
Dinniar memarkir mobilnya. Dia sekarang selalu menggunakan mobil ketika berangkat bekerja. Karena membawa Tasya bersamanya. dia takut terjadi sesuatu hal di luar kendali saat membawa Tasya menggunakan motor kesayangannya.
Setelah keluar dari mobilnya Dinniar memerintahkan Tasya untuk mengganti pakaian dan bergegas untuk istirahat.
"Bu, tadi omma berpesan kalau sudah sampai di rumah segera hubungi beliau."
"Terima kasih Bi, informasinya. Tadi mama berangkat jam berapa dari rumah?" tanya Dinniar sambil menuang air ke dalam gelasnya.
"Sekitar jam sepuluh. Mungkin sekarang sudah sampai di Bandung."
Dinniar mengeluarkan ponselnya dari dalam tas kecilnya. Dia segera mencari nama mamanya untuk dihubungi.
"Halo mah, ada apa mah?"
Dinniar berbincang-bincang melalui telepon bersama dengan mamanya. Pembicaraan yang sangat serius dan sering kali membuat Dinniar mengerutkan dahinya dan memijat-mijat dahinya.
"Baik mah. Besok Dinniar akan segera ke Bandung."
Dinniar menyudahi panggilan teleponnya dan langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Di dalam kamar sepertinya Dinniar banyak sekali yang sedang dipikirkan. dia berdiri di balik jendela sambil menatap jauh.
*Dunia sepertinya tak hentinya mendorongku kedalam urusan percintaan. Disaat hati ini sedang berusaha menyembuhkan luka dan ingin berdamai dengan semuanya. Dia sudah menyiapkan sosok yang akan mengisi relung hati yang sudah lama kosong ini.
Aku bukan tidak ingin membuka hati untuk mereka para lelaki. Aku hanya masih ingin berdamai dengan keadaan. Aku belum siap menjalin cinta dengan siapapun terlebih mereka orang asing yang belum aku kenal sebelumnya. Mama juga seakan tidak mengerti perasaanku saat ini. Aku tahu mama tidak ingin mas Darius mengganggu dan mengusik hidupku lagi, tapi apa harus dengan cara seperti ini? dan siapa sosok pria yang akan mama kenalkan denganku*?
Dinniar terus menatap jauh sambil bicara dengan dirinya sendiri. Perasaannya kini sedang kacau setelah menghubungi mamanya yang berencana menjodohkan dirinya dengan seorang pria.
Dinniar menutup gorden jendela kamarnya karena hari sudah gelap. tak terasa dua jam sudah dia termenung di balik jendela kamar.
Tok Tok Tok
"Ya, masuk."
"Bu, maaf. Makan malam sudah siap. Non Tasya juga sudah menunggu."
"Ya, bi. Nanti saya turun. Saya mandi dulu."
Setelah asisten rumah tangganya menutup pintu kamar, Dinniar langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
...****************...
Darius kembali ke rumahnya dalam keadaan yang sangat kacau. Bau alkohol tercium jelas dari tubuhnya. Susi yang mendapati kelakuan putranya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Darius, kamu ini benar-benar merusak hidupmu sendiri. Sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Dinniar. sekarang kamu juga menyia-nyiakan dirimu sendiri seperti ini. Seharusnya kamu berkaca diri Darius. benahi dirimu dan perbaiki semua kesalahanmu." Susi tak kuasa melihat keadaan putranya yang hancur karena perbuatannya sendiri.
Susi membawa Darius ke dalam kamar dan merebahkan tubuh putranya di kasur. Dia melepas sepatu dan kaos kaki serta jas yang dipakai oleh putranya.
Dengan tangan bergetar dia menyentuh wajah putranya yang sangat dia sayangi. Hatinya sebenarnya hancur ketika dirinya harus memarahi dan meneriaki putranya sendiri. Dia tidak tahu kenapa bisa putranya begitu bodohnya telah menyia-nyiakan seorang wanita sebaik dan sebijak Dinniar.
"Jangan pernah lagi mengambil keputusan yang salah. Ibu mohon kepadamu. Kembali kepada Cornelia yang sedang mengandung anakmu. Jangan lagi sia-siakan wanita yang mencintaimu nak." Susi semakin sesak dadanya. Wajahnya sudah memerah karena terus menangis.
...****************...
Alesya sedang asik mempersiapkan segala sesuatunya untuk dia pergi kesuatu tempat bersama dengan pamannya.
"Sudah siap semua tuan putri?" tanya Jonathan yang mengintip dari celah pintu.
"Sudah dong om. Semua sudah siap dan sekarang aku tinggal bobo dan besok kita berangkat."
Alesya sangat senang ketika Jonathan dan Omanya memberitahukan mereka akan pergi kesuatu tempat.
"Kita emangnya mau kemana sih Om?" tanya Alesya yang sejak tadi penasaran dengan tujuan mereka.
"Udah pokoknya kamu enggak usah banyak tanya. yang jelas kita akan pergi ke suatu tempat yang bikin kamu bahagia." Jonathan menyentuh kecil pangkal hidung keponakannya itu.
...****************...
Dinniar mempersiapkan segala keperluan Tasya. Dinniar juga sudah siap untuk pergi ke suatu tempat.
"Mih, kita mau kemana?" tanya Tasya dengan gaya bocahnya.
"Kita pergi ke rumah Oma. Oma minta kita liburan sebentar di sana." Dinniar menjawab sambil menata rambut putri cantiknya.
"Wah, asik dong. Berarti aku bisa main-main di rumah Oma. Tasya seneng banget main ke rumah Oma. Tasya juga kangen sama nenek. Udah lama nenek enggak main ke rumah kita."
"Nanti kita ketemu ya sama nenek. Sekarang kita ke rumah Oma dulu." Dinniar selesai menata rambut putrinya.
"Oke mami." Tasya kembali ceria.
Dinniar senang sekali melihat putrinya kembali ceria dan tidak lagi bersedih. Memang sudah beberapa bulan ini Tasya tidak bertemu neneknya. berbeda dengan Dinniar yang sudah bertemu dengan ibu mertuanya beberapa hari lalu. dan dinniar tahu kalau ibu mertuanya tinggal di rumah mantan suaminya.
"ayo, kita berangkat." Dinniar menuntun putrinya dan keluar dari kamar sang buah hati.
"Sudah siap semua, Bu." Tutur bibi.
"Bi, saya pergi dulu. bibi di rumah sendiri tidak apa kan?" tanya Dinniar.
"Tidak apa-apa, Bu. ibu dan non Tasya hati-hati ya." bibi mencubit kecil pipi Tasya.
"Kamu jagain non Tasya yang bener. jangan sampe lengah." pesan bibi kepada baby sitter Tasya.
"tenang ajah atuh, bi." senyumnya.
Dinniar pergi bersama anak dan juga baby sitter Tasya. Mereka pergi ke Bandung menggunakan kendaraan beroda empat milik Dinniar.
"Non Tasya seneng gak pergi ke rumah Oma?"
"Seneng dong. Di sana Tasya udah punya temen namanya Rara dan Nindi. ada juga Nanda saudara kembarnya Nindi, dia cowok." Tutur Tasya.
Dinniar yang mendengarkan perbincangan antara anak dan baby sitter hanya bisa senyum-senyum sendiri. dia senang beberapa hari ini kondisi Tasya berangsur membaik. Bahkan Tasya sudah jarang mengigau kejadian yang pernah menimpanya.
Tasya, Dinniar dan baby sitternya bernyanyi sambil menikmati perjalanan mereka.
Lagi ciptaan Dinniar
*Kalau hati senang ucap Alhamdulillah, kalau hati resah ucap astaghfirullah.
Setiap saat kita harus ingat Allah SWT. Jangan banyak mengeluh, itu tidak baik bagimu. Lihatlah sekelilingmu dan bersyukurlah.
Manusia yang bersyukur dan beriman kepada Allah senantiasa selalu bahagia dan damai*.
Mereka menyanyikan lagu itu. lagu yang diciptakan Dinniar untuk mengingatkan kepada Tasya bahwa segala sesuatunya harus karena Allah dan bersyukur selalu.
Tidak terasa mereka sudah sampai di rumah yang mereka tuju.
"Alhamdulillah kita sampai di rumah Oma."
Tasya dengan cepat membuka pintu setelah mengetahui maminya sudah membuka kunci mobil.
"Non Tasya tunggu." Teriak baby sitternya.
"Bu saya susul non Tasya dulu. baru saya turunkan barang-barangnya."
Dinniar mengangguk. Dia tersenyum senang melihat putrinya yang sangat antusias saat sampai di rumah Omanya.
...****************...
Jonathan dan keluarganya sampai di sebuah hotel. Mereka langsung menuju lokasi kamar hotel yang sudah di sewa oleh Jonathan.
"Om, kita ke Bandung ada acara apa?" tanya Alesya.
"Anak kecil, udah ikut ajah. jangan banyak tanya." Cubit gemas Jonathan di hidung Alesya.
"Aaah, enggak seru. Dari semalem mainnya rahasia terus. Aku sebel jadinya." Alesya menunjukkan protesnya.
Alesya cemberut karena sejak kemarin dia tidak mengetahui apapun. Kemana akan pergi dan tujuannya apa.
"Udah lebih baik kamu masuk kamar sama eyang. Kita istirahat dulu. Nanti sore kita akan pergi mengunjungi rumah teman eyang."
Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing. Jonathan membuka koper kecil miliknya dan mengeluarkan kotak berbentuk persegi yang sudah dia pesan khusus. Dibukanya kotak itu dan dipandanginya benda kecil yang berkilau.
"Semoga kamu suka. dan semoga kali ini kamu mau menerimaku. Aku ingin memilikimu sebagai pasangan halalku. Aku mau kamu menjadi teman hidupku."
Jonathan menutup kembali kotak kecil itu dan menyimpannya di meja. Dia melepas pakaiannya dan bersiap untuk istirahat sebelum menghadapi momen pentingnya.
Jonathan ingin memberikan kejutan untuk keponakannya. Dia ingin mewujudkan keinginan keponakannya sekaligus mewujudkan impiannya untuk meminang wanita yang dia cintai dan dia nanti.
Sudah sejak lama dari dia mengungkapkan perasaannya. Sang wanita tidak kunjung memberikan jawaban apapun. Sehingga dia bertindak lebih jauh dan tidak di sangka kalau orang tua mereka saling berteman selama ini dan dia tidak tahu akan hal itu.