Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 167 - Menang sebelum berperang



Jonathan mulai memikirkan beberapa cara untuk membuat jebakan terhadap cornelia. dia tidak akan pernah menyerah dengan keadaan yang dibuat oleh wanita licik seperti cornelia. dia akan membuat cornelia sadar sedang berurusan dengan siapa. dia akan membuat perhitungan yang sangat tepat untuk membalas setiap perbuatan cornelia terhadap keluarganya.


"Halo pak leo. saya sudah menemukan kendala yang membuat bapak merasa rugi. saya sudah mengurusnya dan akan menindak lanjuti kesalahan yang telah dibuat oleh anak buah saya. saya harap anda tidak membatalkan kerja sama kita, karena saya tidak mau kerjasama dan juga hubungan baik yang telah dibangun oleh kita pecah karena kesalahan yang diperbuat oleh perusahaan saya." jonathan dengan sangat hati-hati bicara dengan leo. dia tidak mau ada satu katapun yang dapat menyinggung rekan bisnis keluarganya itu.


Pak leo adalah salah satu orang yang sangat dekat dengan keluarganya, hubungan bisnis mereka sudah sejak lama terjalin. jonathan tidak mau karena ulah orang yang tidak bertanggung jawab merusak reputasi bisnis keluarganya dan juga dirinya.


menjaga reputasi bisnis itu sangat sulit terlebih lagi menjaga kepercayaan orang terhadap bisnis dan juga terhadap dirinya Jonathan bukanlah seorang pembisnis kelas ikan teri yang bisa dan mudah dihancurkan oleh orang lain.


"cepat kalian semua cari mengenai Siapa orang yang menyuruh dia melakukan hal ini. Saya mau hari ini juga mendapatkan informasi terkait hal ini. jika dalamnya adalah Cornelia juga maka dia akan hancur di tanganku."


pria yang begitu lembut dan sangat bersahaja bisa menjadi seorang preman yang begitu sangar dan begitu ganas karena sesuatu hal yang ia miliki Dan ia jaga telah diusik.


"bermain-main denganku sama saja menggali kuburannya sendiri. Cornelia kamu berani masuk ke dalam kandang seekor harimau. jadi kamu seharusnya sudah siap jika diterkam olehnya." gumam Jonathan.


Jonathan sudah sangat siap bermain-main dengan Cornelia. dia yang belum memulai peperangan saja sudah menang tiga langkah di depan Cornelia.


...****************...


Cornelia melihat aplikasi yang ada di ponselnya dan dia terkejut karena tidak ada satupun kamera yang berfungsi yang menunjukkan gambar dari keluarga Jonathan.


"kenapa kameranya tidak berfungsi? Apa saja yang mereka lakukan di sana? apakah mereka tidak memeriksa kalau ada kendala?"Cornelia terdengar begitu kesal dari nada bicaranya.


dia mencoba menghubungi beberapa anak buahnya. dia ingin menanyakan kenapa sampai tidak ada satu gambar pun yang terlihat di kamera ponselnya. karena Darius juga sedang tidak ada di rumah pergi bekerja. Cornelia akhirnya membuka laptop miliknya untuk melihat dan mengecek Ada apa sebenarnya.


"Kenapa di sini juga tidak terlihat. Kenapa juga mereka tidak ada yang mengangkat panggilan teleponku. sedang apa saja mereka di sana? apa Jonathan sedang memberikan mereka tugas? kalau memang iya seharusnya mereka melapor padaku tentang tugas apa yang sedang diberikan oleh Jonatan kepada mereka semua, tapi tidak ada satupun yang menghubungiku sejak kemarin."


Cornelia dibuat kelimpungan sendiri. dia tidak tahu harus menghubungi siapa karena keempat anak buahnya sudah ia taruh semua di dalam rumah Jonathan. sedangkan dua anak buah lainnya sedang berada di dalam perusahaan Jonathan.


"hah ke mana mereka semua!" teriaknya sambil memijat dahinya.


kesal dengan kondisi yang ada Cornelia kembali mengalami stres dan dia mengalami kram di perutnya yang sangat hebat.


"ah kenapa perutku sakit lagi? kemarin perutku sudah reda dan baik-baik saja. tapi kenapa Hari Ini perut ini terasa begitu sakit lebih dari yang kemarin." keluhnya kepada diri sendiri.


karena merasa perutnya semakin sakit Cornelia pergi ke kamar mandi dan melihat kondisinya dan benar saja ada sedikit cairan merah yang keluar dan berbekas di celananya.


"apa aku akan kehilangan anak ini?"tanya Cornelia pada dirinya sendiri lagi.


dengan cepat dia keluar dari kamar mandi dan mengambil kunci mobil serta tasnya. iya langsung pergi ke dokter yang biasa ia kunjungi.


Cornelia Manggarai mobilnya dengan sangat cepat karena ia tidak ingin perutnya kembali merasakan sakit.


dia berkendara dalam keadaan kondisi perutnya sudah sedikit reda sakitnya. Cornelia tiba di sebuah rumah sakit besar ibu dan anak.


dia langsung masuk dan mencari ruangan dokter kandungan yang memeriksanya.


"Bu tunggu dulu Ibu harus mendaftarkan diri dulu baru bisa masuk ke dalam ruangan dokter setelah kami memanggil nama ibu." suster berusaha mencegah Cornelia untuk menerobos masuk ke dalam ruangan dokter.


"saya harus segera menemui dokter dan memeriksakan kandungan saya. tidak ada untuk mendaftarkan diri dan menunggu. perut saya sangat sakit suster." Cornelia berteriak hingga orang-orang di sekitarnya menatapnya.


"tapi Bu Ibu tunggu dulu karena masih ada pasien lain di dalam yang sedang dalam masa pemeriksaan. tidak bisa main menerobos begitu saja. bisa memarahi kami karena membiarkan ibu masuk tanpa seizin kami dan seizin dokter." cegah suster itu lagi.


Cornelia tidak peduli dengan ocehan suster yang ada di hadapannya dia langsung mendobrak pintu dan melihat ada sepasang suami istri yang sedang memeriksakan kandungan istrinya.


"dokter tolong saya perut saya sakit sekali dan saya mendapati bercak darah di celana saya." cerita Cornelia.


"suster tolong bawa bu karena dia ke ruangan sebelah saya akan segera menyusul." perintah dokter kepada suster yang tadi melarang Cornelia masuk ke dalam.


"baik dokter saya akan membawa Ibu Cornelia keuangan sebelah."


suster langsung menuntun Cornelia masuk ke dalam ruangan sebelah untuk pemeriksaan lebih lanjut. Cornelia merebahkan dirinya di atas ranjang rumah sakit.


"Ibu tunggu dulu di sini dokter akan segera memeriksa ibu."


"baik suster terima kasih."


suster meninggalkan Cornelia sendirian di ruangan perawatan ibu hamil dalam tindakan lanjut.


"suster tolong panggilkan dokter pengganti dulu untuk saya karena saya akan memeriksa kondisi Ibu Cornelia." dokter tiba di depan pintu ruangan setelah suster menutup pintu itu.


"baik dokter Saya akan meminta dokter yang lain untuk ibu hamil yang selanjutnya." suster itu langsung pergi dari hadapan dokter dan memanggil dokter lain untuk meneruskan tugasnya.


dokter kandungan masuk ke dalam ruangan di mana Cornelia berada. dia menyiapkan beberapa alat sebelum pemeriksa Cornelia.


"sejak kapan Ibu merasakan sakit?"tanya dokter kepada Cornelia.


"Saya merasakan sakit sejak 2 hari yang lalu. sebelumnya hanya terasa keram dan sakit sedikit tapi dua hari lalu itu perut saya terasa mulas seperti melilit. saat itu memang ada sedikit flek yang keluar tapi saya tidak menghiraukannya karena sebelumnya juga pernah terjadi hal itu. tapi hari ini sedikit banyak keluar. saya merasa takut makanya saya mengunjungi dokter. maaf kalau tadi saya menerobos langsung ke dalam ruangan dokter." Cornelia merasa tidak enak kepada dokter.


"tidak apa-apa Ibu Cornelia. maklum Ibu pasti sangat khawatir dengan janin yang ada di dalam perut ibu. memulai pemeriksaannya Ibu harap tarik nafas dalam-dalam. ya keluarkan perlahan nafasnya." dokter memasukkan alat USG ke dalam ******** Cornelia. karena dengan alat itulah ia bisa melihat langsung kondisi janin.


"Ibu Cornelia Ibu bisa lihat di layar monitor. bisa dengar detak jantungnya tidak ada lagi. Saya turut berduka cita atas kehilangan janin ibu." dokter menghentikan USG.


"tidak dokter tidak mungkin saya kehilangan janin saya. tidak mau kehilangan dia dokter. mohon dokter periksa sekali lagi. pasti ada kesalahan pada alatnya. anak saya tidak mungkin meninggal dunia." Cornelia menitikkan air matanya.


dokter merasa kasihan kepada Cornelia karena kondisinya. tambah ini adalah anak pertamanya. sudah pasti anak pertama adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh kedua orang tuanya terutama oleh sang ibu. namun sayangnya Cornelia tidak bisa melihat janin itu berkembang menjadi seorang bayi dan lahir ke dunia untuk menyapanya dan hidup bersamanya.


Cornelia begitu terpukul dengan keadaan yang ada. dia tidak bisa menerima kenyataan ini begitu saja. yang meminta dan memohon berulang kali kepada dokter untuk kembali memeriksakan kondisi kandungannya. dokter sudah menyatakan untuk yang kedua kalinya bahwa janin itu tidak lagi berdetak dan harus ada tindakan lanjut.


"maaf ibu Cornelia kita harus pergi ke ruangan operasi. Anda harus melakukan kuret. karena jika janin itu tidak dikeluarkan akan berakibat fatal untuk kesehatan anda." kata dokter memperingati Cornelia.


dokter tidak bisa menunda proses kuret. karena janin yang ada di dalam perut Cornelia sudah tiada sejak dua hari yang lalu. hal itu sedang menandakan kalau bisa terjadi hal buruk kepada Cornelia.


"Saya tidak mau bayi ini dikeluarkan dokter. saya mau tetap mengandungnya. ya pasti bisa kembali kepada saya dokter. dia pasti bisa kembali hidup. hidupkan anak saya lagi dokter saya mohon."


begitu menyakitkan kehilangan seorang anak. hal ini terasa seperti karma bagi Cornelia. yang selalu menyakiti dan bersikap buruk kepada anak-anak Dinniar seakan sedang menerima balasan.


dokter meninggalkan Cornelia sendirian untuk lebih tenang. dokter memberikan waktu 2 jam untuk Cornelia agar dapat berpikir.


"lihat ini. kepergian anakku tidak akan sia-sia. kepergian anakku akan semakin menguatkanku untuk menghancurkanmu Cornelia. Aku tidak akan pernah membiarkan dirimu tenang dan bahagia bersama keluargamu. karena ketika aku menderita kamu juga harus menderita lebih dari apa yang pernah aku rasakan saat ini. dulu kau mengabaikanku dan itu membuatku semakin yakin untuk membalaskan dendamku. Aku kehilangan anakku maka kamu juga harus kehilangan keluargamu."


entah mengapa Cornelia tidak pernah mengaca kepada dirinya sendiri. dia selalu menyalahkan orang lain dalam kondisi yang dia alami. saat ini saja dia Tengah menyalahi Dinniar dan keluarganya.


setelah mendapatkan sebuah pukulan yang keras dia masih tidak sadar diri. ya bahkan ingin lebih menghancurkan kehidupan yang sedang dijalani oleh Dinniar. padahal dia tidak pernah dijahati oleh Dinniar selama ini. semua yang terjadi kepada dirinya adalah atas perbuatannya sendiri. Sayangnya dia tidak pernah mau mengakui kesalahannya. dia hanya akan menyalahkan orang lain yang sedang dibencinya.