingkuhan yang sudah usai.
"kamu sudah pulang?" tanya diniar yang terkejut melihat suaminya sudah berada di rumah
"iya aku sudah pulang. kamu di antara Adrian?" tanya Darius telah menjawab pertanyaan dari istrinya
"iya aku dan Adrian sama-sama ikut rapat di dinas pendidikan." jawab Dinniar dengan santai.
mendengar jawaban dari istrinya hatinya benar-benar marah hatinya benar-benar diliputi rasa cemburu yang sangat besar
"oh inikah rasanya dini hari melihat pasangan bersama orang lain. aku tidak pernah merasakannya tapi semua itu sudah terlanjur aku lakukan maafkan aku." sesal Darius dalam hati.
saat Dinniar ingin melangkah masuk ke dalam rumah. tiba-tiba Tasya dan Darius menggandeng tangan Dinniar dan membawanya ke taman belakang rumah mereka.
melihat dekorasi yang indah membuat Dinniar takjub dan dia terpesona dengan apa yang telah ia lihat.
"mami, ini papi yang dekorasi sama Tasya. mami suka'kan?" tanya Tasya kepada dunia
"tentu suka sayang. apalagi Tasya yang buat." Dinniar membungkuk dan mengecup kening putrinya.
"apakah hanya Tasya yang mendapat kecupan itu aku tidak?" kata Darius.
Dinniar lalu menghampiri Darius dan mengecup tangannya bukan mengecup keningnya.
Darius pasrah, karena dia tahu membujuk Dinniar yang sedang marah apalagi dia melakukan hal fatal itu adalah hal yang paling tersulit. dulu saat mereka masih pacaran juga pernah terjadi, karena Darius melakukan kesalahan yang membuat Dinniar merasa kecewa. itu butuh waktu berminggu-minggu untuk mendapatkan maaf dari Dinniar.
"kalau begitu kita makan malam bersama, Papi yang masak hari ini, khusus buat mami dan Tasya." Darius tersenyum bahagia namun Dinniar tetap berwajah datar.
"sebenarnya aku sangat bahagia Mas, melihat perubahanmu ini. kamu kembali bersama kami, tapi sayangnya aku belum bisa percaya kepadamu 100%. aku masih harus mengawasimu." batin diniar
mereka sekeluarga makan malam bersama bahagia. sedikit ada canda tawa meskipun Dinniar tidak sepenuhnya merasakan suasana gembira ini karena masih ada rasa kecewa.
.
.
Cornelia juga seorang wanita yang butuh kasih sayang dari suaminya. apalagi mereka barulah bahagia. di hari pernikahan yang terjadi beberapa hari yang lalu, tapi setelah pernikahannya dia malah ditinggal oleh suaminya.
"lihat saja Mas. aku tidak akan membiarkanmu tenang! aku tidak mau menjadi yang kedua terus-menerus. aku tidak mau kamu selalu memprioritaskan istrimu itu." kecam Cornelia.
Cornelia membaringkan tubuhnya di kasur
namun, tidak beberapa lama dia membaringkan diri terasa kepalanya sangat pusing dan perutnya terasa mual.
"ada apa dengan aku? kenapa aku merasa pusing dan mual seperti ini?" dia lalu mencari kotak obat yang berada di dalam laci lemari.
Cornelia mengambil satu buah obat lalu menelannya setelah menelan obat itu dia langsung mengantuk dan tertidur pulas.
.
.
di sebuah rumah mewah yang begitu megah dan juga terdapat beberapa lukisan lukisan berharga yang harganya sangat fantastis
rumah itu ditinggali oleh satu pria muda, satu anak remaja dan juga beberapa pembantu lainnya.
di rumah itu Jonathan selalu menghabiskan waktunya. dia jarang bermain bersama teman-temannya, sesekali mungkin hanya untuk menghilangkan penat, tetapi dia lebih asik bersama dengan keponakannya bercanda di rumah itu.
Jonathan sudah menganggap Alesya sebagai putrinya sendiri. karena selama ini Alesya tinggal bersamanya kakaknya dan kakak Iparnya yang berada di Amerika.
hari ini Jonathan tidak keluar kamar sama sekali sepulang kerja. dia sibuk di dalam kamarnya memikirkan bagaimana caranya ia bicara dengan Dinniar mengenai perselingkuhan yang dilakukan oleh Darius.
"besok aku akan menemuinya lagi. kali ini aku harus berhasil memberitahunya. pria bejat itu harus menerima konsekuensi atas penghianatannya terhadap keluarganya." Jonathan bertekad.
saat Jonathan serius memikirkan cara bagaimana bisa berbicara dengan Dinniar mengenai Darius. pintu kamarnya terketuk dengan kencang dan seseorang memanggil-manggilnya dari luar sana.
"Om Darius, Om keluar dong Alesya mau bicara nih sama Om." Alesya bicara dengan manja.
mendengar suara ponakan yang memanggil-manggil dirinya. Jonathan langsung turun dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya dia melihat wajah Alesya sudah sedikit murung.
"kamu kenapa?" tanya Jonathan.
Alesya lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa yang berada di depan kamar Jonathan dan tidak lama Jonathan menyusul duduk di sofa sebelahnya.
"kamu kenapa kok murung kayak begitu?coba cerita sama Om." Jonathan yang begitu perhatian sangat khawatir melihat wajah keponakannya murung.
"Om tahu nggak, mami sama papi itu kapan sih pulangnya? aku tuh kangen tahu sama mereka," kata Alesya mengeluh.
Jonathan baru kali ini mendengar keluhan keponakannya mengenai kedua orang tuanya yang sudah lama tidak pulang
"memangnya kenapa? kalau Alesya kangen biasanya cuman video call sama mami dan papi." tanya Jonathan
"Alesya juga pengen kayak temen-temen om. bulan depan itu kan Alesya ada study tour. aku juga mau ditemenin sama mami, papi kayak teman-teman Sya yang lain," ujar keponakannya itu.
"kalau begitu nanti Om Jonathan akan bicara sama mami dan papi. kalau mereka nggak bisa Om yang akan temani kamu." senyum Jonathan
"serius om? om mau demenin Alesya study tour?" tanya Aleyaa dengan girang wajah murung ya sudah hilang.
Jonathan langsung mengangguk dan Alesya langsung terbang memeluknya.