Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 72 - Rasa cemburu itu masih ada.



Jonathan kembali bekerja dan menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda beberapa hari lalu karena berlibur.


"bawa seluruh berkasnya. saya akan periksa. lalu kamu segera buka area meeting. ada beberapa yang harus saya bicarakan dengan beberapa karyawan."


Jonathan yang maniak sekali bekerja. jika sudah bekerja bagaikan kuda yang tak mengenal kata lelah.


Jonathan juga tidak hanya mengurus pekerjaan. dia juga sedang mencari informasi seputar kejadian penculikan Tasya. dia tidak mau wanita licik itu bebas dengan sangat mudah.


...****************...


Dinniar yang dikejutkan oleh kehadiran Darius di rumahnya sepagi ini. membuatnya menjadi merasa risih. sebab dia juga melihat putrinya masih takut kepada Darius.


"Bawa Tasya ke dalam mobil dulu." Perintah Dinniar kepada baby sitter Tasya.


Tasya langsung dibawa dan kini Dinniar siap menghadapi Darius.


"ada apa kamu datang kemari pagi-pagi. apa setelah istrimu di penjara, kamu mulai merasakan kesepian? sehingga mendatangi rumah ini?" ketus Dinniar.


"Dinniar. aku kemari untuk menemui Tasya. tidak lebih." katanya sambil mengangkat kedua bahunya.


"oh, ya? kamu yakin? bukankah saat kemarin-kemarin bahkan jarang menemuinya? kamu kemari saat sudah menikah dengan wanita itu. bisa di hitung dengan jari." Dinniar semakin sewot.


"lantas apa aku tidak boleh memperbaikinya? aku bahkan ingin sekali jalan-jalan dengannya. aku dengar kamu pergi berlibur beberapa hari lalu?" tanya Darius


"benar sekali. aku sebagai seorang ibu yang mengerti kondisi psikologis putriku. jadi aku memutuskan membawanya berlibur dengan beberapa temanku." jelas Dinniar.


"teman? kamu yakin itu teman?" teriak Darius.


"apa maksudmu? kenapa kamu malah bicara bernada tinggi?" tanya Dinniar yang tidak suka dengan sikap Darius.


"Aku tahu, kamu pergi bukan hanya dengan sahabatmu. ada Jonathan juga di sana. apa dia teman kalian?" Darius menyentak Dinniar.


Dinniar tidak suka dengan sikap Darius yang seperti tadi.


Dinniar melangkah keluar rumah dan masuk ke mobilnya. dia langsung menancap gas dan tidak menghiraukan Darius lagi.


Darius hanya bisa melihat mantan istrinya pergi. hatinya masih sering terbakar api cemburu saat Dinniar bersama pria lain.


...****************...


"Rian, sepertinya kita harus memberikan kabar ini sekarang juga. agar Dinniar bisa menindak lanjuti kasus ini."


Jonathan dan Rian bersiap untuk menemui Dinniar. Jonathan tidak sabar untuk meminta Dinniar menerima lamarannya. walau putri Dinniar masih mengharapkan Dinniar dan Darius bersatu. namun, tidak ada salahnya dia mencoba kembali. seperti apa yang di katakan oleh keponakannya Alesya.


Jonathan datang menemui Dinniar di tempatnya bekerja. Dia sengaja kesana karena ada beberapa hal yang ingin dia bicarakan langsung mengenai penyelidikan.


"Hai. Silahkan masuk." Dinniar mempersilahkan Jonathan masuk ke ruang kepala sekolah.


"Maaf, aku menganggu kerjamu."


"Tidak apa, oh ya. Kamu mau minum apa?" Dinniar menawarkan minuman kepada Jonathan.


"Apa saja." Jonathan tersenyum.


Dinniar meminta pesuruh sekolah membuatkan minuman untuk tamunya.


"Jadi apa yang membuatmu datang kemari?" tanya Dinniar.


"aku ingin memberikan beberapa bukti untuk membenarkan kalau memang Cornelia yang menculik Tasya."


Jonathan mengeluarkan beberapa buktinya yang dia dapat dari hasil kerja anak buahnya.


Dinniar sangat terharu dan langsung memeriksanya. benar saja semua panggilan telepon, pesan singkat dan video CCTV yang di dapatkan ternyata Cornelia pernah menjumpai Tasya di rumah kosong itu. dan menurut pengakuan beberapa tetangga rumah kosong itu adalah milik Cornelia yang sudah lama tidak diisi.


"terima kasih banyak. bantuannya ini sangatlah berharga untukku dan Tasya. Cornelia harus mendapatkan hukuman setimpal agar dia merasakan efek jera."