Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
322 - Kecewa



Kamelia yang jenuh berada di rumah memutuskan untuk pergi berbelanja. Dia akan membuat makan malam keluarga. karena dia sudah lama tidak berbincang dengan melinda. Kamelia berniat untuk membuat masakan kesukaan putrinya itu.


Kamelia mengambil jamur, bumbu, saus tiram, daging slice, keju, pokcay, udang, bawang Bombay, dan juga kecap inggris. Dia akan membuat capcay udang dan juga ayam teriyaki kesukaan melinda. Sudah lama sekali dia tidak membuatnya.


Dalam perjalanan ke kasir Kamelia bertemu dengan seseorang yang sedang membicarakan orang yang namanya mirip dengan putrinya.


"Mah, Evelin bahkan hampir kehilangan nyawanya karena perbuatan Melinda. Aku sudah membuat laporan ke polisi. Dan polisi juga pagi ini sudah mengirimkan surat itu ke rumahnya. Melinda adalah manajer pelaksana di hotel Big. Dia sangat jahat. Bahkan dia juga menjebak Jonathan pemilik hotel itu. Sebenarnya Jonathan tidak pernah tidur dengan Melinda. Melinda merencanakan semuanya. Makanya Evelin sekarang berada di rumah Dinniar. Kita menyembunyikannya karena memang Evelin saksi kunci." cerita Lusi kepada mamanya.


Mama Lusi datang menjenguk Evelin keponakan mereka. Mama dan papa Lusi tidak menyangka kalau Evelin akan mengalami kejadian naas.


"kalau Dinniar tidak menolong Evelin. mungkin dia sudah tiada. Melinda benar-benar jahat sekali." tutu Lusi lagi dengan bersemangat.


Kamelia mendengar semuanya dia tak sengaja menjatuhkan barang belanjaannya.


"Apa benar itu Melinda anakku? Jika benar berarti dia telah menjadi monster yang mengerikan." bisiknya dalam hati dan air mata mengalir.


Kamelia langsung pergi ke rumah sahabatnya. Dia ingin bertanya langsung tentang semua yang di dengarnya.


Kamelia melihat rumah yang dulu biasa dia datangi. Semenjak perseteruan antara suaminya dengan sahabatnya. Membuat Kamelia tidak bisa menemui sahabatnya dengan bebas.


"Kamelia. Kamu di sini?" tanya seorang wanita yang baru turun dari mobilnya.


"Hai, Kamelia." sapanya kepada wanita itu.


Dua Kamelia ini bersahabat sejak mereka duduk di angku sekolah menengah atas. Kamelia yang sayu adalah mama dari Jonathan sedangkan Kamelia yang satunya lagi dalam mama dari Melinda.


Mereka dekat secara tidak langsung karena nama mereka yang sama. sering kali kalau mereka sedang berjalan bersama. Keduanya di bilang anak kembar duo Kamelia.


Kedua Kamelia itu saling berpandangan. Mama jonathan menggandeng tangan sahabatnya masuk ke dalam rumahnya.


"jangan pernah sungkan untuk datang ke rumahku. Rumahku selalu terbuka untukmu. Aku pasti akan menerimamu. Aku adalah sahabatmu." tuturnya dengan tersenyum lebar.


Kamelia benar-benar semakin yakin kalau Jonathan tidak bersalah dan yang bersalah adalah putrinya yang tadi sedang dibicarakan.


"Silahkan duduk." Kamelia mempersilahkan mama dari Melinda untuk duduk bersama.


"Lia. Apa kamu tahu sesuatu?" Tanyanya.


"Tahu sesuatu? Tenteng apa itu?" Kamelia pura-pura tidak tahu arah pembicaraan sahabatnya.


"Aku tadi sedang berbelanja dan mendengar seseorang membicarakan putriku."


"maksudnya?"


"Mereka berbicara buruk tentang Melinda." Kamelia tertunduk sedih.


"mungkin itu Melinda yang lain." Kamelia berusaha menenangkan hati sahabatnya.


"ya mungkin karena mereka juga membicarakan putramu dan menantumu. jadi sudah pasti bahwa itu adalah Melinda putriku. apa sebenarnya yang terjadi kepada anak-anak kita?" tanya Kamelia dengan wajah muram.


"Camelia sebenarnya aku tidak boleh menceritakan ini kepada siapapun. tapi aku rasa kamu sudah waktunya mengetahui hal ini." Mama Jonathan menarik nafas panjang sebelum dia menceritakan semuanya kepada sahabatnya itu.


"suamimu berencana untuk mengambil alih perusahaan dan putrimu berusaha untuk menghancurkan rumah tangga putraku. Dia tidak rela kalau aku yang menjadi pewaris hotel dan Melinda tidak rela karena Jonathan tidak membalas cintanya. entah bagaimana ceritanya Melinda dan syam berencana untuk mengambil alih hotel dengan memanfaatkan dan memfitnah Jonathan. Untung saja anakku tahu rencana jahat suamimu dan juga anak angkatmu itu. kalau tidak mungkin satu nyawa sudah menjadi korban."


"apakah benar Melinda berencana membunuh seseorang?"


Mama Jonathan lalu mengangguk dia membenarkan pertanyaan sahabatnya.


"Camelia apakah aku sebodoh itu? apakah suamiku memandang rendah diriku? kenapa mereka melakukan hal sejahat ini kepadamu sendiri yang merupakan saudara kandungnya dan keponakannya sendiri yang masih berhubungan darah dengannya. Camelia Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. aku benar-benar malu kepadamu. aku sudah memarahimu memaki anakmu karena sikap dan ketidaktahuanku atas rencana suami dan juga putriku Melinda."


kedua Camelia itu lalu saling berpelukan. Kamelia sangat merasa bersalah kepada sahabatnya dan juga merasa bodoh karena mudah ditipu oleh suami dan juga anaknya.


"aku akan mengurus ini. kamu jangan khawatir. aku akan mengembalikan reputasi putramu. dan aku juga tidak akan pernah mengusik kehidupanmu terutama hotel yang sudah jelas diwariskan kepada cucunya yaitu Alesya." Kamelia membuat janji kepada Camelia.


Camelia tersenyum. Dia sangat bersyukur karena sahabatnya mau bersikap adil. Dia tahu seberapa besar Kamelia mencintai syam dan seberapa besar dia begitu mencintai dan menyayangi Melinda sepenuh hatinya sebagai seorang anak.


"Terima kasih kamu telah menceritakan semuanya kepadaku Camelia. dengan begini aku bisa membenahi keluargaku."


Kamelia kemudia pamit dari rumah Camelia. Dia bersyukur sahabatnya menceritakan yang sebenarnya. Dan dia juga percaya dengan cerita Camelia.


Kamelia sampai di rumahnya. Dia melihat rumah yang begitu besar dan penuh dengan kasih sayang. Namun, setelah tahu semuanya dia sangat kecewa. Dia sangat sakit hati dan sadar bahwa semuanya hanya kebohongan belaka. Dia tidak bisa memaafkan perilaku suaminya. Ditambah putrinya yang dengan mudah ingin menghilangkan nyawa orang.


"Kenapa? kenapa semua jadi begini? Apa salahku sebagai seorang istri dan ibu? kenapa tega mereka mengkhianati aku. Mereka mengambil keputusan sendiri." Kamelia menangis.


Dia sangat tidak terima dengan sikap dan perilaku putrinya. Dia menghubungi kedua putranya dan memberitahukan segalanya.


.


.


.


Melinda yang mengetahui kalau Evelin masih hidup. Langsung meminta anak buahnya mencari tahu keberadaan Evelin. Namun, sayangnya. Jonathan Dinniar bertindak cepat. dia memindahkan Evelin ke rumah lama Dinniar yang tidak diketahui oleh Melinda.


"Dinniar apa aku akan aman di sini?" tanya Evelin yang ketakutan.


"kamu akan aman di sini. Ada anak-anak dan juga penjaga di rumahku. Aku juga tinggal di sini selama Melinda belum tertangkap. Kamu tenang saja. Istirahatlah." Dinniar menyelimuti Evelin.


Dinnydan Lusi turun kebawah. Evelin menempati kamar atas yang bersebrangan dengan kamar Dinniar.


"Lusi kamu jangan pernah tinggalkan Evelin. Karena kalau pagi sampai sore rumah hanya ada bibi dan baby sitter anak-anak. Jadi aku harap kamu selalu di sisinya." pesan Dinniar kepada Lusi.


.


.


.


Kamelia yang mengetahui kalau ternyata dirinya telah ditipu oleh suami dan juga anak angkatnya yang begitu dia sayangi dan banggakan. Rasa kecewa dihatinya membuat dia sangat tersakiti dan rasanya seperti terbunuh, tapi tidak mati.


Kamelia menangis sejadi-jadinya. Dia mengeluhkan dirinya yang bodoh dan tidak bisa menjadi ibu dan istri yang mengurus keluarga dengan baik. Dia yang jarang sekali keluar rumah dan jarang sekali mengikuti perkembangan dunia sejak menikah dengan Syam. Membuat dirinya jadi tidak tahu apa-apa.


Kamelia sangat menyesal. saat Syam pulang ke rumah bersama Melinda. Kamelia langsung mendaratkan tamparan k rasanya di pipi suaminya yang merupakan dalang dari semuanya.


"Sayang, ada apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba menamparku?" Syam terlihat kesal.


"Tamparan itu bahkan tidak sepadan dengan apa yang telah kalian lakukan! Kalian telah membohongi aku!" teriaknya karena merasa sangat kesal.


"Maksud mama apa?" tanya Melinda.


"kamu Melinda. tidak cukupkah harta yang sudah kami berikan kepadamu. Dan kamu tidak cukupkan perusahaan keluargaku yang kamu kelola?" tanyanya dengan wajah yang sudah sangat memerah.


"Mah, tenang dulu. Wajah mama sudah memerah begitu. Nanti mama malah akan pingsan." bujuk Melinda.


"Biarkan saja. Aku lebih baik mati, daripada harus menanggung malu ini!" Kamelia berjongkok dan menangis.