
Jonathan yang sedang sibuk memeriksa dokumen yang tadi diberikan oleh Melinda. Menjadi penasaran dengan kinerja Melinda yang baru kali ini terjun langsung mengurus hotel. Sebelumnya dia hanya membantu Syam untuk mengurus beberapa proyek kecil.
"Apa kamu yakin dia bisa menangani ini?" tanya Jonathan kepada Rendy.
"Kita lihat hasilnya saja nanti. saya juga belum bisa memastikannya." jawab Rendy yang memang dia juga belum tahu seperti apa kinerja Melinda.
Setelah menunggu selama tiga puluh menit. Melinda dan sponsor yang akan bekerjasama keluar dari ruang meeting. Mereka berdua berjabat tangan sambil bertukar senyuman.
"Dari senyumannya, aku rasa semua berjalan dengan baik." tutur jonathan dengan sedikit mendorong bibirnya ke atas.
Rendy juga berpikir demikian. Dari gelagat Melinda sudah terlihat kalau semua berjalan lancar. Melinda menatap Rendy yang sedang memandangnya. Dia lalu menyunggingkan senyuman dan masuk ke ruang kerjanya.
"Sombong sekali. Dia merasa kalau dirinya sudah hebat." sindir Jonathan sambil menandatangani beberapa dokumen.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar. Rendy mempersilahkan masuk orang yang mengetuk.
"Mas, ini kontrak kerjasama kita dengan perusahaan pelangi. Ini adalah kerja sama yang menguntungkan. Kita bisa dengan mudah mengembangkan bisnis di mancanegara." ucapnya dengan sangat bangga.
"taruh saja di sana. Dan kamu boleh kembali keluar." Jonathan bicara tanpa menatap Melinda sedikitpun.
"Baiklah. Aku letakkan di sini. Dan aku tunggu traktiran kemenangan dari mu." balasnya.
Melinda keluar dari ruangan jonathan. Dia melenggang dengan sangat lincah dengan menggerakkan pinggulnya ke kanan dan kiri.
"Selidiki semua ini. Aku tidak yakin semudah itu dia bisa mendapatkan kontrak ini. Dulu Pak Syam saja pernah gagal untuk meyakinkan pimpinan mereka. cari informasi sekecil apapun." perintah jonathan kepada Rendy.
"Saya akan mencarinya dan melaporkannya segera." Rendy mengambil dokumen perjanjian kerjasama dan keluar dari ruangan sang boss.
"ya, masuk." ujarnya.
Suara pintu terbuka dan tertutup terdengar oleh Jonathan.
"Apa ada yang tertinggal, ren?" tanya Jonathan yang lalu mengalihkan pandangannya dari tumpukan dokumen.
"Melinda." Jonathan terkejut melihat Melinda masuk ke dalam ruangannya.
"Mas, siang ini. Kamu bisa, kan makan bareng aku? Aku lagi pengen banget makan masakan jepang." rayu Melinda yang kini sudah berada di depan meja kerja Jonathan.
"maafkan aku Melinda. aku sedang sibuk. Jika kamu mau pergi sana. Bisa ajak staff agar kamu bisa akrab dengan mereka. Atau hubungi pacarmu untuk menemanimu." tegas Jonathan.
"Sejujurnya bukan aku tidak mau dekat dengan para staff. Hanya saja aku ingin pergi denganmu. Dan masalah pacar. Kamu tenang ajah. Aku masih lajang." Melinda berkata sambil senyum-senyum.
Melihat tingkah Melinda semakin membuat Jonathan muak. Dengan menatap tajam ke arah wanita penggoda itu. Jonathan lalu tertawa.
"Melinda ... Melinda. Kamu tahu. kamu salah sasaran jika ingin menggodaku. Kamu tahu persis aku begitu mencintai Dinniar istriku. aku tegaskan kepadamu. tidak akan pernah ada wanita yang mengisi relung hatiku selain orang yang spesial bagiku. Dan orang spesial itu hanya Dinniar!" Jonathan kembali berkata dengan mimik wajah yang serius.
Melinda merasa kesal dan merasa harga dirinya terinjak-injak oleh Jonathan. Dia lalu melipat kedua tangannya di dada. Lalu menyeringai sambil menatap pria yang dikejarnya selama ini.
"aku tidak akan pernah menyerah. Asal Kamu tahu itu mas!"
Kepergian melinda dari ruang kerjanya membuat jantung Jonathan menjadi tidak nyaman ketika harus bekerja di hotel.
Wanita seperti Melinda memang selalu saja bisa melakukan hal apapun demi tercapainya ambisi itu.