
Dinniar dan sahabatnya, merencanakan untuk berlibur bersama. mereka semua ingin melepas penat karena hiruk pikuk beberapa hari lalu. Violin dan Samuel juga ikut serta meski kandungan istrinya sudah hampir menuju bulan lahir. Violin dan Samuel berpikir mereka untuk pergi sebelum disibukkan dengan semua tentang buah hati mereka nanti.
"Hai, Guys." Sonia menghampiri para sahabatnya.
Bali adalah tempat tujuan mereka untuk berlibur. Mereka sudah mempersiapkan segalahal untuk satu pekan bersama di bali.
"Gimana Villa yang kita akan tempati. Dari sini semua serba terjangkau. Rumah sakit hanya lima belas menit. Dikelilingi beberapa restoran ternama. dan yang paling penting adalah di sini viewnya sangatlah indah." Sonia yang mengatur perjalanan liburan mereka menjelaskan detail beberapa hal.
"Keren banget. Emang paling top kalau nyonya Sonia yang sudah turun tangan." Violin memuji sahabatnya itu.
Dinniar sejak tadi hanya bisa mendengarkan apa yang dikatakan oleh para sahabatnya. Dia bukan tidak bersemangat untuk pergi berlibur. Hanya saja ini liburan pertamanya tanpa seorang suami. Selama selesai persidangan cerai. Dinniar hanya menyibukkan waktunya untuk bekerja dan juga dia selesai bekerja langsung menghabiskan waktunya untuk Tasya. Bermain dengan Tasya dan mengajarkannya belajar. Membuat Dinniar cukup bahagia dan bisa melupakan kesepiannya.
"Hai."
"Hai, Jo." Samuel menghampiri sahabatnya.
Violin dan Samuel memang sengaja mengundang Jonathan untuk pergi berlibur bersama mereka. Tak hanya Jonathan saja, tapi Alesya juga turut berlibur bersama mereka.
"Halo, Bu Dinniar." Alesya menyapa Dinniar.
"Hai, Alesya. Kamu kok bisa ada di sini?"
Dinniar tidak menyadari kehadiran Alesya dan Jonathan. Saat dia mengedarkan pandangannya. Matanya terpaku kepada seseorang yang sudah tidak asing lagi di ingatannya.
Jonathan berjalan menghampiri mereka semua. Senyuma terus mengembang di wajahnya. Tak berapa lama Tasya yang menyadari kehadiran Jonathan langsung bangun dari sisi ibunya.
"Tasya." Jonatahn langsung menggendong Tasya.
Terlihat sekali keakraban yang sudah terbangun diatara mereka berdua. sudah seperti ayah dan anak saja. Dinniar yang melihat pemandangan itu membuatnya menjadi iba kepada putrinya sendiri. dia melihat kalau Tasya sedang merindukan sosok ayah yang seharusnya menemaninya.
"Tasya turun sayang. kasiha om Jo nanti keberatan."
tasya yang sudah semakin berisi tubuhnya pastilah di gendong akan berat. makanya Dinniar meminta putrinya untuk turun. Namun, bukan hanya itu saja. dia tidak mau putrinya terlalu tergantung dan terlalu dekat dengan Jonathan. Dinniar tidak mau nantinya timbul fitnah diantara mereka berdua, antara dinniar dan Jonathan.
"Tidak apa Din, Jonathan juga tidak keberatan menggendong Tasya. lagipula tidak setiap hari pula dia menggendong Tasya," ucap Violin seraya mengusap perutnya yang sejak tadi janin di dalam perutnya sangat aktif.
"Sayang. kamar kita sudah siap. Kamu istrirahat dulu." Samuel mengajak istrinya untuk istirahat terlebih dahulu.
Semua orang memaklumi hal itu. mereka saja yang tidak sedang mengandung merasakan lelah. apalagi ibu hamil yang sudah memasuki bulannya. bukan hanya merasakan lelah. dia juga merasakan tubuhnya yang sudah semakin tidak karuan rasanya.
Tasya yang sudah puas digendong oleh pria yang dia panggil dengan sebutan 'Om Baik', turun dan kembali ke pangkuan ibunya.
"om Baik, nanti kita main lagi ya." Tasya bicara dengan nada manja kepada Jonathan.
Senguman kembali mengembang di wajahnya, tapi senyuman itu kini lebih merekah lagi. Dia sangat senang saat bersama dengan Tasya.
"Kenapa anak ini seperti memberikan efort yang sangat luar biasa kepadaku?" batin Jonathan.
Mungkin saat ini, jiwa kebapakan yang Jonathan miliki sedikit demi sedikit sudah mulai terbangun dan sudah mulai bisa dirasakan.