
melihat sosok Raka yang berdiri sendirian di luar. Jonathan menghampirinya.
"bengong ajah. lagi mikirin apa?" tanya Jonathan sambil meledek anak muda yang dia kenal beberapa Minggu lalu.
"hai, om. ah, saya sedang tidak bengong kok. hanya sedang menikmati malam saja." jawabnya.
"kalau ajah om ajak Alesya. mungkin kalian bisa ngobrol-ngobrol." Jonathan melirik Raka.
"saya sama Alesya tidak terlalu akrab om. kamu malah sering kali bertengkar." jelas Raka sambil tersenyum kaku.
"kamu dan dia belum saling mengenal saja. nanti kalau sudah saling kenal juga akan nyaman."
kedua pria itu saling bertatapan dan bertukar senyuman. Raka yang tidak terlalu suka pesta memang sering kali menjauh dan hanya menikmati pemandangan di malam hari.
"Kalian kok bisa kayak kucing sama tikus gitu sih?" tanya Jonathan sambil terkekeh tipis.
"hmm. sebenarnya awal pertama masuk sekolah harapan. tidak sengaja hampir mau menabrak Alesya. hanya saja ...," Raka diam sejenak.
"Hanya saja saya mau untuk meminta maaf." lanjutnya dengan sedikit senyuman terpaksa.
"yah, itulah laki-laki. gengsinya lebih tinggi."
Jonathan lalu tertawa melihat sikap dari Raka. Jonathan tidak marah dengan cerita Raka yang hampir mau menabrak anaknya. dia malah salut dengan keberanian Raka mengakui kesalahannya. tak banyak pria yang mau mengaku meski dengan orang terdekat sekalipun.
"Udah enggak usah, terlalu dipikirin. nanti dia juga lunak sendiri. yang penting kamu tetap bersikap baik kepada dia." Jonathan menepuk-nepuk bahu anak muda yang masih bisa dibilang bau kencur itu.
Raka hanya bisa senyum-senyum saja. dia merasa punya teman untuk bercerita. dia senang ketika bertemu dengan Jonathan. sikap kebapakan Jonathan membuatnya nyaman dan lebih bisa terbuka. sikap Jonathan memang sangat jauh berbeda dengan sikap ayahnya yang selalu sibuk dan sibuk tanpa sedikitpun bertanya keadaan putranya.
"Aku ada urusan." Raka langsung menarik gas motornya dan melesat keluar dari gerbang.
"anak itu selalu saja susah kalau di kasih tau."
"Anak remaja seperti Raka. masih sangat butuh bimbingan dan pengarahan yang lembut. kalau dia keras dan kita keras maka hasilnya pun tidak akan kentara." Jonathan memberikan tips kepada rekan bisnisnya.
kedua orang tua Raka hanya tersenyum biasa saja tanpa menimpali. mereka tahu kalau Jonathan adalah orang yang sangat dekat dengan anak-anak.
"Pak jonathan. jadi apa anak kita sudah saling mengenal?" tanyanya dengan sangat hati-hati.
"hmmm ... sepertinya jika memang betul mereka sudah saling kenal. bagaimana kalau kita jodohkan keduanya. meski Raka terlihat ugal-ugalan. dia anak yang sangat penyayang dan juga bertanggung jawab. kadang saya takut kalau dia dikucilkan atau dijadikan bahan olok-olok karena tidak belajar full di sekolah.
Jonathan tersenyum setelah mendengar penuturan pria yang akan menjadi rekan bisnis.
"Terima kasih pak Jonathan. saya izin menemui tamu undangan lainnya."
melihat lawan bicaranya pergi. Jonathan kembali menghampiri Dinniar dan pembawa acara bercerita sedikit untuk menghibur sebelum menutup acara malam ini.
dipanggilnya Raka untuk maju di depan dan bernyanyi sambil memainkan gitar miliknya yang dihadiahkan untuknya.
menyanyi di depan dengan suara yang lembut membuat penonton ikut terhanyut dan bertepuk tangan yang meriah.
"masih muda, tampan dan sepertinya dia muoto talenta." puji Dinniar sambil terus menikmati lagu.