Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 137 - Pria yang bisa diandalkan



Sejak kejadian pertemuan Tasya dan papinya di klinik psikolog anak. Dinniar sedikit banyak memikirkan cara bagaimana Tasya bisa kembali dekat dengan Darius. Meski hatinya terasa sakit karena semua luka yang telah Darius berikan kepadanya. Namun, Dinniar tetap memberikan kesempatan Darius untuk menjadi seorang ayah yang baik.


Dinniar tidak memungkiri bahwa meski Tasya sudah memiliki seorang ayah pengganti yang jauh lebih sempurna dari Darius. Namun, wali sah dari putrinya tetaplah Darius mantan suaminya.


diniar menghubungi Erika sebagai seorang psikolog anak untuk memberikannya ide bagaimana cara agar Tasya bisa kembali dekat dengan papinya.


"Erika apakah itu cara yang terbaik agar bisa membuat Tasya bisa dekat kembali dengan?"tanya Dinniar kepada Erika.


"menurutku itu adalah cara yang paling efektif untuk membuat Tasya kembali dekat dengan Pak Darius. liburan bersama mungkin akan membangunkan kedekatan kembali pak Darius dengan Tasya. banyak yang menggunakan cara ini dan pada akhirnya solusi inilah yang paling tepat untuk membuat anak-anak mereka kembali dekat dengan orang tua yang dianggapnya sebagai orang tua yang cukup buruk." jelas Erika


"jika memang menurutmu liburan bersama adalah langkah terbaik untuk membangun kembali hubungan di antara mereka berdua. Aku akan mencoba mendiskusikannya dulu. karena saat ini kondisi kami berdua pun sudah sama-sama memiliki keluarga masing-masing." ujar Dinniar.


"justru itu sangat baik dan lebih memudahkan. karena tidak akan ada terjadi fitnah ketika kalian sama-sama pergi berlibur. kalian sudah sama-sama memiliki pasangan mereka bisa ikut dengan kalian untuk mengawasi dan mungkin untuk membangun hubungan yang lebih baik dan lebih maju lagi." kata Erika kepada diniar.


billiard membenarkan perkataan Erika karena memang tidak akan terjadi fitnah diantara dia dan juga Darius ketika harus pergi bersama. karena dia tahu sekali sikap Cornelia jika mengetahui Darius dan dirinya hanya pergi bertiga dengan Tasya berlibur. pasti Cornelia tidak akan mengizinkan dan juga pasti Cornelia akan berpikiran buruk terhadapnya.


"Terima kasih Erika atas sarannya. aku harap dengan cara ini, Tasya dan juga mas Darius hubungannya kembali membaik sedikit demi sedikit."


Dinniar kemudian menutup teleponnya. dia habis berkonsultasi dengan dokter Erika. Dinniar memiliki sebuah rencana dan berharap rencananya bisa berjalan dengan lancar.


"Ya Allah, semoga engkau memberikan kemudahan kepada ku. Aku hanya ingin berusaha yang terbaik agar putriku bisa seratus persen sembuh." tuturnya penuh pengharapan.


Dinniar keluar dari dalam kamarnya dan dia mendapati suaminya sudah berada di depan pintu.


"Mas, kamu sejak kapan di berdiri di sini?" tanya Dinniar yang salah tingkah.


"Sejak tadi saat kamu asik mengobrol dengan Erika. aku mau masuk takut mengganggu pembicaraan kalian berdua." Jonathan tersenyum tipis.


Dinniar menatap wajah Jonathan. dia merasa bersalah karena belum berdiskusi dengan suaminya, tapi sudah membicarakannya dengan dokter psikolog anak.


"Mas, apa kamu mendengar semuanya? maafkan aku sebelumnya tidak konfirmasi atau memberitahukan ide itu kepadamu. Aku bersalah. aku mohon kamu jangan marah." Dinniar kemudian meraih tangan suaminya sambil memohon.


"Hei, sayang. aku mengerti semua tindakanmu pagi ini. aku tahu kamu begitu khawatir terhadap Tasya. aku tidak marah. apapun keputusanmu untuk membuat Tasya kembali bisa dekat dengan papinya. aku akan mendukung. aku juga ingin yang terbaik untuk Tasya. terlebih aku tidak mau melihatmu terlalu banyak pikiran seperti saat ini." Jonathan melepaskan tangannya dari genggaman Dinniar dan memeluk wanita yang berhasil mencuri hatinya.


"Jangan pernah sungkan untuk mendiskusikan tentang apapun kepadaku. aku memang suamimu. orang asing yang hadir dalam kehidupan kalian berdua. Namun, aku adalah orang yang bisa kau andalkan dalam situasi seperti apapun, aku akan selalu menjadi bahu tempatmu bersandar dan akan menjadi pendengar setiamu." Kata Jonathan yang masih memeluk tubuh istrinya.


Di dalam pelukan suaminya Dinniar begitu merasa kedamaian menjalar di hati. Dia juga bisa tersenyum lebar setelah mendengar setiap perkataan yang diucapkan oleh suaminya. Dinniar membalas pelukan Jonathan.


"cie ... cie ..., pagi-pagi udah ada yang pelukan ajah di depan pintu." Ledek Alesya yang lewat depan kamar Jonathan dan Dinniar.


"Iyah dong, papa dan mami kan harus terus dekat biar enggak rindu." Jonathan malah terlihat ikut membalas ledekan putrinya.


Tasya dan Alesya kemudian tersenyum geli. Keduanya memang sangat pandai dalam urusan ledek meledek kedua orang tuanya.


"Ayo segera kita ke ruang makan. Pasti di sana sudah terhidang sarapan yang lezat." Jonathan menggandeng kedua putrinya dan menuruni tangga.


melihat suasana pagi ini membuat Dinniar semakin bersemangat menjalani hari-hari.


"Pak Jonathan sangat baik ya Bu. aura kebapakannya terpancar jelas." Ujar baby sitter Tasya.


"Kamu ini, bisa ajah. ayok udah turun. nanti keburu siang dan terlambat ke sekolah saya." Dinniar ikut menyusul kedua putri dan suami tercintanya.


semua orang memang mengagumi sikap Jonathan yang begitu dewasa dan begitu penyayang kepada anak-anak. sikap Jonathan yang seperti itu yang membuat daya tariknya lebih terlihat dan lebih mempesona di mata setiap wanita.


diliar pun tidak bisa memungkiri bahwa dia terpesona dengan sikap Jonathan yang seperti itu. sikap lembut dan penyayang dari yang ditunjukkan Jonathan adalah hal yang tulus.


meski Jonathan terkenal sebagai pria yang galak, tegas, dan tidak terbantahkan. Dia memiliki sisi yang lain ketika bersama dengan keluarganya.


Diniar turun bersama dengan Tasya dan baby sitter dan menuju ke ruang makan. mereka sarapan bersama sebelum berangkat ke sekolah dan berangkat bekerja.


Tasya memilih beberapa menu makanan yang akan menjadi sarapan paginya hari ini.


"Mami setelah ini aku mau minum susu lalu aku akan siap berangkat ke sekolah." Tasya berteriak dengan sangat riang gembira.


"sayang saat di sekolah Tasya harus tetap semangat. Kakak juga harus semangat. sekolah kita harus semangat karena dengan bersemangat maka kita akan lebih cepat menyerap ilmu yang diberikan oleh guru dan kita akan menjadi anak yang pandai."diniar mengecup dahi kedua putrinya.


pagi hari yang begitu menyenangkan. pagi hari yang begitu dipenuhi dengan keceriaan dan dipenuhi dengan rasa kasih sayang. di rumah itu tidak kehabisan rasa kasih sayang. mereka semua bersikap sangat natural dan sangat tulus ketika memperhatikan anggota keluarga.


Tasya dan Alesya juga dididik untuk menghormati para pekerja yang ada di rumah mereka. Jonathan dan Dinniar selalu menanamkan rasa hormat kepada orang tua meskipun mereka hanyalah seorang pekerja yang dibayar oleh kedua orang tuanya.


mereka berdua tumbuh menjadi sosok seorang anak yang sangat baik dan tidak pernah bersikap kasar kepada siapapun.


setelah selesai sarapan. mereka semua langsung bersiap-siap untuk menuju mobil. kedua putri-putri yang cantik itu menggendong tas ransel mereka di punggung. mereka juga membawa tas menu bekal makan siang mereka.


dengan langkah yang penuh semangat mereka keluar dari rumah dan pergi ke sekolah bersama diantar oleh kedua orang tua mereka.