
Dinniar pergi bersama dengan Tasya ke kantor Darius. Mereka sangat senang dan bersenandung sepanjang jalan.
Tasya juga asyik mengeja papan iklan yang ada di sepanjang jalan menuju kantor papinya.
"Mih, nanti sampai di kantor Papi. Kita ajak Papi ke restoran Jepang ya. Aku pengen makan ramen." Tasya bicara dengan antusias.
"Siap sayang. Kita ajak Papi makan bersama ya."
Dinniar kembali fokus ke depan untuk menyetir mobilnya.
.
.
Darius menemui sekretarisnya dan berbisik sesuatu.
"Sayang ayok, jangan lama-lama." Cornelia sudah menarik-narik tangan pria yang dicintainya.
Darius kemudian pergi bersama kekasih gelapnya. Mereka sudah merencanakan kencan romantisnya di sebuah tempat yang banyak di datangi pasangan kasmaran.
"Silahkan ratuku." Darius membukakan pintu mobil.
Cornelia senang diperlakukan seperti ratu oleh Darius. Dia masuk ke dalam mobil dan di susul oleh Darius.
Di dalam mobil mereka seperti pasangan anak muda yang sedang dilanda cinta yang menggebu.
Darius terus perlakukan Cornelia bak ratu sepanjang perjalanan menuju suatu tempat.
.
.
Tasya turun dari mobil dan langsung menarik tangan maminya agar mereka sampai secepatnya ke ruangan kerja papinya.
"Tasya sayang perlahan, Nak." Dinniar mengikuti langkah putrinya dengan cepat.
Mereka sampai di depan meja sekretaris Darius. Dan mereka disambut kedatangannya.
"Saya mau bertemu Pak Darius." Dinniar dan Tasya berdiri sejenak di depan meja.
"Maaf Bu. Pak Darius mendadak ada meeting keluar kota selama satu hari. Kemungkinan besok sore beliau akan kembali pulang ke Jakarta." Sekretaris itu tersenyum penuh kebohongan.
Dinniar sudah mengetahui kalau sekretaris suaminya berbohong. Dia tidak bisa memarahi wanita itu karena memang dia tidak bersalah. Dia hanya diperintah suaminya.
"Sayang. Papi lagi sibuk. Sekarang sebaiknya Tasya dan mami pulang dulu ya ke rumah." Dinniar mensejajarkan posisinya dengan tinggi putrinya.
"Mami, kenapa Papi pergi ke luar kota enggak bilang-bilang kita?" tanya Tasya dengan polosnya.
Dinniar tidak bisa menjawab pertanyaan dari putrinya. Diapun tidak mengerti kenapa suaminya semudah itu meninggalkan mereka berdua dan pergi dengan wanita pujaan hatinya yang lain.
Dinniar berusaha kuat, dia harus tegar dan berusaha menutupi pengkhianatan suaminya. Agar putrinya tidak membenci Papinya.
"Sayang, Papi sepertinya sedang terburu-buru jadi tidak sempat pamit sama kita." Dinniar berusaha menahan tangisnya.
"Ya udah kita pulang ajah. Tunggu Papi di rumah saja." Tasya akhirnya mengajak maminya pulang.
Dinniar menggandeng tangan putrinya erat. Dia menahan sakitnya hati, menahan agar tidak menitikkan air matanya.
.
.
Darius dan Cornelia sampai di bandara. Darius yang sudah memesan tiket penerbangan melalui online.
Mereka menaiki pesawat segera. Darius sudah tidak sabar untuk melepas rindu.
"Sayang. Nanti sampai di sana kita belanja dulu baru booking hotel." Cornelia bicara sambil menempel manja.
"Aku sudah booking hotel juga sampai besok."
"Kamu udah booking? Tapi kenapa cuma sampe besok?" Protesnya.
"Aku tidak bisa meninggalkan Dinniar dan Tasya terlalu lama. Itu bisa meninggalkan curiga bagi mereka." Darius menjelaskan alasannya.
"Kapan kamu mau menikahi aku?" tanya Cornelia sambil menatap wajah Darius dari samping.
"Secepatnya. Aku belum bisa bicara dengan Dinniar. Aku tidak tahu apakah dia siap di madu." Darius membalas tatapan kekasihnya.
Darius sangat menyukai Cornelia. Dia berharap istrinya mengizinkan dirinya berpoligami.
.
.