
Dinniar dan Jonathan pergi ke hotel masing-masing. Diketahui bahwa hubungan mereka melonggar karena kasus Jonathan yang tidur dengan Melinda.
Hari ini Jonathan datang ke hotel untuk menandatangani berkas penting. Karena sekertaris papanya menghubungi dirinya.
"Ini berkasnya, pak. Saya tinggal dulu." ujarnya sambil meletakkan berkas dan kuat ruangan.
Setelah sekertarisnya keluar ruangan. Tak lama Dinniar masuk diam-diam ke dalam ruangan suaminya.
"Apa ada perlu lagi?" tanya Jonathan tanpa memeriksa siapa yang datang.
"Aku sangat memerlukanmu. Aku rindu."
Jonathan mengenal suara lembut itu. Dia lalu tersenyum dan langsung menyerbu istrinya. Jonathan melahap habis bibir Dinniar. Dia sudah tidak bisa menahan rindunya lagi. Jonathan bermain dengan agresif di dalam ruangannya. Dia tidak lupa memencet tombol jendela agar ruangannya tidak dapat dilihat dari luar. Kaca ruangan Jonathan sengaja dibuat bisa transparan dan bisa juga menjadi gelap.
Sedang asik dengan permainannya. Seseorang mengetuk pintu ruangan. Jonathan mengarahkan benda seperti senter ke arah pintu ruangannya yang gelap. Dan muncul wajah Melinda di depan sana.
"Sayang ada Melinda. Aku harus bagaimana?" Dinniar menjadi panik.
Saat ini dia acak-acakan bajunya karena diserbu oleh suaminya. tidak mungkin dia terlihat seperti ini oleh Melinda.
"Aku akan menghubungi Rendy dulu." Jonathan mengambil telepon selulernya.
"Ren, tolong kamu minta sekretaris untuk ke ruangan saya. Bilang kepada dia untuk berpura-pura mengantar dokumen dan bilang kepada Melinda kalau saya tidak ada di ruangan. Saya sedang bersama dengan Dinniar."
Rendy mengerti maksud bossnya. Untungnya saja Jonathan mengunci seluruh ruangannya. Dan ruangannya itu hanya bisa dibuka olehnya, Dinniar, sekertaris hotel dan juga Rendy. Karena pintu menggunakan sidik jari.
"Sayang, kita ngumpet di dalam kamar mandi saja. nanti sekertaris yang akan menyelesaikan semuanya."
Mereka masuk ke dalam kamar mandi. Dinniar merapihkan pakaiannya dan juga penampilannya. Kerinduan diantara mereka sulit untuk disanggah lagi. Makanya saat ada kesempatan mereka pakai untuk bermesraan. Rasa candu kepada istrinya membuat Jonathan tidak bisa tidur tanpa Dinniar di sisinya.
"Kita harus segera sudahi ini semua. Aku bisa menahan sakit ketika dipukul. namun, aku tidak bisa menahan rinduku kepadamu." Jonathan masih sempat-sempatnya menggombal di depan istrinya di saat genting.
Di depan sekretaris hotel datang dengan membawa beberapa dokumen penting. Dia melihat Melinda berada di depan pintu ruangan dan dia terkejut ternyata ruangan Jonathan gelap semuanya.
"Permisi, Bu Melinda. Apa anda ada perlu dengan pak Jonathan?" tanyanya.
"Ya benar aku ada perlu dengannya. Apa dia ada di dalam?" tanya Melinda.
"Maaf, saat saya tadi mengantar berkas, pak jonathan tadi pergi keluar dulu. Kemungkinan beliau belum sampai."
Sekretaris masuk ke dalam ruangan dengan menempelkan sidik ibu jarinya. Dia masuk dan menetralkan kaca jendela di ruangan Jonathan. Sehingga Melinda dapat melihat kalau ruangan Jonathan kosong.
"aku kira dia sedang bersama dengan Dinniar di ruangannya. Ternyata dia tidak ada." gumamnya
"Apa ibu mau menunggu pak jonath?" tanyanya lagi.
"tidak perlu. Nanti saja saya akan kembali." Melinda berbalik badan dan pergi ke ruangan kerjanya lagi.
"Semuanya sudah selesai." sekretaris hotel membuat kode.
Dinniar dan Jonathan keluar dari persembunyiannya yaitu kamar mandi. Dinniar melambaikan tangannya dan keluar dari ruangan Jonathan sebelum ada yang melihatnya lagi.
.
.
.
Dinniar hanya diam saja. sedangkan Melinda tersenyum sinis melihat dirinya yang chantik.
Melinda terus mendatangi Jonathan jika pria itu ada di hotel. Melinda terus meminta pertanggung jawaban dengan dalih dia sudah telat satu Minggu tidak datang bulan.
Jonathan terkejut dengan pernyataan Melinda. Dia tidak menyangka Melinda berkata demikian.
"Melinda. Aku mohon jangan mempersulit keadaan. Aku sudah punya tiga anak. Aku sudah punya istri. Tidak mungkin aku menikahimu." Jonathan menolak keras permintaan Melinda.
Melinda merah dan menghempaskan semua benda yang ada di meja kerja Jonathan. Melinda mengamuk sejadi-jadinya.
"keterlaluan kamu, mas. Sudah berbuat tidak mau bertanggung jawab!" makanya dengan berteriak.
"Stop! Keluar kamu dari ruanganku. aku tidak akan pernah menikahi dirimu Melinda. Aku sudah menganggap dirimu adikku sendiri. Tolong lah sadar melinda."
Melinda semakin kesal. Dia lalu keluar ruangan Jonathan. Melinda pergi ke ruangannya yang tidak jauh dari ruangan Jonathan.
Saat dia sampai di ruangannya. Dia mendapati sebuah amplop coklat. Melinda membukanya dan dia terkejut mendengar ada suaranya dan itu isi percakapannya tempo hari di ruangannya bersama Evelin.
"kurang ajar siapa yang mengirimi aku rekaman suara ini? apa evelin? Tidak tidak. Tidak mungkin orang yang sudah tiada bisa mengirim semua ini. Ini pasti kerjaan orang iseng." ujarnya sambil membanting Drive yang berisi rekaman suaranya.
"Aku tidak akan membiarkan orang lain merusak rencanaku."
Melinda menghubungi seseorang. " kalian harus berhati-hati. Ada orang yang ingin menghancurkan rencanaku. Kalian harus menyelidikinya dan bawa orang itu ke hadapanku." perintah Melinda kepada anak buahnya.
Melinda menjadi semakin tidak tenang. Dia mengirim pesan kepada papa Syam. Dia mengadu kalau ada orang yang sedang bermain-main dengan dirinya.
Syam membaca pesan dari putrinya. dia langsung bergerak menyelidiki siapa yang berani bermain-main dengan dia dan putrinya.
"Tinggal selangkah lagi. Aku tidak akan membiarkan semuanya terbongkar. Jika semua ini terbongkar. bukan hanya reputasiku juga akan tercoreng, tapi aku juga bisa kehilangan istriku." racau Syam.
Syam sadar betul kalau rencana terbongkar maka bukan reputasinya yang dia relakan, tapi juga keutuhan rumah tangganya juga akan hancur karena ulahnya.
"kalian segera cari siapa pengirimnya. Dan lenyapkan dia." perintah Syam kepada anak buahnya.
Syam dan Melinda sama-sama kejamnya. Mereka bukanlah orang yang memiliki sikap kemanusiaan. Meski dia sudah tau konsekuensinya berat. ambisinya untuk merebut hotel begitu besar sehingga membuat dia gelap mata.
Syam membantu Melinda untuk menyingkirkan orang-orang yang menghalangi rencana mereka.
Sedangkan seseorang yang berada jauh di sana sedang sibuk mempersiapkan rencana berikutnya.
.
.
Melinda meminta petugas cctv untuk melihat rekaman satu jam sebelum dia pergi ke kantin dan pergi ke ruangan Jonathan. Saat di buka dan mereka melihat rekamannya. Ternyata tidak ada satu orangpun yang menuju ke ruangan kerjanya.
"tidak mungkin. Bagaimana cara dia bisa meletakkannya di mejaku?" Melinda kembali berpikir.
Sunggu semua ini mengandung misteri. Melinda sangat cemas dan dia bahkan berulang kali menyetel rekaman CCTV tersebut. Dia masih penasaran siapa yang berani mempermainkan dirinya.
"Aku akan memancing dirimu untuk keluar dari persembunyian. Aku akan menangkapmu dan aku juga akan membuatmu mengaku."