Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
BAB 3



Vote dan coment dulu ya..


Happy reading


🌈🌈🌈


Malam hari Silla tak bisa tidur nyenyak. Dirinya membolak - balik badan sedari tadi. Ia merasa kesal kemudian bangun dari tidurnya. Silla memutuskan untuk mengambil ponsel dimeja sebelah ranjang.


Panggilan masuk dari Britney membuat wanita itu menautkan alis nya heran.


"Kenapa?" Wanita itu to the poin tanpa basa - basi.


"Lo lupa? Semua nunggu lo di klab *****! Jangan - jangan lo takut?"


"Yee.. mana ada gue takut. Gue lupa."


"Tiga puluh menit lo nggak dateng tandanya lo pengecut!"


"Siapa takut! Gue kesana, tunggu gue."


Silla menuju walk in closet dan berganti pakaian. Wanita itu mengenakan tank top putih yang ditutupi oleh jaket denim dipadukan rok denim sepuluh centi diatas lutut.


Wanita itu mencangklongkan tas nya dan mengambil kunci mobil.


Saat ia turun, Silla berpapasan dengan bunda nya - Aegis.


"Bun, Silla keluar bentar ya."


"Mau kemana malem - malem?"


Silla menyengir menatap bundanya, "Biasa bun."


"Kurangin main ke klub, kamu anak cewek. Jangan minum terlalu banyak."


"Iya bun, Silla nggak sering kok. Yaudah Silla berangkat dulu."


"Jangan kemalaman."


***


Sesampainya di klub, Silla masuk begitu saja tanpa takut. Ia mencari keberadaan Britney dan kawan.


Bahu nya ditepuk, Silla menoleh ternyata itu adalah Lena, sahabat Britney.


"Ikut gue! Udah nunggu lo dari tadi."


Lena berbisik ditelinga nya mengingat musik yang diputar begitu kencang membuat telinga budek.


"Hm."


Silla berhadapan dengan Britney dan ketiga cewek lainnya. Tatapan Britney seperti mengejek dirinya. Ia tak ambil pusing.


"Sekarang mau lo apa?!"


"Gue mau ngasih tantangan buat lo. Kalau lo menang gue nggak akan ganggu abang lo lagi. Deal?"


"Deal." Jawab Silla tanpa pikir panjang. Matanya menatap tajam Britney, ia ingin mematahkan keangkuhan wanita pirang itu.


"Well, liat disana."


Britney menunjuk salah satu pengunjung yang duduk membelakangi mereka. Dari perawakan bisa Silla tebak jika ia jakung, putih dan pastinya tampan.


"Trus?"


"Gue mau lo cium cowok yang diujung sana."


"Easy."


"Kalau lo mampu, gue bakal jauhi abang lo yang cupu itu."


"Oke, gue pegang omongan lo."


Silla melangkah menuju pria yang dimaksud oleh Britney. Ia harus membuat pria itu menyerah dan dia akan menang. Wanita itu menanggalkan jaket denimnya menyisakan tank top putih ketatnya.


Tak ada sautan. Ah, mungkin suara musik terlalu kencang membuat semua orang budek seketika.


Wanita itu memutuskan untuk mencolek bahu pria itu dengan sensual. Pria itu menoleh. Mata nya melotot sempurna. Dengan segera ia berbalik meninggalkan pria tersebut.


Britney yang melihatnya tersenyum mengejek.


"Gue nggak bisa."


"Lo nggak fair. Lo harus nyelesaiin tantangan lo kalau lo nggak cuma omong doang."


"Lo gila. Dia dosen gue!"


Britney tertawa kencang begitu pula dengan ketiga antek nya Lena, Joya, dan Blown.


"Ini bukan kampus lo *****. You must kiss him right now!"


Britney mendorong Silla ke arah Louis yang masih membelakangi mereka.


"Oke stoped! I can try kiss him."


Silla gugup setengah mati. Ia takut Louis akan marah dan menambah hukumannya menjadi setahun. Untuk menghilangkan kegugupan nya Silla meneguk gelas dimeja. Rasanya pahit, ia tak pernah meneguk alcohol sebelumnya. Tapi, efek alcohol ini membuat dirinya lebih percaya diri dan tidak gugup.


Silla menegakan tubuhnya berjalan seerotis mungkin. Kakinya berjalan menyilang kanan dan kiri, walau dia hanya menggunakan sepatu kets namun tak masalah. Ia pasti bisa menaklukan monster satu ini.


"Sebentar lagi Silla, c'mon you can do it."


Saat jarak nya beberapa meter dari Louis, kakinya tersandung kakinya sendiri mengakibatkan dirinya jatuh.


Bruk.


Dia jatuh dipangkuan seseorang. Silla mendongak kan wajahnya. Wanita itu meringis dan menggelengkan kepala.


"Hai pak Louis."


"Jauhkan tangan kamu."


"Ta-tangan?"


Ia merasa sesuatu yang keras berada digenggamannya. Wanita itu menoleh. Ternyata ia memegang kejantanan dosen nya.


Langsung ia melepaskan tangannya merasa malu. Tapi ia kemudian berfikir jika ini saat yang tepat untuk menjalankan misi dari Britney sialan itu.


"Mon maap pak."


Cup.


Silla menempelkan bibirnya di bibir Louis. Louis menaikan alisnya. Hanya lima detik kemudian Silla melepaskan bibir nya dan akan berdiri. Louis menahan pergelangan tangan Silla, akibatnya wanita itu terhuyung kembali ke pangkuan Louis.


"Aw, pak." Pekik nya panik.


"Berani sekali kamu."


"Kan saya mi-minta maaf sebelum nya Pak. Kalau saya mencium bibir bapak."


"Mencium? Itu yang kamu sebut mencium? Saya akan tunjukan apa ciuman itu sebenarnya."


Louis memegang tengkuk Silla dan langsung ******* bibir ranum milik nya. Silla begitu terkejut secara tak langsung mulut nya terbuka. Louis menggunakan kesempatan ini untuk memasuki lidahnya dan bergerilya dirongga mulut Silla. Mengabsen seluruh inci mulut wanita itu. Silla memang pernah berciuman dengan mantan kekasihnya Edgar, namun ciuman milik Louis lebih memabukan. Ia tanpa sadar sudah mengalungkan tangannya ditengkuk pria itu.


Louis mengelus perut rata wanita itu. Sentuhan tangan Louis membuat tubuh Silla tersengat membuat gairah ditubuh Silla terbakar. Tangan Louis naik menuju dada wanita itu dan meremasnya dari luar. Silla melenguh merasakan sentuhan Louis yang memabukannya.


Louis melepaskan ciumannya memberi jeda Silla untuk menghirup oksigen. Mereka sama terengah - engah dalam gairah masing - masing.


"I want you." Suara serak Louis membuat Silla terhipnotis. Wanita itu dapat melihat tatapan gairah dari mata biru Louis.


"Jangan disini." Silla mengelus rahang Louis membuat Louis mengeram karena sentuhannya. Kemudian Louis tersenyum dan mengecup bibir wanita itu sekilas.


Pria itu mengangkat tubuh Silla dan membawa nya keluar dari klub. Menggunakan mobilnya. Kemudian sampai nya dihotel, wanita itu langsung dihempaskan keranjang begiu saja. Pria itu kemudian merangkak naik dan mencium kening Silla.


"Ini akan baik setelah ini. Percayalah." Pria itu meyakinkan Silla. Kemudian tanpa sadar Silla mengangguk menyetujuinya.


Setelah lama bergumul, akhirnya mereka mencapai klimaks nya. Silla terkulai lemas, Louis menyelimuti wanita itu dan mengecup bibirnya sekilas. Ini adalah permainan terhebat yang ia lakukan. Bahkan ia tak menggunakan pengaman saat bermain dengan nya.